Darah Devisa (Catatan Sunyi Pekerja Migran Indonesia)
Doa yang Tertinggal di Bandara
Ibu mengeja langit
di antara suara mesin pesawat.
Doanya tercecer di lantai keberangkatan,
tak ikut terbang bersamaku.
Yang sampai hanya tubuh ini—
tanpa perlindungan,
tanpa kepastian pulang.
/tyn/
Negara yang Lupa Menyebutku
Aku bekerja di luar peta,
di antara hukum yang tak mengenal bahasa ibuku.
Negara menyebut devisa,
tapi lupa menyebut namaku.
Aku adalah angka dalam laporan,
yang berdarah diam-diam.
/tyn/
Laut yang Menelan Cerita
Di seberang laut itu
ceritaku tenggelam tanpa saksi.
Hanya ombak yang tahu
berapa banyak jerit yang tak sempat dilaporkan.
Negara bertanya: mana bukti?
Laut menjawab dengan diam.
/tyn/
Malam Tanpa Bahasa
Malam datang tanpa terjemahan.
Aku berbicara pada dinding,
yang lebih mengerti sunyi
daripada manusia di rumah ini.
Bahasa menjadi penjara,
dan aku adalah tahanannya.
/tyn/
Surga yang Dijanjikan
Mereka bilang:
di sana ada surga yang bisa kau kirim ke rumah.
Tapi yang kutemukan
adalah neraka dengan jam kerja panjang
dan pintu yang tak pernah terbuka.
Aku bertanya pada Tuhan,
apakah ini ujian
atau kesalahan alamat takdir?
/tyn/
Surat untuk Tubuhku Sendiri
Maaf,
aku menjualmu terlalu murah.
Pada jam kerja yang panjang
dan tangan yang tak mengenal batas.
Jika nanti kita bertemu lagi di rumah,
aku janji
akan memperlakukanmu sebagai manusia.
/tyn/
Jam yang Memakan Tubuh
Setiap detik adalah gigitan.
Jam dinding di rumah majikan
perlahan mengunyah tulangku.
Ketika kontrak selesai,
yang tersisa hanya sisa waktu—
tanpa tubuh untuk pulang.
/tyn/