Fall, Winter & Spring: Ketika Musim Korea Membuka Luka Pekerja Migran Indonesia
Judul: Fall, Winter & Spring
Penulis: Nancy Dinar
Penerbit: Stiletto Book
Terbit: Juli 2025
Tebal: 279 halaman
Latar: Seoul dan Jakarta
Tokoh utama: Zuri
Genre: Drama, romansa, dan isu sosial
Korea Selatan memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat dunia jatuh cinta. Lewat drama, musik, makanan, fesyen dan industri hiburannya, negeri itu hadir sebagai sebuah ruang imajinatif yang nyaris selalu indah. Seoul menjadi kota romantis, musim gugur menjadi simbol cinta, musim dingin menjadi latar pertemuan, dan musim semi menjadi metafora harapan.
Tetapi Korea Selatan yang sebenarnya tidak selalu seindah yang tampil di layar.
Di balik gemerlap Korean Wave, ada ribuan pekerja migran yang datang dari berbagai negara untuk mengisi pekerjaan yang tidak selalu diminati tenaga kerja lokal. Di antara mereka terdapat pekerja migran Indonesia yang meninggalkan keluarga, kampung halaman dan kehidupan yang sudah dikenal untuk mencari penghasilan dan masa depan yang lebih baik.
Di ruang itulah Nancy Dinar menempatkan novel Fall, Winter & Spring.
Diterbitkan Stiletto Book pada Juli 2025, novel setebal 279 halaman ini membawa pembaca mengikuti perjalanan Zuri, seorang perempuan Indonesia yang didiagnosis menderita kanker otak dan diperkirakan hanya memiliki waktu hidup sekitar enam bulan. Dalam keadaan tersebut, Zuri meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya, termasuk warisan keluarga, kemudian pergi ke Korea Selatan untuk mengejar dua impian terakhirnya.
Keputusan Zuri untuk pergi ke Korea pada awalnya seperti perjalanan menuju kematian. Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan damai di negeri yang selama ini dekat dengan imajinasinya. Namun, perjalanan tersebut justru mempertemukannya dengan kehidupan yang sama sekali tidak ia duga.
Musim gugur di Seoul mempertemukannya dengan buruh migran, perempuan kawin campur dan para pejuang kemanusiaan. Dari merekalah Zuri melihat wajah Korea Selatan yang tidak pernah hadir dalam cerita-cerita romantis tentang negeri Ginseng itu.
Di balik gedung tinggi, lampu kota dan budaya populer, ada kemiskinan, diskriminasi dan ketidakadilan. Bahkan dalam keterangan mengenai novelnya, Nancy Dinar menyebut karya ini sebagai jendela untuk melihat kehidupan pekerja migran Indonesia di Korea pada dekade 2010-an—kelompok yang kerap terlupakan dan mengalami kekerasan, diskriminasi hingga eksploitasi.
Pilihan tema tersebut membuat Fall, Winter & Spring menarik dibaca bukan hanya sebagai novel drama dan percintaan, tetapi juga sebagai karya yang membawa isu sosial ke dalam pengalaman personal tokoh utamanya.
Sebab, pada dasarnya, cerita tentang pekerja migran selalu merupakan cerita tentang manusia yang berada jauh dari rumah.
Mereka pergi karena pekerjaan di kampung halaman tidak cukup menjanjikan. Mereka berangkat karena membutuhkan penghasilan. Mereka ingin membayar pendidikan anak, membangun rumah, melunasi utang, membantu orang tua, atau sekadar mencari kesempatan hidup yang tidak mereka temukan di negeri sendiri.
Namun ketika pesawat membawa mereka melewati batas negara, persoalan tidak serta-merta selesai.
Bahasa berubah. Budaya berubah. Sistem hukum berubah. Hubungan kerja berubah. Bahkan posisi tawar seorang pekerja terhadap pemberi kerja dapat berubah menjadi sangat timpang.
Di sinilah pengalaman para pekerja migran yang dihadirkan dalam Fall, Winter & Spring menjadi penting.
Kisah tersebut menemukan pijakan pada kenyataan sosial Korea Selatan. Sistem Employment Permit System atau EPS memang memberikan jalur legal bagi pekerja asing, termasuk dari Indonesia, untuk bekerja di Korea Selatan. Namun keberadaan sistem legal tidak dengan sendirinya menghapus kerentanan pekerja.
Sejumlah penelitian mengenai pekerja migran Indonesia di Korea Selatan menunjukkan persoalan yang berkaitan dengan keterbatasan mobilitas kerja, ketergantungan kepada pemberi kerja, hambatan bahasa serta persoalan sosial dan budaya. Kondisi tersebut dapat memperlemah posisi pekerja ketika menghadapi persoalan di tempat kerja.
Dengan demikian, ketika Nancy Dinar membawa isu kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi ke dalam novelnya, tema tersebut tidak berdiri di ruang kosong.
Ia bersentuhan dengan kenyataan.
Pada 2025, pemerintah Korea Selatan sendiri memperkuat pengawasan terhadap tempat kerja yang mempekerjakan pekerja asing setelah ditemukan berbagai pelanggaran ketenagakerjaan. Kasus-kasus yang menjadi perhatian mencakup persoalan upah, kondisi kerja, jam kerja dan perlakuan terhadap pekerja migran.
Realitas tersebut membuat pembacaan terhadap Fall, Winter & Spring menjadi lebih kompleks.
Novel ini tidak hanya bertanya bagaimana seorang Indonesia menjalani hidup di Korea Selatan. Ia juga mengajukan pertanyaan yang lebih besar: mengapa seseorang yang datang untuk bekerja dan mengisi kebutuhan ekonomi sebuah negara masih harus menghadapi perlakuan yang merendahkan martabatnya?
Pertanyaan itu tidak sederhana.
Sebab pekerja migran berada di antara dua kepentingan. Di satu sisi, mereka dibutuhkan oleh industri dan sektor ekonomi tertentu. Di sisi lain, mereka sering berada pada posisi tawar yang lebih lemah dibandingkan pekerja lokal.
Dalam kondisi seperti itu, kekerasan bukan hanya persoalan perilaku individual. Diskriminasi bukan hanya persoalan prasangka. Eksploitasi juga tidak selalu terjadi karena seorang pekerja tidak mengetahui haknya.
Ada struktur yang memungkinkan semua itu terjadi.
Di sinilah Fall, Winter & Spring memperoleh nilai sosialnya.
Nancy Dinar tidak menulis tentang pekerja migran dengan bahasa laporan penelitian. Ia menggunakan manusia dan pengalaman personal sebagai pintu masuk. Pembaca tidak disodori angka, tabel atau pasal. Pembaca diajak melihat penderitaan melalui kehidupan orang-orang yang ditemui Zuri.
Cara seperti ini membuat isu migrasi menjadi lebih dekat.
Statistik dapat mengatakan bahwa ada banyak pekerja migran Indonesia di Korea Selatan. Regulasi dapat menjelaskan bagaimana sistem penempatan bekerja. Penelitian dapat menjelaskan hubungan antara pekerja dan pemberi kerja.
Tetapi sastra dapat memperlihatkan bagaimana rasanya menjadi manusia yang hidup jauh dari rumah.
Dan itu adalah salah satu kekuatan novel ini.
Zuri sendiri merupakan tokoh yang menarik karena perjalanan fisiknya ke Korea sekaligus menjadi perjalanan batinnya. Ia datang dengan kesadaran bahwa kematian sudah dekat, tetapi justru menemukan kehidupan di tengah orang-orang yang sedang berjuang keras untuk mempertahankan hidup.
Paradoks tersebut menjadi jantung emosional novel.
Seseorang yang merasa sudah kehilangan alasan untuk hidup justru bertemu dengan mereka yang memiliki begitu banyak alasan untuk bertahan.
Para pekerja migran yang ditemuinya tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita. Mereka menjadi cermin bagi Zuri. Melalui kehidupan mereka, ia melihat bahwa penderitaan manusia memiliki banyak bentuk.
Ada penderitaan karena sakit.
Ada penderitaan karena kehilangan.
Ada penderitaan karena kemiskinan.
Ada penderitaan karena menjadi orang asing.
Ada pula penderitaan ketika seseorang bekerja keras tetapi tidak diperlakukan sebagai manusia yang memiliki hak dan martabat.
Di sinilah judul Fall, Winter & Spring menjadi semakin bermakna.
Fall bukan hanya musim gugur. Ia dapat dibaca sebagai simbol kejatuhan, kehilangan dan sesuatu yang perlahan meninggalkan kehidupan.
Winter membawa kesan dingin, sepi dan kerasnya perjalanan.
Kemudian Spring datang sebagai musim kehidupan baru.
Ketiganya menjadi semacam metafora perjalanan Zuri. Ia bergerak dari kehilangan menuju penerimaan, dari keputusasaan menuju harapan, dan dari keinginan mengakhiri hidup menuju kesadaran bahwa kehidupan masih menyimpan kemungkinan.
Namun musim-musim tersebut juga dapat dibaca dalam konteks kehidupan pekerja migran.
Ada masa ketika mereka harus jatuh.
Ada masa ketika mereka harus bertahan dalam dinginnya keterasingan.
Dan selalu ada harapan bahwa suatu saat kehidupan akan berubah.
Persoalannya, harapan tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.
Pekerja migran tidak seharusnya diminta bersabar ketika upahnya tidak dibayar. Tidak seharusnya diminta memahami ketika mengalami diskriminasi. Tidak seharusnya diminta bertahan ketika mengalami kekerasan.
Karena bekerja di luar negeri bukan berarti kehilangan hak sebagai manusia.
Di sinilah novel Nancy Dinar memiliki relevansi dengan Indonesia hari ini.
Pekerja migran Indonesia sering dibicarakan sebagai penyumbang devisa, sebagai angka penempatan, sebagai keberhasilan program pemerintah, atau sebagai orang yang berhasil memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
Semua itu benar, tetapi belum lengkap.
Di balik keberhasilan tersebut ada harga sosial dan emosional yang sering tidak terlihat.
Ada ibu yang meninggalkan anak.
Ada anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua.
Ada pasangan yang harus menjalani hubungan jarak jauh.
Ada pekerja yang pulang membawa tabungan.
Tetapi ada pula yang pulang membawa trauma.
Novel ini menjadi penting karena mengingatkan pembaca bahwa migrasi tenaga kerja tidak boleh semata-mata dipandang sebagai transaksi ekonomi antara tenaga kerja dan negara tujuan.
Ada dimensi kemanusiaan yang jauh lebih besar.
Pekerja migran bukan komoditas.
Mereka bukan sekadar tenaga yang dikirim dari satu negara ke negara lain.
Mereka adalah manusia yang memiliki hak atas keselamatan, upah yang layak, perlakuan adil dan perlindungan hukum.
Namun, sebagai sebuah novel, Fall, Winter & Spring juga memiliki keterbatasan yang perlu dicatat. Pengalaman yang dihadirkan melalui tokoh dan konflik tentu tidak dapat dianggap sebagai gambaran menyeluruh tentang kehidupan seluruh pekerja migran Indonesia di Korea Selatan.
Pengalaman pekerja migran sangat beragam. Mereka bekerja dalam sektor yang berbeda, memiliki latar belakang sosial berbeda, datang dengan kemampuan bahasa berbeda, dan menghadapi pemberi kerja serta kondisi kerja yang berbeda pula.
Karena itu, novel ini lebih tepat dipahami sebagai sebuah jendela, bukan sebagai keseluruhan pemandangan.
Dan sebuah jendela memang tidak memperlihatkan seluruh dunia.
Tetapi ia cukup untuk membuat kita menyadari bahwa ada dunia lain di luar apa yang selama ini kita lihat.
Itulah yang dilakukan Nancy Dinar.
Ia membuka jendela tersebut dari Seoul.
Pembaca yang selama ini mengenal Korea Selatan melalui drama dan musik tiba-tiba berhadapan dengan Korea yang lain. Korea para pekerja migran. Korea orang-orang yang hidup di pinggiran gemerlap. Korea yang menyimpan cerita tentang keterasingan, diskriminasi, kemiskinan dan perjuangan.
Dengan demikian, Fall, Winter & Spring tidak perlu dibaca hanya sebagai novel percintaan.
Ia dapat dibaca sebagai novel tentang manusia.
Tentang seseorang yang pergi jauh untuk menemukan sesuatu yang hilang dalam dirinya.
Tentang pekerja migran yang pergi meninggalkan rumah demi masa depan.
Tentang perempuan yang berusaha bertahan dalam dunia yang tidak selalu ramah.
Tentang orang-orang yang berbeda kewarganegaraan tetapi dipertemukan oleh pengalaman yang sama: keinginan untuk hidup lebih baik.
Pada akhirnya, kekuatan terbesar novel ini justru terletak pada kemampuannya menggeser cara pandang pembaca.
Korea Selatan tidak lagi hanya menjadi negeri K-pop.
Pekerja migran tidak lagi hanya menjadi angka.
Dan Zuri tidak lagi sekadar perempuan yang sedang menunggu kematian.
Semuanya berubah menjadi manusia dengan cerita masing-masing.
Musim gugur dalam novel ini mungkin mengajarkan bahwa tidak semua yang indah harus berlangsung selamanya. Musim dingin mengingatkan bahwa ada masa ketika kehidupan terasa begitu keras dan sunyi. Tetapi musim semi memberikan satu pesan sederhana: selalu ada kemungkinan untuk tumbuh kembali.
Begitu pula kehidupan pekerja migran.
Mereka mungkin datang dari tempat yang jauh, bekerja dalam kondisi yang tidak selalu mudah, menghadapi perbedaan bahasa dan budaya, bahkan mengalami kekerasan, diskriminasi atau eksploitasi.
Tetapi mereka tidak membutuhkan belas kasihan.
Mereka membutuhkan keadilan.
Mereka membutuhkan perlindungan.
Dan yang paling penting, mereka membutuhkan pengakuan bahwa di balik status sebagai pekerja migran terdapat manusia yang memiliki martabat yang tidak boleh dirampas oleh siapa pun.
Fall, Winter & Spring akhirnya menjadi lebih dari kisah Zuri dan perjalanannya di Seoul. Novel ini adalah sebuah pengingat bahwa di balik gemerlap sebuah negeri selalu terdapat manusia yang bekerja dalam diam agar roda ekonomi terus bergerak.
Dan manusia-manusia itu terlalu penting untuk sekadar dilupakan.
Sebagai sebuah novel, Fall, Winter & Spring berhasil memadukan perjalanan personal dengan persoalan sosial. Kekuatan utamanya terletak pada keberanian Nancy Dinar membawa pengalaman pekerja migran Indonesia ke tengah narasi tentang Korea Selatan. Di tengah derasnya budaya populer Korea di Indonesia, novel ini menawarkan perspektif yang lebih manusiawi: melihat negeri Ginseng bukan hanya dari gemerlapnya, tetapi juga dari mereka yang bekerja, terluka, bertahan dan berharap di dalamnya.
Discover more from suaramigrannusantara.org
Subscribe to get the latest posts sent to your email.