Suara Migran Nusantara Logo
BERITA

SMK Go Global Gelombang 3 Dibuka, Pemerintah Kejar Penyerapan Lowongan Kerja Luar Negeri

  Admin2 · 
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT7BQQPySVT_I5lsdnn1Mj0UGVaDBaVZxLU_Ui4wg1V2_U1s22y0q6aHlEj&s=10
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

JAKARTA — Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) membuka pendaftaran Program SMK Go Global Batch 1 Gelombang 3 pada 1–11 September 2026. Pendaftaran tersebut dilakukan melalui 20 Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) di berbagai wilayah Indonesia. Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat penyiapan tenaga kerja Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja internasional sekaligus meningkatkan peluang penempatan pekerja migran Indonesia melalui jalur yang resmi dan terlindungi.

Pembukaan Gelombang 3 berlangsung ketika pemerintah mencatat masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara jumlah peluang kerja luar negeri yang tersedia dan jumlah posisi yang telah terisi. Berdasarkan data Sistem Informasi Pelayanan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI) per 30 Agustus 2026, terdapat 289.938 peluang kerja luar negeri yang telah terverifikasi. Namun, baru 74.335 posisi atau sekitar 25,64 persen yang telah terserap. Artinya, masih terdapat 215.603 peluang kerja yang belum terisi. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Indonesia bukan semata-mata kekurangan kesempatan kerja, tetapi juga bagaimana menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan pemberi kerja di luar negeri.

Program SMK Go Global secara khusus diarahkan kepada lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dan calon pekerja migran yang membutuhkan peningkatan kompetensi sebelum memasuki pasar kerja internasional. Pemerintah menempatkan pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi, kemampuan bahasa dan kesiapan kerja sebagai bagian dari proses penyiapan calon PMI. Pendekatan tersebut penting karena pasar kerja internasional tidak hanya membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi juga pekerja dengan keterampilan teknis dan standar kompetensi tertentu sesuai kebutuhan masing-masing negara tujuan.

Wakil Menteri P2MI Christina Aryani menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menghubungkan proses pelatihan dengan kebutuhan pekerjaan yang tersedia di pasar global. Pemerintah tidak ingin pelatihan berhenti pada pemberian keterampilan atau sertifikat, tetapi diarahkan agar peserta memperoleh akses terhadap peluang pekerjaan melalui proses job matching. Setelah mengikuti pelatihan, peserta akan mendapatkan pendampingan kesiapan kerja, informasi mengenai peluang kerja dan fasilitasi pertemuan dengan mitra industri maupun Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia.

Pada pelaksanaan Batch 1 Gelombang 1 dan 2, pemerintah sebelumnya menyatakan telah memilih 3.340 peserta untuk mengikuti pelatihan yang berlangsung dalam 167 kelas di 20 wilayah kerja BP3MI. Angka tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan program masih berada pada tahap awal jika dibandingkan dengan target penempatan yang telah ditetapkan pemerintah. Peserta yang mengikuti pelatihan juga belum dapat secara otomatis dihitung sebagai pekerja yang telah ditempatkan karena masih harus melewati tahapan kompetensi, sertifikasi, seleksi, pencocokan pekerjaan, kontrak kerja dan proses keberangkatan.

Pemerintah menargetkan Program SMK Go Global dapat berkontribusi terhadap penempatan 500.000 tenaga kerja Indonesia ke pasar internasional hingga 2029. Dari target tersebut, sebanyak 300.000 ditujukan kepada lulusan SMK dan 200.000 berasal dari masyarakat umum. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menetapkan sasaran penempatan secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028 dan 140.000 orang pada 2029.

Sejumlah bidang pekerjaan menjadi sasaran program, termasuk sektor kesehatan, caregiver, pengelasan, pengemudi bus dan truk, serta hospitality. Negara tujuan yang disebut pemerintah antara lain Jepang, Korea Selatan, Jerman, Malaysia, Singapura, Turkiye, Taiwan dan sejumlah negara Eropa. Keragaman sektor dan negara tujuan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pasar tenaga kerja internasional semakin spesifik. Karena itu, keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memastikan jenis pelatihan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan konkret pemberi kerja.

Dari sisi pembiayaan, pemerintah menyatakan peserta Program SMK Go Global tidak dikenakan biaya pelatihan karena pembiayaannya ditanggung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Kebijakan tersebut dapat menjadi instrumen penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap kesempatan kerja luar negeri, terutama bagi lulusan SMK dan calon PMI yang memiliki keterbatasan kemampuan ekonomi. Namun, transparansi mengenai seluruh tahapan setelah pelatihan tetap diperlukan agar peserta memahami dengan jelas proses seleksi, penempatan, kontrak kerja, hak pekerja dan kemungkinan biaya yang muncul pada tahapan yang berada di luar pembiayaan program.

Kementerian P2MI juga menggandeng Kementerian Perindustrian untuk memperkuat ekosistem pendidikan dan pelatihan vokasi. Kerja sama tersebut diarahkan pada penguatan pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi kompetensi dan pembentukan etos kerja. Kolaborasi lintas kementerian menjadi penting karena persoalan penempatan pekerja migran tidak dapat diselesaikan hanya melalui kementerian yang menangani pelindungan PMI. Sistem tersebut membutuhkan keterhubungan antara pendidikan, pelatihan, sertifikasi, informasi pasar kerja, industri, penempatan dan pelindungan.

Namun, besarnya target penempatan juga perlu disertai dengan indikator keberhasilan yang lebih substantif. Jumlah peserta yang mendaftar, mengikuti pelatihan atau memperoleh sertifikat belum cukup untuk membuktikan bahwa program telah berhasil. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak peserta yang benar-benar memperoleh pekerjaan sesuai kompetensinya, mendapatkan kontrak kerja yang jelas, berangkat melalui prosedur resmi, menerima upah sesuai ketentuan dan memperoleh pelindungan ketika menghadapi persoalan di negara tujuan.

Perspektif tersebut menjadi penting karena terdapat risiko ketika keberhasilan program terlalu ditekankan pada pencapaian angka penempatan. Pekerja migran bukan sekadar bagian dari statistik ketenagakerjaan atau instrumen untuk mengisi kekurangan tenaga kerja negara lain. Mereka adalah warga negara yang memiliki hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan pelindungan hukum. Oleh sebab itu, peningkatan jumlah penempatan harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pekerjaan dan jaminan pelindungan.

Dalam konteks 215.603 peluang kerja luar negeri yang belum terisi, Program SMK Go Global memiliki peluang untuk menjadi jembatan antara kebutuhan pasar internasional dan potensi tenaga kerja Indonesia. Namun, pemerintah perlu memastikan bahwa setiap lowongan yang ditawarkan benar-benar terverifikasi, memiliki pemberi kerja yang jelas, menawarkan kondisi kerja yang layak dan dapat diakses calon PMI melalui mekanisme yang transparan. Informasi tersebut juga penting untuk mencegah calon pekerja bergantung kepada calo atau perekrut informal yang dapat meningkatkan risiko penipuan dan eksploitasi.

Program tersebut pada akhirnya akan diuji bukan hanya oleh jumlah peserta yang berhasil dilatih, tetapi oleh kemampuan pemerintah mengubah proses pelatihan menjadi pekerjaan nyata yang layak. Rantai kebijakan harus berjalan secara utuh mulai dari identifikasi kebutuhan tenaga kerja, pelatihan kompetensi, sertifikasi, pencocokan pekerjaan, penandatanganan kontrak, keberangkatan, hingga pelindungan selama dan setelah masa kerja. Jika salah satu mata rantai tersebut lemah, maka besarnya jumlah lowongan yang tersedia belum tentu menghasilkan manfaat maksimal bagi tenaga kerja Indonesia.

Pembukaan SMK Go Global Gelombang 3 dengan demikian menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sejauh mana kebijakan penyiapan tenaga kerja Indonesia telah mampu menjawab kebutuhan pasar kerja global. Pemerintah telah memiliki data peluang kerja, jaringan BP3MI, program pelatihan, dukungan anggaran dan target penempatan. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh instrumen tersebut bekerja secara efektif dan tidak berhenti pada pencapaian administratif.

Di tengah masih besarnya peluang kerja luar negeri yang belum terserap, keberhasilan SMK Go Global seharusnya tidak diukur semata-mata dari seberapa cepat jumlah lowongan berkurang atau seberapa banyak PMI diberangkatkan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah lulusan SMK dan calon PMI memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya, memperoleh penghasilan yang layak, bekerja dalam kondisi yang aman dan mendapatkan pelindungan hukum. Dengan demikian, program tersebut bukan sekadar menjadi jalan menuju pekerjaan di luar negeri, tetapi menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas dan martabat pekerja migran Indonesia di pasar kerja global.


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

berita BP2MI BP3MI Buminu Buruh migran CPMI HAM iran Jepang Kementerian P2MI KP2MI migran pekerja migran PMI
Berita Terkait
Sumber: https://image.jpnn.com/resize/1200x800-80/arsip/normal/2026/09/10/forum-media-voice-indonesia-bersama-bogor-media-siber-networ-boyx.jpg
BERITA
Korban TPPO Kembali Bekerja ke Luar Negeri, Pemulihan Terbentur Kebutuhan Ekonomi
11 Sep 2026
Sumber: https://rri-portal-app-assets.obs.ap-southeast-4.myhuaweicloud.com/upload/berita/image/cirebon/thumbs/full_1785239825720789_c8162bb055_berita_cirebon.webp
BERITA
Nadia Permatasari Mengaku Disekap di Tiongkok, Disnaker Indramayu Sebut Keberangkatan Diduga Ilegal
11 Sep 2026
Sumber: https://delapanmedia.sgp1.digitaloceanspaces.com/riauaktual/6756903559-whatsapp-image-2026-09-07-at-11-16-51.jpeg
BERITA
Polda Riau Gagalkan Pengiriman 10 Calon PMI Nonprosedural ke Malaysia
11 Sep 2026