Eni Gandasari: Dari 15 Tahun Merantau, Menjadikan Pengalaman Migrasi sebagai Jalan Membangun Bisnis
Ada perjalanan hidup yang dimulai bukan dari sebuah rencana besar, melainkan dari kebutuhan untuk bertahan. Ada pula mimpi yang baru menemukan bentuknya setelah seseorang melewati perjalanan panjang, kegagalan, kehilangan, dan berkali-kali harus memulai kembali. Perjalanan Eni Wartuti, yang dikenal sebagai Eni Gandasari, merupakan salah satu kisah purna Pekerja Migran Indonesia yang memperlihatkan bagaimana pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan baru ketika kembali ke tanah air.
Dalam podcast Suara Migran Nusantara yang dipandu Rati dan ditayangkan melalui kanal YouTube Buminu Sarbumusi, Eni menceritakan perjalanan hidupnya sebagai pekerja migran yang berlangsung sekitar 15 tahun di sejumlah negara. Ia berangkat dari Kebumen dengan latar belakang pendidikan SMP dan kondisi ekonomi keluarga yang mendorongnya mencari jalan untuk mengubah kehidupan.
Arab Saudi menjadi negara pertama yang ditujunya. Eni berangkat bersama rombongan sekitar 25 orang dan menjalani masa kerja selama dua tahun. Setelah itu, perjalanan migrasinya berlanjut ke Taiwan selama sekitar tiga tahun dan kemudian ke sejumlah negara lainnya, termasuk Hong Kong. Selama bertahun-tahun berada di luar negeri, Eni mengalami langsung bagaimana rasanya menjadi orang asing di tengah masyarakat dengan bahasa, budaya, kebiasaan dan sistem kehidupan yang berbeda.
Baginya, perbedaan budaya merupakan salah satu tantangan pertama yang harus dihadapi pekerja migran. Ketika pertama kali datang ke negara tujuan, kemampuan bahasa yang terbatas membuat komunikasi tidak selalu berjalan mudah. Ia mengaku pernah mengalami perkataan yang menurutnya merupakan bagian dari proses adaptasi terhadap lingkungan tempat bekerja. Dari pengalaman itu ia belajar bahwa pekerja migran harus memiliki kesiapan mental, memahami budaya negara tujuan dan tidak datang dengan anggapan bahwa bekerja di luar negeri sama dengan berlibur ke luar negeri.
Bekerja di luar negeri, dalam pengalaman Eni, menuntut disiplin, tanggung jawab, kejujuran dan ketekunan. Lebih dari itu, seorang pekerja migran harus memiliki keberanian untuk menghadapi situasi yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Ia membawa sebuah prinsip yang kemudian menjadi semacam pegangan dalam perjalanan migrasinya: pantang pulang sebelum berhasil.
Namun keberhasilan bagi Eni tidak semata-mata diukur dari jumlah uang yang diperoleh. Masa migrasi justru ia manfaatkan untuk memperkaya pengetahuan. Ketika mendapatkan waktu libur di Hong Kong, ia menggunakannya untuk membaca buku, mengikuti pelatihan, kursus dan berbagai kegiatan yang dapat menambah keterampilan. Pengalaman itu kelak menjadi bagian penting ketika ia memutuskan kembali ke Indonesia.
Keputusan untuk pulang ternyata bukan sesuatu yang sederhana. Setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, Eni mengaku sempat merasa tidak mempunyai masa depan di Indonesia. Lingkungan sosialnya telah berubah, sementara dirinya sendiri merasa harus memulai kembali kehidupan dari awal. Ia bahkan menceritakan bahwa majikannya pernah mengatakan bahwa apabila setelah kembali ke Indonesia dirinya tidak bahagia, ia dapat kembali bekerja di luar negeri.
Perasaan tersebut memperlihatkan satu persoalan yang sering kali tidak terlihat dalam narasi keberhasilan migrasi: kepulangan juga membutuhkan kesiapan. Seorang pekerja migran bukan hanya perlu disiapkan ketika akan berangkat, tetapi juga membutuhkan bekal ketika kembali. Selama bertahun-tahun seseorang dapat membangun kehidupan di negara tujuan, kemudian harus kembali menghadapi lingkungan sosial dan ekonomi yang berbeda ketika berada di tanah air.
Eni memilih menghadapi situasi tersebut dengan keyakinan bahwa pengalaman di luar negeri seharusnya dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan di Indonesia. Ia berpikir, jika sebelumnya ia datang ke negara asing tanpa menguasai bahasa dan budaya setempat tetapi kemudian mampu bertahan dan berkembang, maka pengalaman tersebut semestinya dapat digunakan untuk membangun sesuatu di negeri sendiri.
Pilihan itu kemudian membawa Eni memasuki dunia kewirausahaan. Namun jalan yang ditempuh tidak langsung menghasilkan keberhasilan. Ia sempat menjalankan usaha ekspedisi, properti dan fashion. Ketiga bidang tersebut, menurut penuturannya, mengalami kegagalan. Usaha yang pernah dibangun runtuh dan tidak menyisakan banyak hal.
Bagi sebagian orang, kegagalan semacam itu mungkin menjadi alasan untuk berhenti. Bagi Eni, pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan. Pengalaman berdagang ketika masih berada di Hong Kong, termasuk menjual pakaian, busana muslim dan sajadah di Victoria Park, telah membentuk keberanian serta ketertarikannya terhadap dunia perdagangan.
Dari titik itulah kemudian muncul perjalanan menuju bisnis kopi.
Eni memulai usaha kopinya dari skala yang sangat kecil. Ia menyebut memulai dari satu kilogram kopi. Dari jumlah kecil tersebut, perlahan ia membangun Gandasari Coffee hingga kemudian memiliki perusahaan bernama PT Gandasari Agritek Nusantara, dengan dirinya sebagai direktur utama.
Perjalanan tersebut membuat identitas Eni tidak lagi hanya sebagai mantan PMI. Ia mulai membangun identitas baru sebagai pengusaha. Bahkan penampilan yang menjadi ciri khasnya ia manfaatkan sebagai bagian dari personal branding. Topi dan kacamata yang kerap dikenakannya menjadi semacam tanda pengenal. Ia menyebut dirinya sebagai “billboard berjalan” karena ketika bepergian, orang dapat mengenal dirinya sekaligus mengingat produk yang dibawanya.
Dari usaha yang dibangun secara bertahap itu, orientasi bisnis Eni kemudian berkembang menuju pasar internasional. Ia mengatakan saat ini fokus mengembangkan penetrasi ekspor melalui pola kerja sama business to business atau B2B. Gandasari Coffee tidak hanya diarahkan untuk pasar dalam negeri, tetapi juga dikembangkan untuk menjangkau mitra di sejumlah negara.
Jepang dan Korea menjadi dua negara yang disebut Eni dalam pembicaraan tersebut. Ia juga menceritakan pengalaman menjajaki pasar di sejumlah negara lain, termasuk Mozambik, Nigeria dan Turki, serta persiapan untuk memasuki pasar Amerika Serikat dan Prancis.
Ada perubahan posisi yang menarik dalam perjalanan tersebut. Dahulu Eni menjadi tenaga kerja yang dikirim dan bekerja di luar negeri. Kini ia berupaya membawa produk Indonesia ke luar negeri.
“Dulu tenaga saya yang diekspor, kalau saat ini produk Indonesia yang saya ekspor ke beberapa negara,” kata Eni.
Kalimat tersebut menjadi salah satu titik penting dalam cerita perjalanan hidupnya. Migrasi yang dahulu menjadi jalan untuk mencari penghasilan kini dipandang sebagai sumber pengalaman yang dapat digunakan untuk membangun aktivitas ekonomi baru.
Tetapi memasuki dunia ekspor ternyata menghadirkan tantangan yang berbeda. Eni harus mempelajari budaya bisnis negara tujuan, regulasi perdagangan, bahasa, kontrak, perbedaan waktu, hingga pengetahuan mengenai produk. Ketika berhadapan dengan mitra dari Jepang, misalnya, keterbatasan bahasa membuatnya membutuhkan penerjemah. Pada saat yang sama, ia harus mampu menjelaskan produk secara detail, mulai dari proses budidaya kopi, pengolahan, pengemasan hingga distribusi.
Bagi Eni, seorang pengusaha tidak cukup hanya mengetahui barang yang dijual. Pengetahuan mengenai produk dan kemampuan memahami kebutuhan pasar menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dengan calon mitra. Ia juga menekankan pentingnya memahami budaya bisnis karena setiap negara memiliki cara berkomunikasi dan membangun hubungan yang berbeda.
Pengalaman tersebut membuatnya terus belajar. Ia bahkan mengaku harus mempelajari kontrak perdagangan dan berbagai ketentuan ekspor meskipun dirinya bukan lulusan hukum. Menurutnya, dunia perdagangan internasional tidak memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk berhenti belajar.
Perjalanan Eni juga menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hadir dalam satu garis lurus. Ada kegagalan, kerugian dan keputusan untuk kembali memulai. Salah satu pengalamannya adalah ketika melakukan perhitungan harga dalam transaksi internasional pada waktu tengah malam karena perbedaan zona waktu. Kesalahan perhitungan tersebut membuatnya mengalami kerugian.
Namun pengalaman tersebut tidak membuatnya meninggalkan dunia usaha. Ia justru menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Dari berbagai pengalaman tersebut, Eni kemudian semakin memusatkan perhatian pada bisnis kopi.
Di balik kisah kewirausahaannya, Eni membawa satu gagasan yang terus ia sampaikan kepada pekerja migran: pengalaman bekerja di luar negeri jangan berhenti sebagai pengalaman. Pengalaman harus dikembangkan menjadi pengetahuan, keterampilan, jaringan dan keberanian untuk menciptakan sesuatu.
Menurut Eni, menjadi PMI bukanlah tujuan akhir. Migrasi merupakan salah satu jalan yang ditempuh seseorang untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan mendapatkan pengalaman. Setelah pengalaman itu diperoleh, tantangannya adalah bagaimana pengalaman tersebut dikembangkan ketika pekerja migran kembali ke Indonesia.
Pandangan tersebut juga menjadi alasan Eni membuka ruang konsultasi dan berbagi pengalaman mengenai kewirausahaan. Ia mengatakan pekerja migran yang ingin kembali ke Indonesia tidak perlu merasa sendirian ketika harus memulai kembali. Pengalaman sebagai PMI, menurutnya, justru dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha apabila dikombinasikan dengan keterampilan dan kemauan untuk belajar.
Ia juga mendorong mahasiswa dan generasi muda yang ingin menjadi pengusaha agar tidak takut memulai sesuatu yang berbeda. Menurutnya, keberanian merupakan salah satu unsur penting dalam kewirausahaan, tetapi keberanian tersebut harus diikuti dengan kemauan untuk terus tumbuh dan meningkatkan kemampuan.
Bagi Eni, dunia yang terus berubah menuntut seseorang untuk memiliki kemampuan beradaptasi. Ia menyampaikan bahwa tidak ada kepastian bahwa kehidupan akan selalu berjalan sesuai rencana. Karena itu, yang perlu dibangun adalah kesiapan menghadapi perubahan.
Pesan tersebut sebenarnya beririsan dengan pengalaman panjang yang telah ia jalani. Ketika pertama kali berangkat sebagai PMI, ia harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang asing. Ketika pulang, ia kembali menghadapi situasi yang berbeda dan harus memulai dari awal. Ketika membangun usaha, ia mengalami kegagalan. Ketika memasuki pasar ekspor, ia kembali berhadapan dengan bahasa, regulasi, budaya dan karakter bisnis yang berbeda.
Dengan kata lain, perjalanan Eni adalah perjalanan adaptasi yang berlangsung terus-menerus.
Dari seorang perempuan dengan pendidikan formal SMP yang berangkat ke luar negeri karena kebutuhan ekonomi, Eni kemudian melewati sekitar 15 tahun kehidupan sebagai pekerja migran. Dari sana ia kembali ke Indonesia, mencoba sejumlah usaha, mengalami kegagalan, memulai kembali dari satu kilogram kopi, membangun Gandasari Coffee dan kemudian mengembangkan perusahaan serta pasar ekspor.
Kisah tersebut tidak menempatkan keberhasilan sebagai sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang terdiri dari migrasi, pembelajaran, kegagalan, keberanian dan kesempatan untuk memulai kembali.
Eni menyebut bahwa dirinya tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang CEO. Namun perjalanan hidup membawanya ke posisi tersebut. Apa yang dahulu tidak pernah dibayangkan justru menjadi sesuatu yang kemudian diperjuangkan.
Bagi komunitas pekerja migran, cerita Eni dapat dibaca sebagai sebuah pengingat bahwa kepulangan bukan berarti berakhirnya perjalanan. Di balik pengalaman bertahun-tahun bekerja di luar negeri terdapat pengetahuan mengenai budaya, disiplin kerja, jaringan, keberanian dan pengalaman menghadapi berbagai situasi. Persoalannya adalah bagaimana seluruh modal tersebut dapat dikembangkan setelah seseorang kembali ke tanah air.
Pada akhirnya, Eni Gandasari tidak hanya berbicara tentang kopi. Ia berbicara tentang perjalanan manusia yang terus berubah. Tentang seseorang yang berangkat karena keterbatasan, belajar di negeri orang, pulang dengan ketidakpastian, mengalami kegagalan, lalu kembali membangun kehidupan melalui usaha.
Dari tenaga yang dahulu bekerja di luar negeri, ia kini berusaha mengirim produk Indonesia ke luar negeri. Dari seorang PMI, ia kemudian membangun identitas sebagai pengusaha. Dan dari pengalaman pribadi tersebut, ia memilih untuk membagikan satu pesan kepada pekerja migran dan generasi muda: pengalaman tidak akan banyak berarti apabila tidak dikembangkan menjadi tindakan.
Leave a Reply