<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Afrika Archives - suaramigrannusantara.org</title>
	<atom:link href="https://suaramigrannusantara.org/tag/afrika/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suaramigrannusantara.org/tag/afrika/</link>
	<description>Suara Migran, Suara Keadilan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Oct 2026 23:01:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://suaramigrannusantara.org/wp-content/uploads/2026/02/cropped-WhatsApp-Image-2026-02-27-at-10.04.27-1-32x32.png</url>
	<title>Afrika Archives - suaramigrannusantara.org</title>
	<link>https://suaramigrannusantara.org/tag/afrika/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Migran Diselamatkan di Gran Canaria, Rute Atlantik ke Spanyol Tetap Berisiko</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/10/migran-diselamatkan-di-gran-canaria-rute-atlantik-ke-spanyol-tetap-berisiko/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2026 23:01:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Afrika]]></category>
		<category><![CDATA[ART]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[Buminu]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh migran]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[iran]]></category>
		<category><![CDATA[KP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja migran]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[Spanyol]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/?p=8354</guid>

					<description><![CDATA[<p>GRAN CANARIA &#8211; Kedatangan migran yang diselamatkan di perairan Atlantik kembali menjadi sorotan setelah Reuters mendokumentasikan proses kedatangan mereka di...</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/10/migran-diselamatkan-di-gran-canaria-rute-atlantik-ke-spanyol-tetap-berisiko/">Migran Diselamatkan di Gran Canaria, Rute Atlantik ke Spanyol Tetap Berisiko</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>GRAN CANARIA</strong> &#8211; Kedatangan migran yang diselamatkan di perairan Atlantik kembali menjadi sorotan setelah Reuters mendokumentasikan proses kedatangan mereka di pelabuhan Arguineguín, Pulau Gran Canaria, pada 15 Oktober 2026. Para migran dibawa ke daratan menggunakan kapal Penjaga Pantai Spanyol, sementara petugas dan tenaga medis bersiap melakukan pemeriksaan serta memberikan bantuan setelah perjalanan laut yang berbahaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dokumentasi Reuters Connect memperlihatkan para migran menunggu untuk turun dari kapal penyelamat dan berjalan menuju area pemeriksaan yang disiapkan di pelabuhan. Foto-foto yang dibuat oleh fotografer Borja Suarez tersebut menggambarkan penanganan kedatangan migran di salah satu titik penting pada rute Atlantik menuju Kepulauan Canary, wilayah Spanyol yang terletak di lepas pantai barat laut Afrika.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada hari yang sama, kantor berita EFE melaporkan bahwa 31 warga Afrika Utara, termasuk seorang perempuan dan dua anak, dibawa ke pelabuhan Arguineguín setelah diselamatkan dari sebuah perahu kecil sekitar 163 kilometer di selatan Gran Canaria. Informasi dari layanan penyelamatan maritim yang dikutip EFE menyebutkan bahwa para migran tiba di daratan dalam kondisi yang secara umum dilaporkan baik. Peristiwa tersebut memperlihatkan pentingnya operasi penyelamatan untuk mencegah korban jiwa dalam perjalanan laut menuju wilayah Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepulauan Canary merupakan salah satu pintu masuk migrasi tidak teratur ke Spanyol melalui Samudra Atlantik. Perjalanan menuju kepulauan tersebut dapat dimulai dari sejumlah wilayah di Afrika Barat, termasuk Mauritania, Senegal, dan kawasan Sahara Barat. Jarak pelayaran yang panjang, kondisi laut yang berubah-ubah, serta penggunaan perahu yang tidak selalu layak untuk perjalanan jauh membuat rute ini berisiko tinggi bagi keselamatan penumpang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Risiko perjalanan tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan tenggelam. Migran juga dapat mengalami dehidrasi, kekurangan makanan, kelelahan, dan gangguan kesehatan setelah berhari-hari berada di laut. Perempuan, anak-anak, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu dapat menghadapi kerentanan tambahan. Karena itu, penyelamatan di laut, pemeriksaan medis, identifikasi, dan akses terhadap bantuan kemanusiaan menjadi bagian penting dari respons setelah kedatangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun dokumentasi pada 15 Oktober menunjukkan bahwa rute Atlantik masih aktif, data resmi pemerintah Spanyol memperlihatkan bahwa jumlah kedatangan migran tidak teratur di Kepulauan Canary justru menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga 30 September 2026, sebanyak 7.133 migran tercatat tiba di kepulauan tersebut, turun sekitar 44,5 persen dibandingkan 12.848 orang pada periode yang sama tahun 2025. Angka ini merupakan jumlah kedatangan yang tercatat selama periode tertentu, bukan jumlah keseluruhan migran yang berada di wilayah Canary.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara nasional, Spanyol mencatat 24.646 kedatangan migran tidak teratur melalui jalur laut dan darat sejak awal tahun hingga 30 September 2026. Jumlah tersebut turun sekitar 10,3 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Namun, tren nasional tidak sepenuhnya seragam. Sementara kedatangan di Kepulauan Canary menurun, sejumlah wilayah lain, termasuk Ceuta dan Melilla di Afrika Utara, mencatat peningkatan pada periode yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tekanan migrasi tidak dapat dinilai hanya dari satu lokasi atau satu peristiwa. Kedatangan perahu di Gran Canaria tetap membutuhkan operasi penyelamatan dan penanganan kemanusiaan, meskipun angka kumulatif kedatangan di kepulauan tersebut lebih rendah daripada tahun sebelumnya. Sebaliknya, penurunan jumlah kedatangan juga tidak berarti bahwa bahaya perjalanan atau kebutuhan perlindungan bagi orang yang masih menempuh rute tersebut telah berakhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah Kepulauan Canary sebelumnya telah memperingatkan bahwa rute Atlantik masih aktif meskipun jumlah kedatangan mengalami penurunan. Dinamika migrasi di kawasan Sahel dan Afrika Barat, situasi keamanan, keterbatasan kesempatan ekonomi, serta jaringan penyelundupan manusia dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan perjalanan. Faktor-faktor tersebut berinteraksi secara kompleks, sehingga perubahan jumlah kedatangan dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan perubahan permanen pada penyebab migrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah tiba di Spanyol, para migran perlu menjalani proses identifikasi dan penilaian sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Mereka yang menyatakan membutuhkan perlindungan internasional harus memperoleh akses terhadap prosedur suaka, sementara anak-anak tanpa pendamping dan kelompok rentan memerlukan penanganan sesuai kebutuhan masing-masing. Proses tersebut harus tetap memperhatikan hak dasar, keselamatan, dan prinsip non-refoulement, yaitu larangan mengembalikan seseorang ke tempat ketika ia menghadapi risiko penganiayaan atau bahaya serius yang memenuhi ketentuan hukum internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, pemerintah daerah dan organisasi kemanusiaan menghadapi kebutuhan untuk menyediakan tempat penampungan sementara, pemeriksaan kesehatan, dukungan psikososial, serta pendampingan bagi anak-anak dan keluarga. Koordinasi antara penjaga pantai, aparat imigrasi, layanan kesehatan, Palang Merah, dan lembaga perlindungan menjadi penting agar penanganan kedatangan tidak hanya berfokus pada pengawasan perbatasan, tetapi juga memastikan kebutuhan mendesak para penyintas perjalanan laut terpenuhi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkembangan di Gran Canaria juga menegaskan perlunya kerja sama antara Spanyol, Uni Eropa, dan negara-negara asal maupun transit migran. Kerja sama tersebut mencakup operasi penyelamatan, pemberantasan jaringan penyelundupan manusia, perluasan jalur migrasi reguler, dan dukungan terhadap masyarakat di negara asal. Upaya pengendalian perbatasan perlu berjalan seiring dengan perlindungan hak asasi manusia agar orang yang membutuhkan perlindungan tidak kehilangan akses terhadap prosedur hukum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedatangan migran di Arguineguín pada 15 Oktober 2026 menjadi gambaran nyata bahwa perjalanan Atlantik menuju Spanyol masih berlangsung dan menuntut respons kemanusiaan yang berkelanjutan. Meski statistik menunjukkan penurunan jumlah kedatangan di Kepulauan Canary sepanjang sembilan bulan pertama 2026, setiap operasi penyelamatan tetap mengingatkan bahwa rute tersebut membawa risiko serius. Tantangan bagi Spanyol dan mitra regionalnya adalah mengelola perbatasan secara tertib tanpa mengabaikan keselamatan, martabat, dan hak dasar orang-orang yang menempuh perjalanan tersebut.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/10/migran-diselamatkan-di-gran-canaria-rute-atlantik-ke-spanyol-tetap-berisiko/">Migran Diselamatkan di Gran Canaria, Rute Atlantik ke Spanyol Tetap Berisiko</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTkklOjSEiItoVcrN8d-kJV9eDS1mQxKQgO3QF-1jEjeEUrb6YK0XoS_uM&#038;s=10" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Djibouti Pulangkan 649 Warga Negara Asing Dalam Operasi Migrasi Tidak Teratur</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/09/djibouti-pulangkan-649-warga-negara-asing-dalam-operasi-migrasi-tidak-teratur/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/09/djibouti-pulangkan-649-warga-negara-asing-dalam-operasi-migrasi-tidak-teratur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2026 22:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Afrika]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[Buminu]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh migran]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[Djibouti]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[KP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja migran]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[tengah]]></category>
		<category><![CDATA[timur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/?p=6974</guid>

					<description><![CDATA[<p>DJIBOUTI — Kepolisian Nasional Djibouti melaporkan telah memulangkan 649 warga negara asing dalam sebuah operasi gabungan bersama angkatan bersenjata yang...</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/09/djibouti-pulangkan-649-warga-negara-asing-dalam-operasi-migrasi-tidak-teratur/">Djibouti Pulangkan 649 Warga Negara Asing Dalam Operasi Migrasi Tidak Teratur</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>DJIBOUTI</strong> — Kepolisian Nasional Djibouti melaporkan telah memulangkan <strong>649 warga negara asing</strong> dalam sebuah operasi gabungan bersama angkatan bersenjata yang ditujukan untuk menangani migrasi tidak teratur. Operasi tersebut menjadi bagian dari langkah otoritas Djibouti mengendalikan pergerakan migran melalui wilayahnya yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu titik penting dalam rute migrasi dari Tanduk Afrika menuju Yaman dan negara-negara Teluk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepolisian Djibouti menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari penindakan terhadap migrasi tidak teratur dan menegaskan bahwa operasi serupa akan terus dilakukan. Namun, otoritas belum mengungkapkan kewarganegaraan 649 orang yang dipulangkan, waktu dan lokasi operasi secara rinci, maupun mekanisme pemeriksaan yang dilakukan sebelum proses pemulangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Djibouti memiliki posisi geografis strategis di jalur migrasi yang menghubungkan Ethiopia dan negara-negara Tanduk Afrika lainnya dengan Yaman serta kawasan Teluk. Dari wilayah pesisir Djibouti, perjalanan laut menuju Semenanjung Arab menjadi salah satu bagian dari apa yang dikenal sebagai <strong>Eastern Route</strong>, yaitu jalur migrasi yang banyak digunakan warga Afrika Timur menuju Yaman dan selanjutnya menuju negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebut Eastern Route sebagai salah satu koridor migrasi paling sibuk sekaligus berbahaya di dunia. Data IOM menunjukkan bahwa pada Januari hingga September 2025 terdapat sekitar <strong>351.000 pergerakan migrasi menuju kawasan Teluk</strong>, sementara pergerakan melalui Obock, Djibouti, mencapai sekitar 94.000 hingga September 2025.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Besarnya arus tersebut membuat Djibouti tidak hanya menjadi negara transit, tetapi juga salah satu titik utama dalam jaringan perjalanan migrasi menuju Semenanjung Arab. Para migran umumnya melakukan perjalanan melalui jalur darat menuju Djibouti sebelum melanjutkan penyeberangan laut menuju Yaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jalur tersebut memiliki risiko yang tinggi. IOM mencatat bahwa migran menghadapi berbagai bentuk ancaman, mulai dari pemerasan, penahanan, kekerasan, eksploitasi, hingga kecelakaan dan kematian selama perjalanan. Kondisi tersebut semakin rentan karena sebagian perjalanan dilakukan menggunakan kapal kecil dengan kondisi keselamatan yang terbatas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kuartal pertama 2026, IOM mencatat <strong>94 kematian dan kasus orang hilang</strong> sepanjang Eastern Route. Dari jumlah tersebut, 61 kasus tercatat di Djibouti dan sebagian besar berkaitan dengan tenggelam. Salah satu kecelakaan di lepas pantai Obock pada Maret 2026 menyebabkan sembilan orang terkonfirmasi meninggal dunia dan 45 lainnya dilaporkan hilang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa operasi penertiban migrasi berlangsung di tengah kondisi jalur yang memang memiliki risiko kemanusiaan tinggi. Migran yang berupaya mencapai Yaman dan negara-negara Teluk tidak hanya menghadapi persoalan status keimigrasian, tetapi juga potensi menjadi korban perdagangan orang, penyelundupan manusia, kekerasan dan eksploitasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">IOM juga memperkirakan tekanan migrasi di jalur tersebut akan tetap tinggi. Tekanan ekonomi, ketahanan pangan yang lemah, utang rumah tangga dan terbatasnya kesempatan memperoleh penghidupan menjadi sejumlah faktor yang mendorong orang tetap melakukan perjalanan menuju kawasan Teluk meskipun risiko di sepanjang rute semakin besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam laporan IOM mengenai Djibouti pada 2025, tercatat <strong>522.587 pergerakan migrasi</strong> melalui sembilan titik pemantauan arus migrasi di negara tersebut. Jumlah itu meningkat 20 persen dibandingkan 435.576 pergerakan pada 2024. IOM menyebut salah satu faktor peningkatan tersebut adalah semakin terorganisasinya jaringan penyelundupan di Yaman yang memfasilitasi perjalanan dari Ethiopia melalui Djibouti menuju Arab Saudi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, peningkatan operasi penegakan hukum juga dapat memengaruhi pergerakan migran. Pada kuartal pertama 2026, IOM melaporkan bahwa peningkatan operasi keamanan, penangkapan, serta ketegangan antara jaringan penyelundup membatasi pergerakan migran di Djibouti. Hingga 1.000 migran bahkan dilaporkan sempat terdampar di sekitar Obock karena penyeberangan menuju Yaman terganggu oleh cuaca dan kondisi lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Situasi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian migrasi tidak hanya menyangkut persoalan masuk dan keluarnya orang dari suatu negara. Di sepanjang rute, terdapat persoalan perlindungan yang membutuhkan koordinasi antara aparat keamanan, lembaga migrasi, pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan dan negara asal maupun negara tujuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Risiko perdagangan orang juga menjadi perhatian. Migran yang tidak memiliki dokumen dan menggunakan jasa jaringan penyelundupan berada dalam posisi yang lebih rentan terhadap eksploitasi. Laporan mengenai Djibouti menunjukkan bahwa migran dari Ethiopia dan Somalia yang transit menuju Yaman dan kawasan Timur Tengah menghadapi risiko perdagangan orang, terutama ketika mereka berada dalam kondisi rentan di negara transit maupun negara tujuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks tersebut, pemulangan 649 warga negara asing perlu dibarengi dengan proses identifikasi yang memadai. Pemeriksaan asal negara, usia, kondisi kerentanan, kemungkinan menjadi korban perdagangan orang, serta kebutuhan perlindungan internasional menjadi aspek penting sebelum seseorang dipulangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut terutama relevan karena tidak semua orang yang berada dalam jalur migrasi tidak teratur memiliki latar belakang yang sama. Sebagian merupakan migran ekonomi, sementara sebagian lainnya dapat berada dalam situasi eksploitasi atau membutuhkan perlindungan karena kondisi di negara asal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada saat yang sama, Djibouti juga menghadapi tekanan kemanusiaan akibat perkembangan terbaru di Yaman. Sejak September 2026, ribuan warga Yaman justru bergerak melalui jalur laut dalam arah berlawanan, yaitu dari Yaman menuju Djibouti, untuk menyelamatkan diri dari eskalasi konflik. IOM mencatat lebih dari 2.000 orang telah tiba di pesisir utara Djibouti pada pertengahan September.</p>



<p class="wp-block-paragraph">UNHCR kemudian melaporkan hampir <strong>3.000 orang tiba di Djibouti dalam waktu kurang dari satu minggu</strong> setelah melakukan perjalanan laut melintasi Selat Bab el-Mandeb. Sebagian besar tiba menggunakan kapal kecil dalam kondisi perjalanan yang berbahaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi tersebut memperlihatkan kompleksitas posisi Djibouti dalam dinamika migrasi kawasan. Negara tersebut menjadi titik transit bagi migran dari Tanduk Afrika yang bergerak menuju Yaman dan Teluk, tetapi pada saat yang sama menjadi tempat perlindungan bagi warga Yaman yang melarikan diri dari konflik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, penanganan migrasi di Djibouti tidak dapat hanya dilihat dari perspektif penertiban. Di satu sisi terdapat kebutuhan negara untuk mengendalikan migrasi tidak teratur dan memerangi jaringan penyelundupan. Di sisi lain terdapat kewajiban untuk memastikan orang yang berada dalam perjalanan migrasi tetap memperoleh perlindungan dasar dan tidak menjadi korban eksploitasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi negara-negara asal migran, perkembangan ini juga menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju kawasan Teluk melalui Djibouti dan Yaman memiliki risiko serius. Informasi mengenai jalur keberangkatan, dokumen, biaya perjalanan, agen atau pihak yang mengatur perjalanan serta kondisi negara transit menjadi penting sebelum seseorang mengambil keputusan untuk bermigrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara bagi negara tujuan di kawasan Teluk, keberadaan jaringan penyelundupan dan tingginya permintaan terhadap tenaga kerja migran menjadi bagian dari konteks yang perlu diperhatikan dalam membangun mekanisme migrasi yang aman dan teratur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Operasi yang menghasilkan pemulangan <strong>649 warga negara asing</strong> menunjukkan bahwa Djibouti memperketat penanganan migrasi tidak teratur. Namun, efektivitas kebijakan tersebut pada akhirnya juga bergantung pada kemampuan negara-negara di sepanjang Eastern Route untuk menyediakan jalur migrasi yang aman, memerangi perdagangan orang dan penyelundupan, serta memastikan bahwa tindakan penegakan hukum tidak mengabaikan kebutuhan perlindungan kelompok rentan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah tingginya mobilitas menuju kawasan Teluk dan memburuknya situasi keamanan di Yaman, Djibouti berada pada posisi penting dalam tata kelola migrasi regional. Karena itu, pengendalian perbatasan dan perlindungan migran perlu berjalan bersamaan agar penanganan migrasi tidak teratur tidak justru mendorong perjalanan ke jalur yang semakin tersembunyi dan berbahaya.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/09/djibouti-pulangkan-649-warga-negara-asing-dalam-operasi-migrasi-tidak-teratur/">Djibouti Pulangkan 649 Warga Negara Asing Dalam Operasi Migrasi Tidak Teratur</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/09/djibouti-pulangkan-649-warga-negara-asing-dalam-operasi-migrasi-tidak-teratur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/xvya82NIzTRUjOlDzJwPUv3mWkI=/1200x675/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4427396/original/096510400_1684077842-000_1771YV.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
