Oxford: Migran Menjadi Bagian Penting dari Pasar Kerja Inggris, 5,9 Juta Pekerja Berstatus Migran
LONDON — Pekerja migran telah menjadi bagian penting dari struktur pasar tenaga kerja Inggris. Riset Migration Observatory dari University of Oxford berjudul “Migrants in the UK Labour Market: An Overview” menunjukkan bahwa pada Desember 2025 sekitar 19 persen pekerja di Inggris, atau 5,9 juta orang, merupakan migran dewasa.
Kajian yang diterbitkan pada Mei 2026 tersebut memberikan gambaran mengenai posisi migran dalam pasar kerja Inggris, mulai dari tingkat pekerjaan dan pengangguran, jenis pekerjaan, pendapatan, kontrak kerja, hingga proses integrasi pekerja migran ke dalam perekonomian Inggris.
Data Oxford menunjukkan bahwa keberadaan migran dalam pasar tenaga kerja Inggris bukan fenomena marginal. Proporsi pekerjaan yang diisi oleh migran bahkan meningkat secara signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan status kewarganegaraan ketika pertama kali memperoleh nomor asuransi nasional, sekitar 20 persen pekerjaan yang dipegang pekerja dewasa pada Desember 2025 berasal dari kelompok migran, atau sekitar 6,5 juta pekerjaan.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan jumlah individu migran yang bekerja, yakni 5,9 juta orang. Perbedaan itu antara lain terjadi karena pekerja migran lebih mungkin memiliki lebih dari satu pekerjaan.
Migran dan Struktur Pekerjaan Inggris
Kajian Oxford menunjukkan bahwa pekerja migran tersebar di berbagai sektor ekonomi Inggris. Namun, konsentrasinya relatif tinggi pada sejumlah bidang, termasuk administrasi, perhotelan, serta sektor kesehatan dan perawatan.
Sektor kesehatan dan perawatan menjadi salah satu sektor yang banyak mempekerjakan migran yang lahir di luar Uni Eropa. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa migrasi tenaga kerja tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan berkeahlian rendah, tetapi juga telah menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan tenaga kerja pada sektor-sektor pelayanan publik dan ekonomi yang membutuhkan sumber daya manusia dalam jumlah besar.
Distribusi pekerjaan juga berbeda menurut asal migran. Pekerja yang lahir di Amerika Utara dan Oseania merupakan kelompok yang paling mungkin bekerja pada pekerjaan berketerampilan tinggi. Sebaliknya, migran yang berasal dari negara-negara anggota baru Uni Eropa, khususnya kelompok EU8 dan EU2, lebih banyak ditemukan dalam pekerjaan yang dikategorikan berketerampilan rendah.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa istilah “pekerja migran” tidak menggambarkan kelompok yang homogen. Latar belakang pendidikan, negara asal, alasan migrasi, kemampuan bahasa, pengalaman kerja, serta status migrasi ikut memengaruhi posisi seseorang dalam pasar tenaga kerja Inggris.
Tingkat Pengangguran Masih Menjadi Tantangan
Meski memiliki kontribusi besar terhadap pasar kerja, integrasi ekonomi migran tidak berlangsung seragam.
Riset Oxford menemukan bahwa laki-laki yang lahir di luar Inggris memiliki kemungkinan bekerja lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang lahir di Inggris. Namun, pola berbeda terlihat pada perempuan. Perempuan migran secara keseluruhan lebih kecil kemungkinannya berada dalam pekerjaan dibandingkan perempuan yang lahir di Inggris.
Pada saat yang sama, tingkat pengangguran migran secara historis cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok yang lahir di Inggris selama dua dekade terakhir. Dengan demikian, tingginya partisipasi migran dalam pasar kerja tidak otomatis berarti seluruh kelompok migran telah menikmati tingkat integrasi ekonomi yang sama.
Perbedaan tersebut juga berkaitan dengan alasan seseorang bermigrasi. Migran non-Uni Eropa yang datang ke Inggris untuk mencari perlindungan atau mengajukan suaka, misalnya, memiliki kemungkinan bekerja lebih rendah dibandingkan mereka yang datang untuk bekerja, keluarga, atau pendidikan.
Pendapatan dan Persoalan Overqualification
Salah satu temuan yang menarik dalam kajian Oxford adalah mengenai pendapatan. Pada Desember 2025, median pendapatan tahunan yang disetahunkan bagi pekerja migran Uni Eropa maupun non-Uni Eropa tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan pekerja berkewarganegaraan Inggris.
Namun, angka pendapatan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh migran memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Oxford mencatat bahwa banyak pekerja migran berpendidikan tinggi mengalami overqualification, yakni bekerja pada posisi yang tingkat keterampilannya berada di bawah pendidikan atau kualifikasi yang mereka miliki.
Fenomena tersebut merupakan salah satu persoalan penting dalam integrasi tenaga kerja migran. Seorang pekerja dapat memiliki pendidikan tinggi dan pengalaman profesional, tetapi tidak selalu dapat langsung mengakses pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasinya setelah memasuki negara tujuan.
Hambatan bahasa, pengakuan terhadap kualifikasi asing, pengalaman kerja lokal, serta karakteristik pasar kerja dapat menjadi faktor yang memengaruhi proses tersebut. Kajian lain dari Migration Observatory juga mencatat bahwa migran berketerampilan tinggi pada awal kedatangannya kerap mengalami penurunan posisi pekerjaan atau occupational downgrading.
Kebijakan Migrasi Inggris Mengalami Perubahan
Temuan mengenai pasar kerja migran tersebut muncul ketika Inggris juga tengah memperketat sistem migrasinya.
Migration Observatory mencatat bahwa sejak Juli 2025 sejumlah perubahan kebijakan diberlakukan, termasuk kenaikan ambang gaji utama untuk visa pekerja menjadi £41.700 serta penghentian perekrutan pekerja perawatan dari luar negeri melalui jalur tersebut. Sejumlah pekerjaan tingkat menengah juga dikeluarkan dari jalur Skilled Worker kecuali memenuhi kriteria tertentu melalui Temporary Shortage List.
Perubahan kebijakan tersebut menunjukkan adanya upaya pemerintah Inggris untuk mengendalikan pola migrasi tenaga kerja sekaligus mengarahkan migrasi kepada sektor dan keterampilan yang dianggap lebih dibutuhkan perekonomian.
Di sisi lain, data Oxford menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja Inggris telah memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap pekerja migran. Karena itu, perubahan kebijakan migrasi tidak hanya berdampak pada jumlah orang yang datang ke Inggris, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor-sektor ekonomi yang selama ini banyak mempekerjakan tenaga kerja dari luar negeri.
Migrasi Bukan Sekadar Persoalan Jumlah
Riset University of Oxford memberikan perspektif bahwa perdebatan mengenai migrasi tenaga kerja seharusnya tidak berhenti pada persoalan berapa banyak migran yang masuk ke suatu negara.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana migran ditempatkan dalam pasar kerja, pekerjaan apa yang mereka lakukan, berapa pendapatan yang diterima, bagaimana kondisi kontrak kerja mereka, serta sejauh mana kemampuan dan pendidikan mereka dapat dimanfaatkan.
Dengan hampir seperlima pekerja di Inggris merupakan migran dewasa, migrasi telah menjadi bagian struktural dari pasar tenaga kerja negara tersebut. Tantangannya bukan semata-mata bagaimana mengendalikan jumlah migran, melainkan bagaimana memastikan sistem ketenagakerjaan mampu menghasilkan integrasi yang adil sekaligus memanfaatkan keterampilan pekerja secara optimal.
Bagi negara-negara pengirim tenaga kerja, termasuk Indonesia, pengalaman Inggris juga memberikan pelajaran penting. Mobilitas pekerja internasional tidak cukup diukur dari keberangkatan dan penempatan. Kualitas pekerjaan, kesesuaian kompetensi, pendapatan, perlindungan hak, serta peluang mobilitas karier harus menjadi bagian dari ukuran keberhasilan migrasi tenaga kerja.
Dalam konteks itu, pekerja migran tidak semestinya dipandang semata sebagai angka dalam statistik migrasi. Mereka merupakan bagian dari sistem produksi dan pelayanan negara tujuan sekaligus aktor ekonomi yang membawa keterampilan, pengalaman, dan kontribusi lintas batas negara.
Kajian Oxford memperlihatkan satu kenyataan penting: migrasi telah menjadi bagian dari struktur pasar kerja Inggris, tetapi integrasi pekerja migran masih merupakan proses yang tidak seragam dan terus berubah mengikuti dinamika ekonomi serta kebijakan migrasi.
Discover more from suaramigrannusantara.org
Subscribe to get the latest posts sent to your email.