PMI di Hong Kong Bangun Gerakan Solidaritas Buruh
HONG KONG, 9 Maret 2026 — Komunitas PMI di Hong Kong, yang berjumlah lebih dari 160.000 orang dan mayoritas bekerja sebagai pekerja rumah tangga, telah berkembang menjadi salah satu komunitas buruh migran paling terorganisir di Asia. Berbagai organisasi PMI Indonesia di Hong Kong seperti ATKI HK, PILAR, dan kelompok berbasis gereja dan komunitas aktif menyelenggarakan program pendidikan hak-hak buruh, pelatihan keterampilan, pengelolaan keuangan, dan pendampingan kasus. Gerakan solidaritas buruh PMI di Hong Kong terhubung dengan jaringan internasional yang lebih luas.
Seorang PMI Hong Kong, Dewi Sartika (nama samaran), yang aktif dalam gerakan solidaritas buruh, menceritakan bagaimana komunitas PMI saling mendukung terutama saat ada yang mengalami masalah dengan majikan. “Di sini kami satu keluarga besar. Kalau ada yang kena masalah, semua turun tangan. Kami punya jaringan pengacara, dokter, dan juga hubungan baik dengan KJRI,” katanya. Kementerian P2MI menggelar edukasi keuangan di KJRI Hong Kong pada Maret 2025, dihadiri 120 PMI.
Aktivisme PMI Hong Kong menjadi inspirasi bagi PMI di negara lain. Model jaringan solidaritas, mekanisme pengaduan berbasis komunitas, dan program pemberdayaan yang dikembangkan di Hong Kong kini mulai diadaptasi oleh komunitas PMI di Taiwan, Singapura, dan Malaysia. Akademisi buruh dari Universitas Hong Kong, Prof. Tang Wenfang, menganalisis bahwa gerakan solidaritas PMI Indonesia di Hong Kong merupakan contoh agency migran yang kuat, di mana pekerja migran aktif membangun kapasitas diri dan komunitas.