Suara Migran Nusantara Logo
BERITA

UMS dan IKMI Korea Selatan Perkuat Literasi Keuangan dan Kesehatan PMI

  Admin2 · 
Sumber: https://news.ums.ac.id/id/wp-content/uploads/sites/2/2026/09/IMG_8018.jpeg
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

SEOUL, KOREA SELATAN — Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Korea Selatan mendapatkan penguatan kapasitas melalui program literasi keuangan dan kesehatan yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Korea Selatan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat Indonesia di luar negeri, khususnya PMI yang menghadapi dinamika kehidupan dan pekerjaan di negara tujuan.

Program literasi tidak hanya diarahkan agar PMI mampu mengelola pendapatan secara lebih bijak, tetapi juga meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama bekerja di luar negeri.

PMI Perlu Memiliki Literasi Keuangan

Bekerja di luar negeri memberikan peluang bagi PMI untuk memperoleh pendapatan lebih baik. Namun, besarnya penghasilan tidak secara otomatis menjamin kesejahteraan pekerja dan keluarganya.

Kemampuan mengatur pendapatan, membuat anggaran, menabung, menghindari utang konsumtif, serta memahami produk keuangan menjadi keterampilan penting yang perlu dimiliki PMI.

Literasi keuangan juga berkaitan erat dengan tujuan migrasi. Jika sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan konsumsi, kesempatan PMI untuk membangun aset atau modal usaha setelah kembali ke Indonesia menjadi lebih kecil.

Karena itu, edukasi keuangan dapat menjadi instrumen penting untuk mengubah migrasi kerja dari sekadar strategi mencari penghasilan menjadi bagian dari perencanaan kehidupan jangka panjang.

Kesehatan Tidak Boleh Terabaikan

Selain keuangan, aspek kesehatan menjadi perhatian dalam program tersebut.

PMI bekerja dalam lingkungan yang memiliki karakteristik berbeda dengan Indonesia. Perbedaan cuaca, pola kerja, jenis pekerjaan, makanan, hingga tekanan psikologis dapat memengaruhi kondisi kesehatan pekerja.

Pemahaman mengenai pola hidup sehat, pencegahan penyakit, pemanfaatan fasilitas kesehatan, serta kemampuan mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan menjadi bagian penting dari perlindungan pekerja migran.

PMI juga perlu memahami bahwa menjaga kesehatan bukan hanya persoalan pribadi. Kondisi kesehatan pekerja berpengaruh terhadap kemampuan bekerja, pendapatan, serta kondisi keluarga yang bergantung pada hasil kerja mereka.

Pemberdayaan PMI di Negara Tujuan

Program UMS dan IKMI Korea Selatan memperlihatkan bahwa pemberdayaan PMI dapat dilakukan melalui pendekatan pendidikan yang sederhana tetapi memiliki dampak jangka panjang.

PMI tidak hanya membutuhkan informasi mengenai prosedur keberangkatan dan hak ketenagakerjaan. Mereka juga membutuhkan kemampuan praktis untuk mengelola kehidupan selama berada di negara tujuan.

Literasi keuangan dapat membantu PMI membuat keputusan ekonomi yang lebih rasional, sementara literasi kesehatan membantu mereka menjaga kualitas hidup selama masa kontrak kerja.

Dua aspek tersebut pada akhirnya saling berkaitan. Pendapatan yang baik akan lebih bermanfaat apabila dikelola dengan benar, sementara kemampuan mengelola keuangan juga akan terganggu apabila pekerja mengalami masalah kesehatan yang tidak tertangani.

Remitansi Harus Menjadi Modal Masa Depan

Salah satu tantangan yang dihadapi PMI adalah bagaimana mengubah remitansi menjadi sesuatu yang produktif.

Uang yang dikirimkan ke Indonesia seharusnya tidak seluruhnya habis untuk kebutuhan jangka pendek. Sebagian dapat diarahkan untuk pendidikan keluarga, membangun rumah secara proporsional, menambah aset, menabung, atau mempersiapkan usaha setelah kontrak kerja berakhir.

Di sinilah literasi keuangan memiliki peran strategis.

PMI yang memiliki perencanaan keuangan sejak awal keberangkatan akan lebih siap menentukan target tabungan, mengelola remitansi, serta mempersiapkan kehidupan setelah tidak lagi bekerja di Korea Selatan.

Dengan demikian, keberhasilan migrasi tidak hanya diukur dari berapa banyak uang yang berhasil dikirim ke tanah air, tetapi juga dari seberapa besar pendapatan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dalam jangka panjang.

Komunitas PMI Menjadi Ruang Belajar

Keberadaan organisasi dan komunitas masyarakat Indonesia di Korea Selatan juga memiliki posisi penting dalam proses pemberdayaan.

IKMI Korea Selatan dapat menjadi ruang bertukar informasi dan pengalaman bagi PMI, terutama bagi mereka yang baru pertama kali bekerja di negara tersebut.

Kegiatan edukasi yang melibatkan perguruan tinggi seperti UMS juga membuka peluang terjadinya transfer pengetahuan secara langsung kepada masyarakat Indonesia di luar negeri.

Model kolaborasi seperti ini dapat terus dikembangkan dengan melibatkan perguruan tinggi, organisasi masyarakat, pemerintah, perwakilan RI, komunitas PMI, serta lembaga keuangan dan kesehatan.

Perlindungan PMI Harus Bersifat Menyeluruh

Program literasi keuangan dan kesehatan pada akhirnya mengingatkan bahwa perlindungan PMI tidak cukup hanya dilakukan melalui regulasi dan pengawasan ketenagakerjaan.

Perlindungan juga harus mencakup peningkatan kapasitas individu, sehingga PMI memiliki kemampuan mengambil keputusan yang dapat melindungi dirinya sendiri.

PMI yang memahami pengelolaan uang akan lebih siap menghadapi persoalan ekonomi. PMI yang memahami kesehatan akan lebih mampu mengenali risiko dan mencari pertolongan ketika membutuhkan.

Karena itu, edukasi seperti yang dilakukan UMS bersama IKMI Korea Selatan layak dipandang sebagai bagian dari investasi sosial bagi pekerja migran Indonesia.

Dari Pekerja Migran Menjadi Masyarakat yang Berdaya

PMI berangkat ke luar negeri bukan hanya untuk bekerja. Mereka membawa harapan keluarga, membangun masa depan, dan pada banyak kasus menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarga di Indonesia.

Karena itu, program pemberdayaan selama berada di negara tujuan memiliki arti penting.

Literasi keuangan dapat membantu PMI merencanakan masa depan ekonominya. Literasi kesehatan dapat membantu mereka menjaga kemampuan bekerja dan kualitas hidup.

Jika keduanya berjalan beriringan, migrasi kerja tidak berhenti pada hubungan antara pekerja dan pemberi kerja, tetapi dapat menjadi proses peningkatan kapasitas manusia Indonesia di luar negeri.

Pada akhirnya, PMI yang berdaya bukan hanya PMI yang mampu memperoleh penghasilan di negara tujuan, tetapi juga mereka yang mampu menjaga kesehatan, mengelola pendapatan, memahami haknya, dan pulang ke Indonesia dengan bekal yang cukup untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

berita BP2MI Buminu Buruh migran CPMI HAM KP2MI migran Migrasi Muhammadiyah pekerja migran Pekerja Migran Indonesia PMI
Berita Terkait
Sumber: https://image.jpnn.com/resize/1200x800-80/arsip/normal/2026/09/10/forum-media-voice-indonesia-bersama-bogor-media-siber-networ-boyx.jpg
BERITA
Korban TPPO Kembali Bekerja ke Luar Negeri, Pemulihan Terbentur Kebutuhan Ekonomi
11 Sep 2026
Sumber: https://rri-portal-app-assets.obs.ap-southeast-4.myhuaweicloud.com/upload/berita/image/cirebon/thumbs/full_1785239825720789_c8162bb055_berita_cirebon.webp
BERITA
Nadia Permatasari Mengaku Disekap di Tiongkok, Disnaker Indramayu Sebut Keberangkatan Diduga Ilegal
11 Sep 2026
Sumber: https://delapanmedia.sgp1.digitaloceanspaces.com/riauaktual/6756903559-whatsapp-image-2026-09-07-at-11-16-51.jpeg
BERITA
Polda Riau Gagalkan Pengiriman 10 Calon PMI Nonprosedural ke Malaysia
11 Sep 2026