Lebih dari 2.000 SMK di Jawa Timur Disiapkan Menjadi Pusat Penyiapan PMI Melalui Program SMK Go Global
Surabaya – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menyebut Jawa Timur memiliki lebih dari 2.000 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berpotensi dilibatkan sebagai pusat penyiapan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui Program SMK Go Global. Program tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mencetak tenaga kerja Indonesia yang terampil, tersertifikasi, dan siap bersaing di pasar kerja internasional.
Program SMK Go Global merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang dirancang untuk menjembatani lulusan pendidikan vokasi dengan kebutuhan pasar kerja global. KP2MI menargetkan penyiapan dan penempatan hingga 500.000 pekerja migran terampil secara bertahap pada periode 2026–2029, yang terdiri atas 300.000 lulusan SMK dan 200.000 peserta dari masyarakat umum.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, menegaskan bahwa program tersebut tidak sekadar berorientasi pada penempatan kerja ke luar negeri, melainkan merupakan transformasi kebijakan untuk mengubah paradigma dari pengiriman tenaga kerja nonterampil menjadi penyedia sumber daya manusia unggul yang memiliki kompetensi global.
Pada tahun 2026, KP2MI menargetkan sebanyak 40.000 peserta mengikuti pelatihan melalui sekitar 2.000 kelas yang difokuskan pada peningkatan kompetensi teknis, penguasaan bahasa asing, dan sertifikasi berstandar internasional. Sektor yang menjadi prioritas meliputi kesehatan, perawatan lansia (caregiver), manufaktur, konstruksi, pengelasan (welder), transportasi, perhotelan (hospitality), hingga sektor kelautan.
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Christina Aryani sebelumnya menjelaskan bahwa seluruh proses dalam program ini dirancang secara terintegrasi, mulai dari seleksi peserta, pelatihan, sertifikasi, hingga penempatan kerja sesuai kebutuhan riil pasar internasional. Untuk mendukung implementasinya, KP2MI juga melibatkan 11 kementerian yang memiliki satuan pendidikan dan lembaga vokasi.
Bagi Jawa Timur, program tersebut memiliki arti strategis karena provinsi ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kantong utama PMI nasional. Daerah-daerah seperti Ponorogo, Tulungagung, Blitar, Malang, Banyuwangi, Jember, hingga Madura menjadi sumber utama pekerja migran yang bekerja di berbagai negara tujuan.
Melalui pemanfaatan lebih dari 2.000 SMK yang tersebar di Jawa Timur, pemerintah berharap proses penyiapan calon PMI dapat dilakukan sejak dini melalui pendidikan vokasi yang terstruktur. Model ini memungkinkan siswa memperoleh keterampilan teknis, kemampuan bahasa asing, pemahaman budaya kerja internasional, hingga sertifikasi kompetensi sebelum memasuki dunia kerja global.
Selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kebijakan tersebut juga dinilai dapat menggeser pola perekrutan PMI dari jalur informal menuju mekanisme yang lebih profesional dan prosedural. Selama ini, sebagian pekerja migran masih berangkat melalui perantara tidak resmi yang berisiko menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari pelanggaran kontrak kerja hingga tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Meski demikian, sejumlah pihak menilai keberhasilan program akan sangat bergantung pada mekanisme pelibatan sekolah, kualitas lembaga pelatihan, kesiapan kurikulum yang sesuai kebutuhan negara tujuan, serta efektivitas pengawasan terhadap pihak-pihak yang melakukan perekrutan calon pekerja migran. Transparansi proses seleksi dan penempatan juga menjadi faktor penting untuk memastikan program benar-benar memberikan manfaat bagi lulusan SMK dan masyarakat.
KP2MI menegaskan bahwa seluruh pelaksanaan SMK Go Global akan diarahkan pada penempatan kerja yang aman, legal, dan bermartabat. Melalui program tersebut, Indonesia diharapkan mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja migran melalui pekerjaan yang lebih berkualitas dan terlindungi.
Discover more from suaramigrannusantara.org
Subscribe to get the latest posts sent to your email.