Suara Migran Nusantara Logo
OPINI

Korupsinikus: Sisi Gelap dan Terang Selalu Berjalan Bersama

https://algivon.id/2026/04/17/horor-dan-bikin-sedih-curhat-pmi-di-negeri-sakura/  ·    Admin2 · 
Sumber: https://algivon.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260417-WA0002.jpg
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Esai Satire: Harri Safiari

Bandung – Pada sebuah sore yang murung di bulan April 2026, Korupsinikus duduk menatap langit dengan wajah kusam. Mukanya seperti lembar pertanggungjawaban yang terlalu sering direvisi. Di sampingnya, Rubi sedang menyeruput kopi pahit—kopi yang rasanya kalah pahit dibanding keadaan negeri.

“Bang,” kata Rubi sambil menyodorkan telepon genggam, “lihat ini. Ada anak muda Indonesia curhat dari Jepang. Namanya Rezamahesa789.”

Korupsinikus menerima ponsel itu perlahan. Biasanya ia hanya tertarik pada angka-angka proyek dan rumor pembagian jatah. Tapi kali ini, yang muncul di layar bukan peluang, melainkan luka.

Judul videonya sederhana, tapi menampar:

Ke Jepang itu enaknya liburan, bukan kerja. Orang Jepang juga stres.

Di layar tampak seorang pemuda berbicara sambil menahan letih yang tak bisa disembunyikan filter mana pun. Ia bekerja di restoran di Jepang. Baru beberapa bulan, tetapi matanya seperti orang yang sudah terlalu lama bertarung dengan hari.

Ia bercerita tentang tekanan kerja. Tentang rasa malu bila menganggur. Tentang tuntutan bila bekerja. Tentang salah sedikit lalu dimarahi, sambil main fisik terkadang. Tentang hidup yang bergerak cepat, sementara jiwa manusia tak selalu sanggup berlari secepat mesin.

Korupsinikus terdiam.

Untuk pertama kalinya ia melihat negeri maju dari sudut yang tak pernah masuk brosur wisata.

Biasanya orang mengenal Jepang dari bunga sakura, kereta cepat, jalan bersih, dan teknologi yang nyaris tanpa cela. Tapi pemuda itu memperlihatkan sisi lain: kamar sempit, beban pikiran, jam kerja panjang, dan sepi yang menggigit.

Ia juga menunjukkan kawannya, si Eta, yang mondar-mandir di belakang kamera. Gelisah seperti orang yang pikirannya tak menemukan kursi untuk duduk.

“Dia stres,” kata pemuda itu. “Kadang judi, kadang minum.”

Begitulah manusia. Ketika tak tahu harus pulang ke mana, ia sering mampir ke tempat-tempat yang salah.

Lalu ia bicara tentang gaji. Jika dirupiahkan, terdengar besar. Cukup untuk membuat tetangga di kampung mendadak hormat. Namun biaya hidup di sana juga besar.

Kos, makan, asuransi, transportasi, cicilan biaya keberangkatan—semuanya menunggu seperti antrean tagihan yang tak punya belas kasihan.

Angka yang tampak mewah di media sosial, sering kali hanya cukup untuk tidak tenggelam.

Yang paling menyayat justru bukan soal uang.

“Ibu saya keluar biaya sekitar enam puluh juta,” katanya. “Harus saya balikin.”

Rubi menunduk.

Di negeri ini, terlalu banyak ibu menjadi bank terakhir anak-anaknya. Menjual perhiasan, meminjam ke saudara, menggadai harapan, agar anak bisa pergi mencari masa depan. Lalu anak itu di negeri orang belajar satu hal: masa depan kadang dijual terlalu mahal.

Namun dari semua kalimat, ada satu yang terdengar paling bening:

Untung saya masih punya iman.

Korupsinikus menghela napas panjang.

“Di zaman sekarang,” katanya, “iman kadang lebih mahal daripada yen.”

Rubi mengangguk.

Sebab ketika tenaga habis, ketika teman tak ada, ketika gaji tinggal sisa, ketika kepala penuh suara-suara gelap—yang tersisa sering hanya keyakinan kecil bahwa hidup masih layak diperjuangkan.

Tetapi hidup memang tak pernah hitam sepenuhnya, juga tak pernah putih seluruhnya.

Jepang tetap negeri dengan banyak terang: disiplin, rasa aman, ketepatan waktu, kesempatan belajar, penghargaan pada kerja keras. Banyak pula pekerja migran yang berhasil, pulang membawa tabungan, pengalaman, dan martabat baru.

Namun di setiap tempat yang bercahaya, selalu ada bayangan. Lampu kota yang gemerlap justru membuat gelap tampak lebih pekat.

Begitu pula negeri kita.

Di sini orang bisa tertawa di warung kopi meski dompet tipis. Bisa pulang ke rumah ibu meski gagal berkali-kali. Bisa nongkrong tanpa janji temu. Bisa hidup semrawut tapi akrab.

Namun di sini juga ada pengangguran, upah yang seret, korupsi yang rakus, dan masa depan yang kadang seperti jalan rusak: ada, tapi penuh lubang.

Korupsinikus berdiri. Menatap jauh ke arah senja.

“Jadi mana yang lebih baik, Bang?” tanya Rubi.

Korupsinikus tersenyum pahit.

“Tak ada negeri tanpa luka. Yang berbeda hanya cara menutupinya.”

Rubi terdiam.

“Di tempat maju,” lanjut Korupsinikus, “lukanya dibungkus rapi. Di tempat kita, lukanya kadang diumumkan lewat pengeras suara.”

Mereka tertawa kecil. Tawa yang lahir bukan karena lucu, tetapi karena manusia sering tak punya cara lain untuk bertahan.

Lalu Korupsinikus menambahkan, pelan:

“Kalau ingin pergi ke negeri orang, pergilah dengan ilmu, mental, dan mata terbuka. Jangan hanya membawa mimpi. Sebab mimpi yang dibawa terlalu polos, sering pulang menjadi trauma.”

Ia menatap ponsel itu sekali lagi.

“Dan sampaikan pada anak-anak muda itu… jangan gampang bundir. Dunia ini memang kejam, tapi sesekali masih menyediakan alasan untuk besok.”

Sore pun turun perlahan.

Di langit, cahaya dan gelap kembali berbagi tempat—seperti biasa.

berita Buruh migran CPMI iran Jepang KP2MI migran pekerja migran Pengangguran PMI
Berita Terkait
Tubuh yang Hilang di Perbatasan: Warga Negara, Hak, dan Nestapa Migran Non-Prosedural
OPINI
Tubuh yang Hilang di Perbatasan: Warga Negara, Hak, dan Nestapa Migran Non-Prosedural
9 Apr 2026
Lebaran di Tanah Orang: Duka Pekerja Migran Indonesia di Bawah Langit Timur Tengah yang Membara
OPINI
Lebaran di Tanah Orang: Duka Pekerja Migran Indonesia di Bawah Langit Timur Tengah yang Membara
23 Mar 2026
Pekerja Migran Indonesia, Logika Materialis Tan Malaka dan Peradaban yang Memakan Anaknya Sendiri
OPINI
Pekerja Migran Indonesia, Logika Materialis Tan Malaka dan Peradaban yang Memakan Anaknya Sendiri
18 Mar 2026