Krisis Iklim Sudah Sampai di Depan Rumah, Greenpeace Indonesia Peringatkan
JAKARTA — Greenpeace Indonesia memperingatkan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman abstrak di masa depan, melainkan realitas yang sudah merangsek ke depan pintu setiap rumah tangga di Indonesia. Dalam kampanye bertajuk “Krisis Iklim Sudah Sampai di Depan Rumah,” organisasi lingkungan internasional itu mendokumentasikan bagaimana banjir rob, kekeringan ekstrem, dan badai yang semakin ganas telah mengancam penghidupan jutaan warga Indonesia — khususnya nelayan, petani, dan komunitas pesisir.
\n\n
“Dulu bencana iklim hanya terlihat di layar telepon, jauh dari kita. Kini kamulah yang mendokumentasikannya dari genangan air di depan rumahmu sendiri,” demikian narasi kampanye Greenpeace Indonesia (2024) yang viral di media sosial.
\n\n
Dampak krisis iklim terhadap pola migrasi sangat nyata: komunitas yang kehilangan lahan produktif akibat kekeringan atau banjir cenderung memilih jalur kerja ke luar negeri sebagai strategi bertahan hidup. Indonesia, sebagai salah satu negara paling rentan terhadap perubahan iklim di Asia Tenggara, menghadapi risiko gelombang “migrasi iklim” yang besar jika tidak segera mengambil langkah adaptasi dan mitigasi yang serius.
\n\n
Sesuai laporan Suara Migran Nusantara, migrasi kerja ke luar negeri telah menjadi “solusi nyata atasi pengangguran” bagi banyak keluarga yang terdampak bencana iklim. Namun para pegiat lingkungan mengingatkan bahwa solusi struktural — berupa program ketahanan iklim, diversifikasi mata pencaharian, dan investasi infrastruktur pedesaan — jauh lebih penting dan berkelanjutan daripada mengandalkan ekspor tenaga kerja sebagai katup pelepas tekanan sosial.
\n\n
Sumber: Greenpeace Indonesia (2024); UNAIR (2024); Imigrasi.go.id (2026); Suara Migran Nusantara (2026).