Suara Migran Nusantara Logo
OPINI

Jutaan Pekerja Migran di Teluk Terancam di Tengah Memanasnya Perang di Timur Tengah

 ·  Admin2
Jutaan Pekerja Migran di Teluk Terancam di Tengah Memanasnya Perang di Timur Tengah

Oleh Claire Jiao dan Neil Jerome Morales

Manila/Timur Tengah – Jutaan pekerja migran yang menjadi penopang berbagai sektor vital di Timur Tengah kini berada dalam situasi berbahaya ketika Iran melancarkan serangan balasan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.

Negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan menyuplai sebagian besar tenaga kerja di kawasan Teluk, termasuk tenaga medis, pekerja konstruksi, hingga pekerja rumah tangga. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan jumlah pekerja migran di kawasan tersebut mencapai lebih dari 24 juta orang.

Pemerintah Filipina, Indonesia, Thailand, dan Pakistan pada Senin (2/3) menyatakan sedang memantau lokasi warga negara mereka di kawasan tersebut dan mengimbau mereka untuk tetap berada di tempat perlindungan masing-masing. Dalam pernyataan terpisah, negara-negara tersebut juga menyatakan tengah menyiapkan rencana evakuasi dan pemulangan warga apabila situasi keamanan semakin memburuk.

Sementara itu, Vietnam untuk sementara menghentikan pengiriman pekerja ke Timur Tengah dengan peringatan bahwa ketegangan di kawasan tersebut masih berpotensi berlangsung dan tetap sangat tidak stabil. Bangladesh juga melaporkan sejumlah pekerjanya terjebak akibat penutupan wilayah udara dan meminta negara lain memberikan akses masuk bagi para pekerja tersebut setelah situasi memungkinkan.

Perdana Menteri India Narendra Modi, yang memiliki sekitar 9 juta pekerja di kawasan Teluk, mengatakan melalui unggahan di platform X bahwa dirinya telah berbicara dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed mengenai upaya “melindungi” komunitas warga India di sana. Kabinet India juga menginstruksikan seluruh kementerian untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna membantu warga negaranya yang terdampak perkembangan situasi tersebut.

Korban jiwa juga mulai dilaporkan. Seorang pekerja migran asal Filipina yang bekerja sebagai perawat lansia, Mary Anne Velasquez de Vera, tewas setelah terkena serpihan ledakan saat membantu orang yang dirawatnya menuju tempat perlindungan bom di Tel Aviv, menurut Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. dalam pengarahan pers pada Minggu malam. Selain itu, seorang pekerja migran Filipina lainnya dilaporkan terluka di Kuwait.

Pemerintah Uni Emirat Arab juga melaporkan tiga korban tewas yang berasal dari Pakistan, Nepal, dan Bangladesh.

Pekerja migran merupakan tulang punggung ekonomi Timur Tengah. Menurut data ILO, mereka menyumbang lebih dari 40 persen tenaga kerja di kawasan tersebut, proporsi tertinggi di dunia.

Namun banyak dari mereka bekerja di sektor berpenghasilan rendah dan sering kali tidak memiliki perlindungan yang memadai. Dalam konflik-konflik sebelumnya di Timur Tengah, sejumlah pekerja migran dilaporkan ditinggalkan oleh pemberi kerja mereka tanpa menerima gaji maupun dokumen perjalanan.

Menteri Pekerja Migran Filipina Hans Leo Cacdac mengatakan dalam konferensi pers pada Senin bahwa pemerintah siap memerintahkan pemulangan wajib terhadap sekitar 2,4 juta pekerja Filipina di Timur Tengah apabila konflik semakin meningkat.

Namun langkah tersebut bukan keputusan mudah. Menteri Dalam Negeri dan Pemerintahan Daerah Filipina Jonvic Remulla mengatakan relokasi besar-besaran dalam skala tersebut dapat menimbulkan dampak “sangat menghancurkan” baik bagi Filipina maupun negara tempat para pekerja tersebut bekerja.

“Ini tidak sesederhana yang terdengar. Orang Filipina mengoperasikan mungkin sekitar 50 persen kapasitas layanan kesehatan dan sektor jasa di Uni Emirat Arab,” ujar Remulla melalui pesan singkat. “Kami harus bersiap menghadapi segala kemungkinan.”

Seorang pekerja ritel Filipina berusia 34 tahun di Qatar, Kris Paglicawan, mengatakan ini adalah pertama kalinya ia menyaksikan serangan dalam skala sebesar ini selama 11 tahun bekerja di negara Teluk tersebut.

Ia kini memilih tetap berada di dalam rumah setelah puing-puing rudal jatuh hanya beberapa kilometer dari tempat tinggalnya di pusat kota pada akhir pekan lalu. Toko kosmetik tempatnya bekerja juga untuk sementara ditutup.

“Sudah tiga hari kami tidak bisa tidur. Suara dentuman saat rudal dicegat sangat jelas terdengar,” katanya dalam wawancara melalui telepon.

— Dengan kontribusi laporan dari Randy Thanthong-Knight, Philip J. Heijmans, Shruti Srivastava, Arun Devnath, Faseeh Mangi, Katrina Nicholas, dan Francesca Stevens.
©2026 Bloomberg L.P.

Sumber: https://www.thestar.com.my/aseanplus/aseanplus-news/2026/03/02/millions-of-migrant-workers-in-gulf-at-risk-as-war-rages-on-in-the-middle-east#:~:text=Related%20Stories,them%20to%20shelter%20in%20place.

amerika berita HAM iran israel migran pekerja migran perang tengah timur timurtengah
Berita Terkait
Lebaran di Tanah Orang: Duka Pekerja Migran Indonesia di Bawah Langit Timur Tengah yang Membara
OPINI
Lebaran di Tanah Orang: Duka Pekerja Migran Indonesia di Bawah Langit Timur Tengah yang Membara
23 Mar 2026
Pekerja Migran Indonesia, Logika Materialis Tan Malaka dan Peradaban yang Memakan Anaknya Sendiri
OPINI
Pekerja Migran Indonesia, Logika Materialis Tan Malaka dan Peradaban yang Memakan Anaknya Sendiri
18 Mar 2026
Mengapa Jurusan Hubungan Internasional Masih Buta pada Pahlawan Devisa?
OPINI
Mengapa Jurusan Hubungan Internasional Masih Buta pada Pahlawan Devisa?
10 Mar 2026