Dijanjikan Kerja di Turki, Berakhir Terkunci di Libya: Ali Nurdin Desak Negara Selamatkan Dua PMI Korban Dugaan TPPO
Jakarta – Ketua Umum Federasi Buminu Sarbumusi, Ali Nurdin, melontarkan desakan keras kepada pemerintah untuk segera menyelamatkan dua pekerja migran Indonesia yang saat ini terjebak di Libya setelah diduga menjadi korban jaringan perdagangan orang lintas negara.
Kedua korban adalah Dela Triyani, asal Tasikmalaya, dan Elly Nuari, asal Bandung Barat. Keduanya berangkat dengan janji pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di Turki, namun dalam perjalanan justru dialihkan secara diam-diam ke Libya. Ali Nurdin menilai kronologi keberangkatan kedua perempuan tersebut menunjukkan pola kuat penempatan ilegal yang mengarah pada tindak pidana perdagangan orang (TPPO). “Ini bukan sekadar penempatan pekerja migran bermasalah. Ada indikasi kuat jaringan human trafficking yang beroperasi dari Indonesia hingga Timur Tengah.
Negara harus segera bertindak menyelamatkan korban sekaligus membongkar jaringan perekrutnya,” tegas Ali Nurdin, Minggu. Ia mendesak pemerintah melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk segera melakukan operasi diplomatik guna memulangkan kedua PMI tersebut.
Modus Perekrutan: Yayasan, Agen, dan Transit Palsu
Berdasarkan penelusuran Federasi Buminu Sarbumusi, perjalanan Dela Triyani bermula pada awal Januari ketika ia mencari informasi pekerjaan ke luar negeri melalui seorang teman. Ia kemudian diarahkan ke sebuah yayasan di Jakarta Pusat yang disebut biasa menyalurkan pekerja ke luar negeri.
Pada 5 Januari Dela berangkat dari Cikalong menuju Jakarta. Dua hari kemudian ia menjalani pemeriksaan kesehatan di Jakarta Timur dengan diantar oleh pihak yayasan. Setelah itu ia dijemput seorang perempuan bernama Bu Iroh yang membawanya ke Depok. Keesokan harinya ia diantar oleh seorang pria bernama Heri, yang disebut sebagai suami Bu Iroh, untuk membuat paspor di Cibubur Junction.
Awalnya Dela ingin bekerja di Malaysia. Namun agen justru membujuknya bekerja di Turki dengan janji gaji dan kondisi kerja yang lebih baik. Pada 4 Februari ia tiba di Istanbul dan menginap di hotel. Namun keesokan harinya ia kembali dibawa ke bandara dan baru diberitahu bahwa kantor agen sebenarnya berada di Libya.“ Saya tidak tahu harus bagaimana. Mau kabur juga bingung harus ke mana,” ungkap Dela dalam laporannya.
Kini ia mengaku berada di Libya tanpa kemampuan bahasa Inggris maupun bahasa Arab dan kesulitan meminta pertolongan.
Paspor Diminta Berbohong
Korban lain, Elly Nuari, mengaku mengalami proses perekrutan yang hampir serupa. Ia berangkat dari Padalarang pada 4 Januari menuju Depok setelah menerima tawaran pekerjaan sebagai ART di Turki. Pada 6 Januari ia menjalani pemeriksaan kesehatan di Amalia Health Center, Jakarta. Sehari kemudian ia membuat paspor di Cibubur Junction.
Namun saat proses pembuatan paspor, ia diminta menyatakan kepada petugas bahwa paspor tersebut hanya untuk keperluan wisata, bukan bekerja. Pada 18 Januari, Elly bersama tiga calon pekerja lainnya dibawa ke Bandara Soekarno-Hatta. Namun mereka tidak didampingi hingga ke dalam bandara. “Mereka hanya diberi video tutorial lewat WhatsApp tentang cara masuk bandara dan mencari titik check-in,” ungkap Ali Nurdin.
Para calon pekerja tersebut kemudian terbang ke Doha dan melanjutkan perjalanan ke Istanbul. Setelah beberapa hari menunggu dengan alasan cuaca buruk, mereka justru diterbangkan ke Benghazi, Libya.
Sesampainya di kantor agen bernama Al Bariq, seluruh dokumen mereka langsung disita, termasuk paspor, KTP, dan telepon genggam. Mereka ditempatkan di kamar yang selalu terkunci dari luar dan hanya diperbolehkan memegang ponsel jika sudah memiliki majikan. Elly kemudian dipindah-pindahkan majikan, bahkan sempat diterbangkan ke Mesir sebelum akhirnya ditempatkan di Tripoli, Libya, untuk mengurus tiga anak sekaligus membersihkan rumah tiga lantai.
Negara Diminta Bertindak Cepat
Ali Nurdin menegaskan bahwa situasi keamanan di Libya yang masih tidak stabil membuat keselamatan pekerja migran Indonesia sangat terancam. Karena itu ia meminta pemerintah segera melakukan langkah diplomasi dan penyelamatan melalui perwakilan Indonesia di kawasan tersebut. “Kita tidak bisa menunggu korban berikutnya. Negara harus hadir dan menyelamatkan mereka,” ujarnya.
Selain upaya penyelamatan, Federasi Buminu Sarbumusi juga meminta aparat penegak hukum di Indonesia mengusut jaringan perekrut yang diduga beroperasi di Jakarta dan Depok. Menurut Ali Nurdin, modus yang digunakan, mulai dari penyamaran tujuan paspor, transit di Turki, hingga penyitaan dokumen, merupakan pola klasik jaringan perdagangan orang internasional. “Jika jaringan ini tidak segera dibongkar, akan terus ada perempuan-perempuan Indonesia yang menjadi korban,” kata Ali Nurdin. Ia menegaskan Federasi Buminu Sarbumusi akan terus mengawal kasus ini hingga kedua pekerja migran tersebut bisa dipulangkan dengan selamat ke Indonesia.