Solidaritas Buruh Migran Menguat di Tengah Tantangan Global
JAKARTA/HONG KONG — Di tengah berbagai tekanan global—konflik geopolitik, ketidakpastian ekonomi, dan ancaman otomatisasi terhadap pekerjaan—solidaritas di antara buruh migran Indonesia semakin menguat sebagai mekanisme perlindungan mandiri yang efektif. Komunitas PMI Indonesia di Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan telah membangun jaringan dukungan yang saling terhubung, memungkinkan informasi perlindungan, peluang kerja, dan peringatan tentang majikan atau agen bermasalah mengalir cepat lintas batas negara.
Aktivis PMI, Eni Lestari yang berbasis di Hong Kong, menjelaskan solidaritas buruh migran tumbuh dari kesamaan pengalaman, kebutuhan, dan mimpi. “Kita berjauh dari keluarga, berada di lingkungan asing, bekerja dalam kondisi yang sering tidak adil. Solidaritas bukan pilihan, itu keharusan untuk bertahan dan berkembang,” ujarnya. Gerakan ini tidak hanya bersifat defensif tetapi juga ofensif: komunitas PMI aktif menuntut perbaikan kebijakan dan mengadvokasi kasus individual.
Para peneliti migrasi mengidentifikasi bahwa gerakan solidaritas PMI yang kuat berkorelasi positif dengan berkurangnya kasus eksploitasi di komunitas tersebut. PMI yang memiliki jaringan sosial kuat lebih berani melaporkan pelanggaran dan lebih memiliki akses informasi tentang hak-hak mereka. KP2MI mulai mengadopsi pendekatan community-based protection yang menjadikan komunitas PMI sebagai mitra aktif dalam sistem perlindungan, bukan sekadar objek perlindungan.