Anggota DPR Nilai SMK Go Global Strategis Cetak SDM Berdaya Saing
Jakarta — Program SMK Go Global yang diinisiasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI/BP2MI) mendapat apresiasi dari Anggota Komisi IX DPR RI Muh Haris. Ia menilai program tersebut strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar memiliki kompetensi dan daya saing di pasar kerja global.
Pernyataan Muh Haris tersebut diberitakan ANTARA pada 18 Agustus 2026, menjadikan isu SMK Go Global kembali mendapat sorotan dalam pemberitaan sektor pekerja migran pada hari yang sama. Ia menyebut program tersebut bukan hanya berkaitan dengan penempatan tenaga kerja ke luar negeri, tetapi juga bagian dari upaya mencetak SDM Indonesia yang memiliki kompetensi global sekaligus memperkuat pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Menurut Haris, lulusan SMK perlu dipersiapkan agar mampu memasuki pasar kerja internasional bukan karena keterpaksaan, melainkan karena mempunyai kompetensi yang diakui. Ia menekankan pentingnya penguasaan keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar global, termasuk bahasa asing, sertifikasi internasional, dan pengalaman kerja yang relevan.
“Kita ingin semakin banyak anak muda Indonesia yang bekerja di luar negeri bukan karena keterpaksaan, melainkan karena kompetensinya diakui dunia,” kata Haris sebagaimana dikutip ANTARA.
Mengubah Paradigma Pekerja Migran
Pernyataan tersebut menarik karena menempatkan SMK Go Global dalam kerangka yang lebih luas daripada sekadar program pengiriman tenaga kerja.
Selama ini, persoalan pekerja migran kerap dilihat dari sisi jumlah penempatan. Padahal, tantangan yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana Indonesia meningkatkan kualitas, kompetensi, daya tawar dan pelindungan pekerja yang ditempatkan di luar negeri.
Melalui pendekatan tersebut, lulusan SMK diharapkan tidak sekadar menjadi tenaga kerja yang mencari pekerjaan di luar negeri, tetapi menjadi tenaga profesional yang memiliki keterampilan sesuai standar negara tujuan.
Arah ini juga terlihat dari desain SMK Go Global 2026. KP2MI sebelumnya menjelaskan bahwa program tersebut disusun dengan mengacu pada kebutuhan aktual pasar kerja internasional. Pilihan sektor pekerjaan antara lain bidang hospitality dengan negara tujuan seperti Turki, Malaysia, Maladewa, Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat Arab hingga sejumlah negara di Eropa Timur.
Dengan demikian, pelatihan tidak semestinya diberikan secara generik. Kompetensi peserta perlu disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan standar yang dibutuhkan negara tujuan.
Dari Sekolah Menuju Pasar Kerja Global
SMK Go Global juga menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih kuat antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri internasional.
Program tersebut diarahkan untuk mempersiapkan talenta muda melalui peningkatan kapasitas, keterampilan dan kesiapan kerja. Pada tahap pertama 2026, pemerintah membuka pendaftaran pelatihan SMK Go Global pada 12–16 Agustus 2026.
Dalam penjelasan pemerintah, program tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem penyiapan tenaga kerja yang terhubung dengan kebutuhan pasar kerja internasional. Bahkan, pemetaan bidang pekerjaan dilakukan berdasarkan kebutuhan aktual agar kompetensi peserta relevan dengan permintaan tenaga kerja di negara tujuan.
Model tersebut menjadi penting karena salah satu persoalan klasik pendidikan vokasi adalah kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.
Ketika pendidikan SMK mampu terhubung langsung dengan kebutuhan pasar kerja global, maka lulusan tidak hanya memperoleh ijazah, tetapi juga memiliki skill, sertifikasi, bahasa, pengalaman dan pemahaman budaya kerja yang dibutuhkan di negara tujuan.
Pelindungan Harus Berjalan Bersama Kompetensi
Namun, peningkatan kompetensi tidak boleh dipisahkan dari pelindungan.
Semakin besar peluang kerja luar negeri yang dibuka bagi lulusan SMK, semakin besar pula kebutuhan memastikan proses rekrutmen dan penempatannya berlangsung melalui mekanisme resmi.
KP2MI sebelumnya menyatakan bahwa penempatan yang lebih terarah melalui SMK Go Global juga diharapkan dapat menekan keberangkatan tenaga kerja melalui jalur tidak resmi.
Hal tersebut menjadi salah satu aspek penting dari program.
Calon PMI yang memiliki kompetensi tinggi tetapi berangkat melalui jalur nonprosedural tetap berada dalam posisi rentan. Sebaliknya, penempatan yang legal tanpa dibarengi kompetensi yang memadai juga dapat menimbulkan persoalan lain ketika pekerja menghadapi tuntutan pekerjaan di negara tujuan.
Karena itu, kompetensi dan pelindungan harus menjadi dua sisi dari kebijakan yang sama.
Jangan Berhenti pada Target Penempatan
Apresiasi DPR terhadap SMK Go Global sekaligus menghadirkan tantangan bagi pemerintah.
Keberhasilan program seharusnya tidak semata-mata diukur dari berapa banyak lulusan SMK yang mengikuti pelatihan atau berapa banyak yang akhirnya diberangkatkan ke luar negeri.
Ukuran yang lebih substansial adalah apakah peserta benar-benar mendapatkan pekerjaan yang sesuai kompetensinya, memperoleh kontrak kerja yang jelas, mendapatkan perlindungan yang memadai, menerima upah sesuai ketentuan, serta memiliki peluang membangun karier.
Dengan kata lain, angka penempatan bukan tujuan akhir.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan pekerja migran Indonesia yang memiliki posisi tawar lebih tinggi di pasar kerja internasional.
Momentum Menaikkan Kelas PMI
Pernyataan Muh Haris dapat dibaca sebagai dukungan politik terhadap perubahan paradigma penempatan PMI: dari orientasi kuantitas menuju kualitas.
Jika program tersebut dijalankan secara konsisten, SMK dapat menjadi salah satu sumber utama tenaga kerja terampil Indonesia untuk pasar internasional. Pendidikan vokasi tidak lagi hanya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri domestik, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju mobilitas tenaga kerja global.
Namun, konsekuensinya juga jelas. Pemerintah harus memastikan kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan, relevansi kurikulum, sertifikasi kompetensi, kemampuan bahasa asing, informasi pasar kerja, proses rekrutmen, hingga mekanisme pelindungan setelah pekerja berada di luar negeri.
Dengan fondasi tersebut, SMK Go Global berpotensi menjadi lebih dari sekadar program penempatan PMI.
Ia dapat menjadi instrumen untuk menaikkan kelas pekerja Indonesia di pasar global, dari tenaga kerja yang mencari kesempatan menjadi tenaga profesional yang dicari karena kompetensinya.
Dan sebagaimana ditekankan Muh Haris, cita-cita akhirnya bukan membuat anak muda Indonesia bekerja di luar negeri karena tidak memiliki pilihan di dalam negeri, melainkan karena kompetensinya mampu bersaing dan diakui dunia.
Discover more from suaramigrannusantara.org
Subscribe to get the latest posts sent to your email.