Victor Agadjanian: Membaca Migrasi dari Sudut yang Tak Terlihat
Di antara para ilmuwan sosial yang meneliti migrasi internasional, nama Victor Agadjanian menempati posisi yang unik. Berbeda dengan banyak peneliti migrasi yang hanya berfokus pada arus perpindahan manusia dan dampak ekonomi makro, Agadjanian justru menaruh perhatian pada kehidupan yang tertinggal di belakang migrasi: keluarga, perempuan, komunitas desa, kesehatan reproduksi, hingga risiko HIV/AIDS.
Sebagai profesor sosiologi di Arizona State University, Agadjanian telah menghabiskan sebagian besar karier akademiknya untuk meneliti hubungan antara migrasi tenaga kerja internasional, perubahan sosial, dan kesehatan masyarakat, terutama di kawasan bekas Uni Soviet, Asia Tengah, Kaukasus, dan Afrika Sub-Sahara. Penelitiannya memperlihatkan bahwa migrasi bukan sekadar perpindahan tenaga kerja, melainkan proses sosial yang mengubah struktur keluarga, relasi gender, hingga masa depan komunitas asal para migran.
Salah satu karya pentingnya adalah “Embedding or Uprooting? The Effects of International Labour Migration on Rural Households in Armenia” yang terbit dalam jurnal International Migration tahun 2014. Bersama Arusyak Sevoyan, Agadjanian meneliti apakah migrasi tenaga kerja laki-laki dari desa-desa Armenia ke Rusia memperkuat atau justru melemahkan keterikatan keluarga terhadap komunitas asalnya. Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup paradoksal: migrasi tidak selalu memperkuat pembangunan desa. Keluarga migran cenderung memiliki keterikatan ekonomi yang lebih lemah terhadap komunitas lokal, sementara istri para migran menunjukkan keinginan yang lebih besar untuk ikut bermigrasi ke luar negeri, terutama ketika masa migrasi suami berlangsung lebih lama.
Dalam karya lainnya, “Economic Incorporation, Civil Inclusion, and Social Ties: Plans to Return Home among Central Asian Migrant Women in Moscow, Russia” yang dimuat dalam International Migration Review tahun 2014, Agadjanian mengkaji perempuan migran dari Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Uzbekistan yang bekerja di Moskow. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk kembali ke negara asal tidak hanya ditentukan oleh pendapatan, tetapi juga oleh status hukum, pengalaman diskriminasi etnis, serta jaringan sosial yang mereka bangun di negara tujuan. Dengan kata lain, migrasi bukan semata persoalan ekonomi, melainkan juga soal penerimaan sosial dan identitas kewargaan.
Perhatian Agadjanian terhadap aspek kesehatan migrasi terlihat jelas dalam penelitiannya mengenai hubungan migrasi tenaga kerja dan penyakit menular seksual di Armenia. Ia menemukan bahwa migrasi laki-laki menciptakan dinamika baru dalam relasi suami-istri, komunikasi keluarga, serta risiko penularan infeksi menular seksual dan HIV/AIDS. Temuan ini memperluas perspektif bahwa migrasi bukan hanya menghasilkan remitansi ekonomi, tetapi juga membawa konsekuensi kesehatan yang sering luput dari perhatian pembuat kebijakan.
Ketertarikannya terhadap isu kesehatan dan migrasi juga tercermin dalam penelitian mengenai migrasi paksa dan HIV/AIDS di Angola serta berbagai kajian mengenai migrasi di Afrika Sub-Sahara. Dalam banyak tulisannya, Agadjanian menunjukkan bagaimana konflik, kemiskinan, perpindahan penduduk, dan ketimpangan gender saling berkelindan membentuk kerentanan sosial yang kompleks. Ia menjadi salah satu akademisi yang mendorong agar studi migrasi tidak dipisahkan dari kajian kesehatan masyarakat dan pembangunan manusia.
Pada 2008, melalui penelitian “Wanting to Leave? Intentions to Migrate Abroad among Youth in Kyrgyzstan”, Agadjanian juga mengkaji aspirasi migrasi generasi muda Asia Tengah. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa keinginan untuk bermigrasi sering kali tidak hanya lahir dari kebutuhan ekonomi, tetapi juga dari persepsi mengenai peluang hidup yang lebih baik di luar negeri. Migrasi, dalam pandangannya, adalah cerminan harapan sekaligus kritik diam-diam terhadap kondisi sosial-ekonomi negara asal.
Secara keseluruhan, kontribusi Victor Agadjanian telah membantu menggeser cara dunia akademik memahami migrasi. Ia menunjukkan bahwa migrasi tenaga kerja internasional tidak dapat dinilai hanya dari jumlah remitansi yang dikirim atau angka pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah bagaimana migrasi mengubah kehidupan keluarga yang ditinggalkan, posisi perempuan dalam masyarakat, kesehatan reproduksi, serta keberlanjutan komunitas asal para migran. Melalui karya-karyanya, Agadjanian mengingatkan bahwa di balik statistik migrasi terdapat manusia, keluarga, dan desa-desa yang ikut berubah ketika seseorang memutuskan untuk pergi mencari kehidupan yang lebih baik di negeri lain.