Suara Migran Nusantara Logo
MIGRANIKA

Migrasi Berkeahlian Rendah dan Masa Depan Pendidikan Anak Muda: Studi Meksiko Mengungkap Paradoks Mobilitas Ekonomi

  Admin2 · 
Sumber: https://i0.wp.com/epthinktank.eu/wp-content/uploads/2016/10/eprs-briefing-586580-expectations-migration-final.jpg?fit=1000%2C1054&ssl=1
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Penelitian dalam jurnal International Migration yang terbit pada 7 Oktober 2026 menemukan bahwa paparan migrasi tenaga kerja berkeahlian rendah dari Meksiko ke Amerika Serikat berkaitan dengan rendahnya pencapaian pendidikan generasi muda, terutama laki-laki. Temuan ini membuka diskusi penting mengenai hubungan remitansi, aspirasi pendidikan, pasar kerja, dan pembangunan sumber daya manusia di negara asal.

Migrasi internasional selama ini sering dipandang sebagai strategi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, mengurangi tekanan ekonomi, dan memperluas kesempatan kerja. Bagi negara pengirim tenaga kerja, migrasi juga menjadi sumber pemasukan melalui remitansi serta sarana memperkuat hubungan ekonomi lintas negara. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat pertanyaan mendasar yang tidak selalu mendapat perhatian memadai: bagaimana migrasi orang tua, saudara, atau anggota keluarga lain memengaruhi keputusan pendidikan generasi muda yang tetap tinggal di negara asal?

Pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian berjudul “Migration and Education Choices: How Low-Skilled Migration Shapes the Educational Attainment of Mexican Youth” karya Eskander Alvi dan Md Ohiul Islam yang diterbitkan dalam jurnal International Migration pada 7 Oktober 2026. Jurnal yang diterbitkan atas nama International Organization for Migration tersebut merupakan publikasi ilmiah multidisipliner yang mengkaji persoalan migrasi dari perspektif ilmu sosial dan kebijakan publik. Informasi penerbit mengonfirmasi judul, nama penulis, dan tanggal publikasi penelitian tersebut.

Penelitian ini menggunakan data dari Mesoamerican Migration Project untuk menganalisis bagaimana paparan terhadap migrasi tenaga kerja berkeahlian rendah dari Meksiko ke Amerika Serikat memengaruhi pencapaian pendidikan anak muda di negara asal. Dalam keterangan yang disampaikan oleh salah satu penulis, M. Ohiul Islam, paparan yang lebih besar terhadap anggota keluarga yang melakukan migrasi berkeahlian rendah berkaitan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Hubungan tersebut dilaporkan lebih kuat pada laki-laki muda. Penelitian ini juga mengeksplorasi mekanisme pada tingkat rumah tangga dan komunitas yang dapat memengaruhi keputusan pendidikan.

Temuan itu penting karena memperluas cara pandang terhadap keberhasilan migrasi. Keberhasilan tidak cukup dinilai dari jumlah orang yang bekerja di luar negeri, besarnya uang yang dikirimkan kepada keluarga, atau peningkatan konsumsi rumah tangga. Dampak migrasi juga perlu dinilai dari perubahan aspirasi pendidikan, pilihan pekerjaan generasi berikutnya, dan kemampuan negara asal mempertahankan investasi dalam pembangunan sumber daya manusia.

Migrasi dan perubahan perhitungan mengenai pendidikan

Bagi keluarga yang menghadapi keterbatasan pekerjaan, pendapatan rendah, atau terbatasnya akses terhadap pendidikan berkualitas, migrasi dapat menjadi jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Penghasilan dari luar negeri berpotensi membantu membayar kebutuhan sehari-hari, membiayai sekolah, memperbaiki tempat tinggal, serta menyediakan modal bagi usaha keluarga.

Akan tetapi, manfaat ekonomi tersebut berjalan berdampingan dengan kemungkinan perubahan orientasi generasi muda. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan pengalaman migrasi dapat melihat secara langsung bahwa seseorang mampu memperoleh pendapatan di luar negeri tanpa harus menempuh pendidikan tinggi. Pengalaman tersebut dapat membentuk persepsi mengenai hubungan antara sekolah, pekerjaan, dan keberhasilan ekonomi.

Dalam kondisi tertentu, melanjutkan pendidikan selama bertahun-tahun dapat dianggap sebagai pilihan yang kurang menarik dibandingkan memasuki pasar kerja lebih cepat. Apabila keluarga memiliki jaringan migrasi yang kuat, anak muda juga dapat memperoleh informasi mengenai proses keberangkatan, jenis pekerjaan yang tersedia, dan pengalaman anggota keluarga yang telah bekerja di negara tujuan.

Dengan demikian, migrasi tidak hanya memengaruhi kondisi material rumah tangga, tetapi juga dapat membentuk ekspektasi mengenai masa depan. Keputusan pendidikan kemudian dipengaruhi oleh perbandingan antara manfaat yang diperkirakan dari pendidikan dan peluang memperoleh penghasilan melalui migrasi.

Penting untuk menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak berarti semua anak dari keluarga migran akan mengurangi pendidikan mereka. Pengaruh migrasi bergantung pada karakteristik keluarga, kondisi sekolah, ketersediaan pekerjaan, pola migrasi, dan kesempatan ekonomi di wilayah asal. Temuan penelitian terbaru perlu dipahami sebagai bukti empiris mengenai hubungan yang diteliti, bukan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa migrasi selalu menyebabkan anak putus sekolah.

Remitansi dan paradoks pembangunan manusia

Remitansi memiliki posisi penting dalam perekonomian banyak negara pengirim tenaga kerja. Uang yang dikirimkan pekerja migran dapat meningkatkan kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar dan membiayai pendidikan. Ketika pendapatan meningkat, keluarga mungkin tidak lagi harus meminta anak membantu pekerjaan produktif atau segera bekerja untuk menambah pemasukan rumah tangga.

Namun, tambahan pendapatan tidak otomatis meningkatkan tingkat pendidikan. Keluarga dapat memiliki kemampuan finansial yang lebih baik untuk menyekolahkan anak, tetapi pada saat bersamaan anak muda dapat menilai bahwa migrasi menawarkan jalan yang lebih cepat menuju kemandirian ekonomi.

Paradoks ini telah dibahas dalam penelitian terdahulu. William Kandel dan Grace Kao, melalui artikel “The Impact of Temporary Labor Migration on Mexican Children’s Educational Aspirations and Performance” yang terbit dalam International Migration Review pada 2001, menganalisis data sekitar 7.600 siswa di komunitas pengirim migran di Meksiko.

Penelitian tersebut menemukan dua pola yang perlu dibedakan. Intensitas migrasi ke Amerika Serikat berkaitan dengan nilai akademik yang lebih baik, tetapi juga dengan aspirasi yang lebih rendah untuk melanjutkan pendidikan ke universitas. Para peneliti menjelaskan bahwa pendapatan dari migrasi dapat membantu keluarga mempertahankan pendidikan anak, sementara contoh mobilitas ekonomi melalui pekerjaan di luar negeri dapat mengurangi dorongan untuk mengejar pendidikan lebih tinggi.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa prestasi akademik, keberlanjutan sekolah, aspirasi pendidikan, dan tingkat pendidikan yang akhirnya dicapai bukanlah indikator yang sama. Siswa dapat memperoleh nilai baik tetapi tidak berencana kuliah. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki aspirasi pendidikan tinggi tetapi menghadapi hambatan finansial, geografis, atau institusional yang membuat rencana tersebut sulit diwujudkan.

Karena itu, remitansi perlu dipahami sebagai salah satu faktor yang dapat memperluas kesempatan, bukan jaminan bahwa keluarga akan mengambil keputusan pendidikan yang sama. Manfaat ekonomi migrasi harus didukung kebijakan pendidikan yang memastikan bahwa sekolah tetap relevan, terjangkau, dan memberikan prospek pekerjaan yang layak.

Mengapa laki-laki muda lebih terdampak?

Salah satu temuan yang menonjol dalam penelitian Alvi dan Islam adalah hubungan yang lebih kuat antara paparan migrasi berkeahlian rendah dan rendahnya pencapaian pendidikan pada laki-laki muda.

Perbedaan ini perlu dibaca dalam konteks sosial dan ekonomi. Di komunitas yang memiliki sejarah panjang migrasi internasional, keberangkatan laki-laki untuk bekerja dapat menjadi pola yang dikenal luas dan dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab ekonomi keluarga. Anak laki-laki mungkin tumbuh dengan melihat kerabat atau tetangga yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan di luar negeri, sehingga migrasi menjadi salah satu pilihan karier yang dianggap realistis.

Jaringan keluarga dan komunitas juga dapat menurunkan hambatan informasi. Anak muda yang memiliki kerabat di negara tujuan mungkin lebih mudah mengetahui jenis pekerjaan yang tersedia, persyaratan keberangkatan, atau cara memperoleh akses ke jaringan perekrutan. Dalam keadaan tertentu, akses tersebut membuat migrasi tampak lebih dekat dan lebih mudah dicapai daripada pendidikan tinggi.

Namun, penjelasan tersebut tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa semua laki-laki muda memiliki kecenderungan yang sama. Perbedaan berdasarkan gender dapat dipengaruhi oleh norma sosial, struktur pasar kerja, pembagian tanggung jawab keluarga, dan karakteristik komunitas migran. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan mekanisme mana yang paling berperan dalam membentuk perbedaan capaian pendidikan tersebut.

Bagi pembuat kebijakan, temuan ini menunjukkan pentingnya merancang program pendidikan dan ketenagakerjaan yang memperhatikan perbedaan pengalaman berdasarkan gender. Anak muda perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai konsekuensi jangka panjang dari berbagai pilihan pekerjaan, termasuk potensi peningkatan keterampilan dan peluang melanjutkan pendidikan setelah bekerja.

Pengaruh rumah tangga dan komunitas

Migrasi berlangsung melalui jaringan sosial yang dapat membentuk keputusan individu. Seseorang tidak selalu memutuskan untuk bekerja di luar negeri berdasarkan perhitungan pendapatan secara individual. Keputusan itu sering dipengaruhi pengalaman orang tua, kerabat, teman, serta lingkungan tempat tinggal.

Mesoamerican Migration Project, yang menjadi sumber data penelitian Alvi dan Islam, mengumpulkan informasi sosial dan ekonomi mengenai migrasi dari Meksiko dan negara-negara Amerika Tengah ke Amerika Serikat. Proyek yang melibatkan peneliti dari Brown University dan El Colegio de México ini dirancang untuk memahami faktor pendorong migrasi serta konsekuensinya bagi keluarga dan komunitas di daerah asal.

Pendekatan berbasis rumah tangga dan komunitas penting karena keputusan pendidikan tidak terbentuk dalam ruang kosong. Anak muda mempertimbangkan keadaan ekonomi keluarga, ketersediaan sekolah, pengalaman anggota keluarga yang telah bekerja, dan peluang pekerjaan di wilayah asal.

Di komunitas dengan jaringan migrasi yang kuat, pengalaman keberhasilan migran dapat menjadi sumber informasi sekaligus model sosial. Sebaliknya, apabila pendidikan tidak memberikan akses yang jelas terhadap pekerjaan yang lebih baik, anak muda dapat meragukan manfaat melanjutkan sekolah. Persepsi tersebut berpotensi semakin kuat ketika peluang kerja lokal terbatas dan pendapatan dari luar negeri tampak lebih menjanjikan.

Meski demikian, hubungan antara paparan migrasi dan pencapaian pendidikan tidak boleh disederhanakan menjadi satu sebab tunggal. Kemiskinan, ketimpangan wilayah, kualitas pendidikan, serta terbatasnya kesempatan kerja dapat memengaruhi migrasi sekaligus pendidikan. Oleh sebab itu, penafsiran hasil penelitian perlu mempertimbangkan metode empiris yang digunakan dan sejauh mana analisis dapat membedakan pengaruh migrasi dari faktor-faktor lain.

Pendidikan, migrasi, dan ketimpangan struktural

Penelitian lain tentang remaja Meksiko juga memperlihatkan bahwa hubungan migrasi dengan pendidikan dipengaruhi kondisi sosial ekonomi. Bryant Jensen, Silvia Giorguli Saucedo, dan Eduardo Hernández Padilla dalam artikel “International Migration and the Academic Performance of Mexican Adolescents” yang terbit dalam International Migration Review mengkaji hubungan antara paparan migrasi, rencana bermigrasi, keterlibatan dalam sekolah, dan kemampuan membaca bahasa Spanyol.

Penelitian tersebut menemukan bahwa rencana migrasi yang semakin dekat berkaitan dengan kinerja akademik yang lebih rendah pada sebagian siswa yang mempertimbangkan migrasi. Pengaruh paparan migrasi orang tua terhadap pencapaian akademik juga berbeda pada kelompok tertentu. Para penulis menempatkan temuan itu dalam konteks ketimpangan struktural di Meksiko dan menekankan pentingnya memperkaya kesempatan belajar bagi anak-anak di keluarga dan komunitas migran.

Keterkaitan antara kedua penelitian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan tidak cukup dijelaskan melalui pilihan individual. Aspirasi anak muda terbentuk di tengah distribusi kesempatan yang tidak selalu merata. Ketika pekerjaan lokal yang layak sulit diperoleh, sekolah tidak berkualitas, dan akses pendidikan tinggi terbatas, migrasi dapat menjadi strategi rasional bagi rumah tangga.

Dengan kata lain, keputusan untuk bermigrasi tidak selalu menunjukkan bahwa anak muda menolak pendidikan. Keputusan tersebut bisa mencerminkan respons terhadap sistem ekonomi yang belum menyediakan cukup banyak jalur menuju mobilitas sosial. Karena itu, solusi kebijakan tidak cukup berupa imbauan agar anak muda tetap bersekolah. Pemerintah perlu memastikan bahwa pendidikan benar-benar membuka akses menuju pekerjaan yang lebih baik.

Relevansi bagi Indonesia

Pengalaman Meksiko relevan bagi Indonesia sebagai negara pengirim pekerja migran internasional. Perbedaan kondisi ekonomi, struktur pendidikan, dan pola migrasi membuat temuan Meksiko tidak dapat langsung digeneralisasi kepada masyarakat Indonesia. Namun, penelitian tersebut menawarkan kerangka penting untuk mengevaluasi hubungan antara migrasi tenaga kerja, pendidikan generasi muda, dan pembangunan jangka panjang.

Dalam konteks Indonesia, keberhasilan penempatan pekerja migran tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah orang yang diberangkatkan atau besarnya remitansi yang diterima keluarga. Evaluasi perlu memperhatikan apakah pendapatan tersebut meningkatkan akses pendidikan anak, apakah keluarga mampu membiayai pendidikan lanjutan, serta apakah generasi muda memperoleh kesempatan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja.

Persoalan ini menjadi semakin penting ketika migrasi dipromosikan sebagai salah satu jalur untuk meningkatkan kesejahteraan. Jika anak muda melihat pekerjaan di luar negeri sebagai satu-satunya pilihan yang menjanjikan, sementara pendidikan dipandang mahal atau tidak memberikan hasil yang sepadan, negara berisiko kehilangan kesempatan untuk mengembangkan tenaga kerja dengan kompetensi lebih tinggi.

Kebijakan penempatan tenaga kerja karena itu perlu berjalan seiring dengan kebijakan pendidikan. Pendidikan vokasi harus memiliki keterkaitan nyata dengan kebutuhan industri, sertifikasi kompetensi perlu diakui oleh pemberi kerja, dan pelatihan bahasa harus disertai pengembangan keterampilan teknis. Anak muda yang memilih bekerja di luar negeri juga perlu memiliki kesempatan untuk meningkatkan kompetensi selama bekerja dan melanjutkan pendidikan setelah kembali.

Pendekatan tersebut bukan bertujuan membatasi mobilitas tenaga kerja. Sebaliknya, migrasi dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan apabila memberikan manfaat ekonomi sekaligus membuka kesempatan peningkatan keterampilan. Pekerja yang kembali dengan kompetensi baru, pengalaman kerja, dan tabungan yang dikelola secara produktif berpotensi memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian daerah asal.

Pemerintah juga perlu memperhatikan keluarga yang ditinggalkan. Program pendampingan pendidikan, informasi mengenai akses beasiswa, dukungan bagi anak pekerja migran, dan penguatan layanan sekolah di wilayah pengirim migran dapat membantu memastikan bahwa mobilitas orang tua tidak mempersempit kesempatan pendidikan anak.

Mengukur keberhasilan migrasi secara lebih menyeluruh

Temuan dari Meksiko mengingatkan bahwa kebijakan migrasi dan kebijakan pendidikan tidak dapat dipisahkan sepenuhnya. Keduanya memengaruhi pilihan generasi muda, distribusi kesempatan ekonomi, dan arah pembangunan manusia.

Karena itu, evaluasi kebijakan migrasi perlu mencakup indikator yang lebih luas daripada jumlah penempatan dan remitansi. Pemerintah dapat menilai tingkat penyelesaian pendidikan anak dari rumah tangga migran, transisi menuju pendidikan tinggi atau vokasi, perkembangan kompetensi, serta kesempatan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi.

Pengumpulan data juga perlu membedakan kondisi anak berdasarkan karakteristik keluarga dan komunitas, termasuk pengalaman migrasi anggota rumah tangga. Dengan demikian, pemerintah dapat mengidentifikasi apakah keluarga migran menghadapi hambatan pendidikan tertentu dan merancang intervensi yang sesuai. Evaluasi harus tetap memperhatikan perlindungan data pribadi dan tidak menjadikan status keluarga migran sebagai dasar untuk memberi stigma kepada anak.

Di sisi lain, penelitian lanjutan perlu menguji bagaimana manfaat remitansi, jaringan migrasi, kualitas sekolah, dan prospek pekerjaan berinteraksi dalam membentuk keputusan pendidikan. Analisis berdasarkan gender dan kondisi sosial ekonomi juga penting agar kebijakan tidak menggunakan pendekatan seragam untuk kelompok yang menghadapi tantangan berbeda.

Pada tingkat yang lebih mendasar, pemerintah harus memastikan bahwa pendidikan memiliki nilai ekonomi dan sosial yang nyata. Apabila lulusan sekolah dan perguruan tinggi tetap menghadapi kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak, daya tarik migrasi sebagai jalur mobilitas ekonomi akan semakin kuat. Sebaliknya, pendidikan yang berkualitas, akses kerja yang adil, dan jalur peningkatan kompetensi dapat memperluas pilihan generasi muda.

Migrasi seharusnya memperluas pilihan, bukan menggantikannya

Penelitian Alvi dan Islam memberikan sudut pandang penting untuk menilai dampak migrasi di luar kepentingan ekonomi jangka pendek. Paparan terhadap migrasi berkeahlian rendah dapat berkaitan dengan keputusan pendidikan generasi muda, terutama ketika pengalaman kerja anggota keluarga membentuk persepsi bahwa pendidikan lebih tinggi tidak diperlukan untuk memperoleh penghasilan.

Namun, kesimpulan yang tepat bukanlah bahwa migrasi harus dihentikan atau bahwa pekerjaan berkeahlian rendah tidak bernilai. Pekerjaan tersebut dapat menopang keluarga, memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja, dan menjadi sumber pendapatan penting. Tantangannya adalah memastikan bahwa pekerjaan tersebut tidak menjadi satu-satunya jalur yang dianggap tersedia bagi generasi berikutnya.

Migrasi yang dikelola dengan baik seharusnya meningkatkan kemampuan keluarga untuk membiayai pendidikan, memperluas akses terhadap keterampilan, dan membuka kesempatan ekonomi baru. Jika manfaat tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kesempatan pendidikan, keuntungan ekonomi yang diperoleh hari ini belum tentu menghasilkan peningkatan kapasitas manusia dalam jangka panjang.

Bagi negara pengirim tenaga kerja, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar berapa banyak warga yang berhasil bekerja di luar negeri, melainkan apakah generasi berikutnya memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan generasi sebelumnya. Apakah mereka dapat memilih pendidikan tinggi tanpa terbebani kemiskinan? Apakah mereka dapat memasuki pekerjaan berkeahlian tinggi? Apakah migrasi memberi mereka kesempatan meningkatkan kompetensi, atau justru mendorong mereka memasuki jalur kerja yang sama tanpa peningkatan keterampilan?

Pada akhirnya, keberhasilan migrasi tidak hanya terletak pada kemampuan seseorang memperoleh penghasilan di negara lain. Keberhasilan yang lebih mendasar adalah ketika penghasilan tersebut membantu keluarga membangun masa depan yang lebih baik, sementara anak-anak mereka tetap memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidup melalui pendidikan, pekerjaan, maupun pilihan migrasi yang lebih berkualitas.

amerika Berita BP2MI Buminu Buruh migran CPMI HAM IOM iran Kebijakan Migrasi KP2MI Mexico migran pekerja migran PMI
Berita Terkait
Sumber: https://indopolitika.com/wp-content/uploads/2019/10/Ilustrasi-pencari-kerja.jpg
MIGRANIKA
Perluasan Kesempatan Kerja ke Luar Negeri bagi Pekerja Migran Indonesia
5 Oct 2026
Sumber: https://islambergerak.com/wp-content/uploads/2018/12/a.jpg
MIGRANIKA
Tata Kelola Daerah dan Model Perlindungan Terintegrasi: Menguji Kapasitas Pemerintah Daerah Melindungi Pekerja Migran Indonesia
3 Oct 2026
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRefL2gPQ110aRgdEx6d40uVw5gT3UpzEnEMSFAxqKkUKX9xbAqfbVciKQ&s=10
MIGRANIKA
Urgensi Penguatan KP2MI: Ketika Tata Kelola Pekerja Migran Masih Terjebak Sekat Kewenangan
3 Oct 2026

Comments are closed.