“Tubuh Tanpa Negara” (Catatan Sunyi dari Mereka yang Hidup di Luar Peta dan Hukum)
1. Negara yang Terselip di Saku Orang Lain
Aku menyimpan negaraku di saku,
tapi seseorang mencurinya saat aku tidur.
Ketika aku terbangun,
yang tersisa hanya tubuh
tanpa kewarganegaraan.
/tyn/
2. Visa yang Tak Pernah Lahir
Aku dilahirkan dua kali:
sekali oleh ibu,
sekali oleh kebutuhan.
Tapi visa itu
tak pernah sempat menjadi takdir,
hanya menjadi alasan
mengapa aku tak dilindungi.
/tyn/
3. Tubuh Tanpa Hukum
Di negeri ini,
tubuhku tidak termasuk dalam undang-undang.
Ia berjalan, bekerja, berdarah,
tapi tak pernah tercatat sebagai luka.
/tyn/
4. Bayangan yang Dilarang Pulang
Aku adalah bayangan
yang bekerja lebih keras dari tubuh.
Tapi ketika ingin pulang,
gerbang berkata:
“Bayangan tidak punya alamat.”
/tyn/
5. Peta yang Menghapusku
Aku mencari diriku di peta dunia,
tapi garis-garis itu menolak namaku.
Aku ada di antara negara,
tapi tak diakui oleh keduanya.
/tyn/
6. Rumah yang Tidak Mengingatku
Rumahku di kampung
mulai lupa wajahku.
Negaraku di sini
tak pernah ingin mengenalku.
Aku hidup di antara dua lupa.
/tyn/
7. Kontrak yang Tak Pernah Ditulis
Aku bekerja dalam kesepakatan diam,
tanpa tinta, tanpa saksi.
Jika aku jatuh,
tak ada yang bisa membaca penderitaanku
sebagai pelanggaran.
/tyn/
8. Laut yang Menolak Mengembalikan
Jika aku tenggelam,
laut tidak akan mengembalikanku.
Karena bahkan negara
tidak pernah benar-benar mengirimku.
/tyn/
9. Bahasa yang Menjadi Jeruji
Aku berbicara,
tapi kata-kataku berubah jadi debu
sebelum sampai ke telinga hukum.
Bahasa menjadi jeruji,
dan aku terkunci di dalamnya.
/tyn/
10. Identitas yang Dihapus Perlahan
Namaku hilang dari daftar,
wajahku hilang dari ingatan negara.
Aku masih hidup,
tapi hanya sebagai kesalahan administratif
yang dibiarkan bernapas.
/tyn/