Cerpen: “Dua Cermin di Negeri Asing”
Oleh: TYN
Malam turun perlahan di sebuah negeri yang jauh dari kampung halaman. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya ke jendela apartemen kecil tempat Rina tinggal. Ia seorang pekerja migran. Setiap pagi ia membersihkan rumah orang lain, tetapi setiap malam ia berusaha membersihkan rindu yang tak pernah benar-benar selesai.
Di sudut kamarnya tergantung foto suaminya, Arman, yang tinggal di Indonesia.
Dulu, sebelum keberangkatan itu, mereka berjanji.
“Kita akan menjaga cinta ini seperti menjaga api di tengah hujan,” kata Arman.
“Dan kita akan pulang sebagai orang yang sama,” jawab Rina.
Namun waktu sering kali menjadi pencuri yang tak terlihat.
Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun.
Kesepian mulai berbicara lebih keras daripada janji.
Suatu malam, Rina berkenalan dengan seorang pria melalui media sosial. Awalnya hanya percakapan ringan.
“Apa kabar?” tanya pria itu.
“Baik,” jawab Rina.
Tetapi manusia sering kali tidak mencari jawaban ketika bertanya kabar. Mereka mencari seseorang yang bersedia mendengar luka yang tak terucapkan.
Pria itu menjadi tempat cerita.
Tempat keluh kesah.
Tempat pelarian.
Dan tanpa disadari, tempat yang perlahan menggantikan ruang yang seharusnya dijaga.
Di kampung halaman, Arman juga sedang berperang dengan kesunyian.
Rumah terasa terlalu besar untuk ditinggali seorang diri.
Setiap malam ia duduk di teras memandangi jalan desa.
Di sebelah rumah tinggal seorang perempuan yang juga sering merasa sepi.
Awalnya hanya saling menyapa.
Kemudian saling membantu.
Lalu saling memahami.
Dan seperti air yang terus menetes pada batu, kebiasaan perlahan berubah menjadi keterikatan.
Suatu sore perempuan itu bertanya,
“Mas Arman, apakah menunggu selalu harus menyakitkan?”
Arman terdiam.
Lalu menjawab,
“Mungkin tidak. Tapi kadang yang menyakitkan bukan menunggu, melainkan merasa tidak lagi ditunggu.”
Kalimat itu menjadi pintu yang membuka kesalahan berikutnya.
Di dua tempat berbeda, dua hati sedang berjalan menjauhi kompas yang sama.
Rina mengira ia sedang mencari kebahagiaan.
Arman mengira ia sedang mencari pengertian.
Padahal keduanya hanya sedang mencari pembenaran.
Dan pembenaran adalah topeng yang paling sering dipakai manusia ketika ingin berdamai dengan kesalahannya sendiri.
Suatu malam, Rina menatap bayangannya di cermin.
Ia bertanya pada dirinya sendiri,
“Apakah aku masih mencintai suamiku?”
Cermin tentu tidak menjawab.
Karena cermin hanya memantulkan wajah, bukan kejujuran.
Di waktu yang hampir bersamaan, Arman juga duduk sendirian di teras.
Ia bertanya kepada langit,
“Apakah kesepian dapat menjadi alasan untuk mengkhianati?”
Angin berhembus.
Daun-daun bergerak.
Namun semesta tetap diam.
Sebab ada pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui sebelum ditanyakan.
Beberapa bulan kemudian, kebenaran datang seperti fajar.
Pelan.
Pasti.
Tak dapat dicegah.
Rina mengetahui perselingkuhan suaminya.
Arman mengetahui hubungan yang dijalin Rina di media sosial.
Mereka saling marah.
Saling menyalahkan.
Saling menunjuk.
Namun pada akhirnya keduanya lelah.
Karena dua jari yang menunjuk orang lain selalu menyisakan tiga jari yang mengarah pada diri sendiri.
Dalam percakapan yang panjang melalui panggilan video, mereka akhirnya terdiam.
Lama sekali.
Kemudian Rina berkata,
“Kita berdua telah kehilangan arah.”
Arman mengangguk.
“Bukan karena orang ketiga?”
“Bukan,” jawab Rina lirih. “Orang ketiga hanya masuk melalui pintu yang kita biarkan terbuka.”
Arman menunduk.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tidak sedang membela diri.
Mereka sedang melihat diri.
Rina lalu berkata,
“Mas, menurutmu apa yang paling sulit dijaga dalam hidup?”
Arman menjawab,
“Kepercayaan.”
“Lebih sulit daripada mencari uang?”
“Ya.”
“Lebih sulit daripada menahan rindu?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Arman tersenyum pahit.
“Karena uang yang hilang bisa dicari kembali. Rindu yang hilang bisa dipertemukan kembali. Tetapi kepercayaan yang pecah selalu meninggalkan bekas meski berhasil diperbaiki.”
Mereka kembali diam.
Diam yang kali ini bukan karena marah.
Melainkan karena sadar.
Pada akhirnya mereka memilih jalan yang tidak mudah: mengakui kesalahan masing-masing.
Sebab kebijaksanaan tidak lahir dari keberhasilan menjadi sempurna.
Ia lahir dari keberanian mengakui ketidaksempurnaan.
Malam itu Rina menutup aplikasi media sosial yang selama ini menjadi tempat pelariannya.
Arman menjauh dari hubungan yang selama ini memberinya kenyamanan palsu.
Mereka tidak tahu apakah cinta mereka akan kembali seperti dulu.
Namun mereka memahami satu hal.
Bahwa cinta bukan sekadar perasaan.
Cinta adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari.
Dan kesetiaan bukanlah keadaan ketika godaan tidak ada.
Kesetiaan adalah keputusan untuk tetap pulang meskipun banyak jalan lain yang tampak lebih mudah.
Sebelum tidur, Rina menulis sebuah kalimat di buku hariannya:
“Kesepian bukanlah musuh terbesar manusia. Musuh terbesar manusia adalah ketika ia menggunakan kesepian untuk membenarkan pengkhianatan.”
Di kampung halaman, Arman menulis kalimat yang hampir serupa:
“Setiap manusia memiliki alasan untuk berbuat salah. Tetapi tidak semua alasan dapat mengubah kesalahan menjadi kebenaran.”
Dan di bawah langit yang sama, meski dipisahkan ribuan kilometer, mereka akhirnya memahami pelajaran yang terlambat datang:
Bahwa jarak tidak pernah menghancurkan hubungan.
Yang menghancurkan hubungan adalah ketika hati berhenti menjaga arah pulang.
Discover more from suaramigrannusantara.org
Subscribe to get the latest posts sent to your email.