Kisah Perjuangan PMI Mengirim Devisa untuk Keluarga di Kampung
PONOROGO, — Winarti, 35 tahun, sudah enam tahun bekerja sebagai pengasuh lansia di Taiwan. Setiap bulan, ia mengirimkan antara Rp 5 juta hingga Rp 7 juta ke kampung halamannya di Ponorogo, Jawa Timur, untuk membiayai sekolah kedua anaknya dan merawat orang tuanya yang sudah tua. Kisah Winarti adalah gambaran nyata dari jutaan PMI yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, sekaligus pahlawan devisa bagi negara. Data Bank Indonesia mencatat remitansi PMI mencapai USD 15,7 miliar pada 2024.
“Saya rindu keluarga, tapi belum bisa pulang karena anak saya masih butuh biaya sekolah. Setiap hari saya bekerja dengan penuh semangat karena ingat mereka di rumah,” tutur Winarti. Perjuangannya tidak mudah: adaptasi bahasa, perbedaan budaya, homesickness, hingga risiko perlakuan tidak adil dari majikan. Namun survei Bank Indonesia menunjukkan 68 persen gaji PMI digunakan untuk kebutuhan produktif keluarga, termasuk pendidikan anak dan pembangunan rumah.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Ponorogo, Agung Prasetyo, mengatakan remitansi PMI telah menjadi motor penggerak ekonomi lokal, mendorong pertumbuhan sektor UMKM, perumahan, dan pendidikan. “Desa-desa yang banyak warganya menjadi PMI terlihat lebih berkembang infrastrukturnya. Remitansi benar-benar mengubah wajah kampung,” ujarnya. Kementerian P2MI mendorong program tabungan dan investasi khusus PMI bekerja sama dengan perbankan BUMN agar uang hasil kerja keras dapat menjadi modal membangun kehidupan yang lebih baik setelah pulang.