Purna PMI di Lampung Timur Sukses Kembangkan Budidaya Nila dan Lele, Kini Miliki 10 Kolam
LAMPUNG TIMUR — Pulang dari Malaysia tidak membuat Badarudin kembali mencari pekerjaan ke luar negeri. Purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Sukadana Timur, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, itu justru memilih membangun usaha sendiri melalui budidaya ikan nila dan lele.
Usaha yang dijalankannya selama hampir tiga tahun tersebut kini berkembang cukup pesat. Badarudin, yang akrab disapa Ndaru, telah memiliki 10 kolam budidaya, terdiri dari tujuh kolam ikan nila dan tiga kolam ikan lele. Produksinya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan rumah makan, restoran hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Lampung Timur.
Kisah Badarudin menjadi gambaran bahwa kepulangan PMI tidak selalu harus berakhir dengan kembali bekerja ke luar negeri. Dengan pengalaman, modal, keberanian dan pengelolaan usaha yang tepat, hasil bekerja di luar negeri dapat diarahkan menjadi modal ekonomi produktif di kampung halaman.
Puluhan Ribu Ikan Dibudidayakan
Saat ditemui di lokasi usahanya pada Kamis (20/8/2026), Badarudin menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 28 ribu ekor ikan nila dan 59 ribu ekor ikan lele yang dibudidayakan di kolam-kolam miliknya.
Ikan nila dipanen ketika memasuki usia sekitar 3,5 bulan, sedangkan lele dipanen pada usia sekitar 2,5 bulan.
“Ada sebanyak 10 kolam. Rinciannya tujuh kolam ikan nila dan tiga kolam ikan lele. Di sini ada sekitar 28 ribu ekor nila yang dipanen sekitar usia 3,5 bulan dan 59 ribu ekor lele yang dipanen pada usia 2,5 bulan,” jelas Badarudin.
Produksi tersebut menunjukkan bahwa usaha yang awalnya dirintis setelah kepulangan dari Malaysia telah berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang memiliki pasar.
Ketua Garda BMI Lampung Timur, Muhammad Amir, bahkan menyempatkan diri mengunjungi lokasi budidaya Badarudin dan melihat langsung kondisi kolam serta pertumbuhan ikan.
Menurut Amir, kualitas ikan yang dihasilkan cukup baik dan mampu bersaing dengan ikan yang beredar di pasar.
“Ikannya besar-besar dan siap untuk konsumsi. Teksturnya tebal dan gemuk, tidak kalah dengan ikan-ikan yang dijual di pasar tradisional,” ujar Amir.
Dari Malaysia Membangun Usaha di Kampung
Keberhasilan Badarudin memiliki arti lebih luas dari sekadar keberhasilan seorang pengusaha ikan. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman menjadi PMI dapat dilanjutkan dengan membangun sumber penghasilan baru setelah kembali ke daerah asal.
Amir menilai Badarudin dapat menjadi contoh bagi purna PMI lainnya, terutama di Lampung Timur, agar tidak menjadikan migrasi sebagai satu-satunya pilihan ekonomi.
“Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi purna PMI lainnya, khususnya PMI asal Lampung Timur, untuk mengembangkan usaha dan membuka peluang ekonomi setelah kembali ke tanah air,” kata Amir.
Model seperti ini sejalan dengan gagasan pemberdayaan purna PMI: remitansi dan pengalaman yang diperoleh selama bekerja di luar negeri tidak berhenti pada konsumsi rumah tangga, tetapi diubah menjadi aset produktif yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan.
Sebuah penelitian mengenai pemberdayaan purna PMI di Lampung Timur juga mencatat bahwa Desa Taman Endah, Kecamatan Purbolinggo, pernah berkembang sebagai salah satu contoh usaha produktif purna PMI. Sejumlah purna PMI mengembangkan usaha setelah bekerja di luar negeri, termasuk budidaya ikan lele dan peternakan ayam, dengan memanfaatkan tabungan hasil bekerja sebagai modal.
Artinya, usaha Badarudin bukan fenomena yang berdiri sendiri. Lampung Timur memiliki sejarah panjang dalam mendorong purna PMI mengembangkan aktivitas ekonomi di daerah asal.
Tantangan Air Saat Musim Kemarau
Di balik perkembangan usahanya, Badarudin masih menghadapi persoalan yang cukup serius, yakni ketersediaan air.
Memasuki musim kemarau, debit air di lokasi budidaya mengalami penurunan drastis. Kondisi tersebut membuat proses pemeliharaan ikan menjadi lebih sulit dan berpotensi mengganggu kesinambungan produksi.
Karena itu, Badarudin berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dapat membantu menyediakan sumur bor di lokasi budidayanya.
“Kami berharap ada bantuan sumur bor agar usaha ini tetap bisa berjalan dan berkembang meskipun musim kemarau. Dengan begitu, kami juga tetap bisa menyuplai kebutuhan ikan untuk pasar-pasar di wilayah Lampung Timur,” ujarnya.
Permintaan tersebut menjadi penting karena keberlanjutan usaha budidaya sangat bergantung pada kepastian sumber air. Jika persoalan tersebut dapat diatasi, kapasitas produksi berpeluang terus dikembangkan.
Purna PMI Bukan Sekadar Mantan Pekerja Migran
Kisah Badarudin memberikan perspektif lain tentang purna PMI. Mereka bukan sekadar orang yang telah menyelesaikan kontrak kerja di luar negeri, melainkan dapat menjadi pelaku ekonomi baru di daerah asal.
Lampung Timur sendiri telah lama menjadi salah satu wilayah yang memiliki sejarah pemberdayaan purna PMI. Penelitian tentang pemberdayaan purna PMI di kabupaten tersebut menekankan pentingnya mengelola remitansi agar tidak habis untuk kebutuhan konsumtif, tetapi diarahkan menjadi modal usaha yang menciptakan pendapatan berkelanjutan dan bahkan membuka lapangan kerja.
Karena itu, keberhasilan Badarudin mengembangkan 10 kolam ikan menjadi contoh konkret bahwa kepulangan PMI dapat menjadi awal dari babak ekonomi baru.
Dari Malaysia ia membawa pengalaman. Di kampung halaman ia mengubahnya menjadi usaha. Dari seorang pekerja migran, ia kini berdiri sebagai pengusaha ikan yang memasok kebutuhan pasar lokal.
Pada titik inilah keberhasilan purna PMI seharusnya tidak hanya diukur dari berapa lama seseorang bekerja di luar negeri atau berapa besar remitansi yang dikirimkan ke keluarga, tetapi juga dari seberapa mampu hasil migrasi tersebut diubah menjadi modal produktif, menciptakan pekerjaan, memperkuat ekonomi desa dan membuat seseorang tidak perlu kembali bermigrasi hanya karena tidak memiliki pilihan ekonomi di tanah air.
Discover more from suaramigrannusantara.org
Subscribe to get the latest posts sent to your email.