<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TKW Archives - suaramigrannusantara.org</title>
	<atom:link href="https://suaramigrannusantara.org/tag/tkw/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suaramigrannusantara.org/tag/tkw/</link>
	<description>Suara Migran, Suara Keadilan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Oct 2026 02:01:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://suaramigrannusantara.org/wp-content/uploads/2026/02/cropped-WhatsApp-Image-2026-02-27-at-10.04.27-1-32x32.png</url>
	<title>TKW Archives - suaramigrannusantara.org</title>
	<link>https://suaramigrannusantara.org/tag/tkw/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>AKU NON DI NEGERI ARAB LEWAT PT ILEGAL: 8 BULAN DI PENJARA DAN 1 TAHUN DI SARIKAH KARENA SATU VIDEO TIKTOK DI DEPAN MAJIKAN LUMPUH (Kisah Nyata)</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-non-di-negeri-arab-lewat-pt-ilegal-8-bulan-di-penjara-dan-1-tahun-di-sarikah-karena-satu-video-tiktok-di-depan-majikan-lumpuh-kisah-nyata/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-non-di-negeri-arab-lewat-pt-ilegal-8-bulan-di-penjara-dan-1-tahun-di-sarikah-karena-satu-video-tiktok-di-depan-majikan-lumpuh-kisah-nyata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2026 01:42:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SASTRA MIGRAN]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[Buminu]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh migran]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[KP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja migran]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan Pekerja Migran]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/?p=7682</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sumber: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-non-di-negeri-arab-lewat-pt-ilegal-8-bulan-di-penjara-dan-1-tahun-di-sarikah-karena-satu-video-tiktok-di-depan-majikan-lumpuh-kisah-nyata/">AKU NON DI NEGERI ARAB LEWAT PT ILEGAL: 8 BULAN DI PENJARA DAN 1 TAHUN DI SARIKAH KARENA SATU VIDEO TIKTOK DI DEPAN MAJIKAN LUMPUH (Kisah Nyata)</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Neni Rosini</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kisah nyata Cindy, TKW asal Sukatani yang berangkat karena ekonomi, tetapi salah langkah masuk PT ilegal yang kemudian ditutup pemerintah.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Namaku Cindy. Aku non. Baru beberapa bulan menginjakkan kakiku di negara Arab untuk pertama kalinya dalam hidupku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bukan anak orang kaya. Aku berangkat karena kebutuhan ekonomi. Bapak sakit-sakitan, ibu hanya buruh cuci, adik masih sekolah. Di kampung, lowongan kerja cuma jadi buruh tani dengan upah Rp50 ribu sehari kalau ada yang memanggil. Tidak cukup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu datang seorang tetangga. Dia bilang ada PT yang bisa memberangkatkan aku dengan cepat ke Arab. Katanya gajinya besar, sekitar Rp8 juta, dan pekerjaannya hanya menjaga nenek. Tidak perlu sekolah lama, tidak perlu tes bahasa yang susah. Cukup bayar Rp5 juta di awal, sisanya dipotong dari gaji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku yang polos langsung percaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tidak mengecek apakah PT itu resmi atau ilegal. Aku tidak tahu bedanya PT resmi dan PT ilegal. Yang aku tahu, aku ingin cepat berangkat dan cepat mengirim uang untuk keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku berangkat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prosesnya cepat sekali. Dua minggu langsung terbang. Tidak ada pembekalan yang benar. Tidak ada pelajaran bahasa Arab. Tidak ada pelajaran tentang hukum di Arab. Aku hanya disuruh tanda tangan banyak kertas yang tidak aku mengerti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sampai di Arab, aku ditempatkan di sebuah rumah besar. Aku bekerja bersama satu orang Filipina. Kami berdua bekerja bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku yang mengurus majikan yang lumpuh. Memandikan, menyuapi, mengganti popok, menjaga hampir 24 jam. Temanku yang orang Filipina mengurus rumah, memasak, dan bersih-bersih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Majikan yang lumpuh itu sebenarnya baik. Dia tidak pernah marah. Tapi dia tidak bisa bicara dengan jelas. Dia hanya bisa menatap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bulan-bulan pertama sangat berat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku homesick. Tidak bisa bahasa. Tidak bebas memegang HP. Gaji tiga bulan pertama dipotong PT dengan alasan untuk mengganti biaya keberangkatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku hanya bisa menangis di kamar mandi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sampai suatu hari, terjadi sesuatu yang membuat aku menyesal seumur hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari itu majikan yang lumpuh sedang tidur di kursi roda di ruang tamu. Aku dan teman Filipina sedang istirahat sebentar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Temanku membuka TikTok. Dia mengajakku membuat video joget bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Katanya supaya tidak stres.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku awalnya menolak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tapi tidak apa-apa. Majikan tidur, tidak ada orang rumah. Hanya kita berdua,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku yang bodoh, yang baru pertama kali memegang HP bagus setelah lama tidak memegang HP, akhirnya ikut joget.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami membuat video di depan majikan yang lumpuh dan sedang tidur di kursi roda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku kira tidak akan ada masalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku kira TikTok hanya untuk senang-senang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku kira di negara orang sama seperti di Indonesia, bisa bebas membuat video.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami upload video itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak sampai 24 jam, like-nya banyak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami senang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi ternyata, itulah petaka bagiku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak majikan yang tinggal di lantai atas melihat video TikTok itu. Entah dari mana dia tahu. Mungkin lewat FYP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia turun dengan wajah merah karena marah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia menunjuk video itu. Kemudian menunjuk ayahnya yang lumpuh di kursi roda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia berteriak menggunakan bahasa Arab yang tidak aku mengerti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi dari wajah dan matanya, aku tahu dia sangat marah. Dia merasa ayahnya dihina.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mencoba menjelaskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku meminta maaf. Aku bahkan bersimpuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi tidak ada gunanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak lama kemudian, polisi datang dan membawa aku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah titik lemahnya aku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tidak bisa bahasa Arab. Aku tidak punya siapa-siapa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PT yang memberangkatkan aku ternyata sudah ditutup pemerintah Indonesia karena kasus ilegal. Aku mencoba menghubungi nomor PT, tetapi tidak aktif. Aku menghubungi agen di Arab, tetapi nomor teleponku justru diblokir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku ditahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekitar delapan bulan aku berada di penjara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delapan bulan itu adalah neraka dunia bagiku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku satu sel dengan banyak orang dari berbagai negara. Dingin, bau, tidak ada kasur yang layak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap hari aku hanya bisa berdoa. Berserah kepada Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bingung harus mengadu kepada siapa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">KBRI terasa jauh. Aku tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Aku juga tidak tahu prosedur karena aku tidak pernah mendapatkan pembekalan yang cukup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku menyesal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyesal kenapa aku berangkat melalui PT ilegal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyesal kenapa aku membuat TikTok di depan majikan yang lumpuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyesal kenapa aku tidak belajar terlebih dahulu tentang hukum dan aturan di negara tempat aku bekerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku baru sadar bahwa apa yang menurutku hanya candaan bisa dianggap serius di negara orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu video pendek bisa berubah menjadi masalah besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah delapan bulan ditahan, aku kira setelah bebas dan dipulangkan ke Sarikah, aku akan langsung pulang ke tanah air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku kira mimpi buruk sudah selesai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata itu hanya angan-angan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku memang dipulangkan ke Sarikah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sarikah adalah tempat penampungan bagi pekerja bermasalah yang menunggu proses pemulangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku kira di sana aku akan cepat dipulangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Sarikah, aku malah disuruh bekerja tanpa digaji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Disuruh membereskan kantor, menyapu, mengepel, mencuci piring, memasak untuk petugas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari pagi sampai malam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa digaji sepeser pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hingga lebih dari satu tahun aku berada di Sarikah tanpa ada kepastian kapan bisa pulang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada uang. Tidak ada kepastian. Tidak ada keluarga yang tahu aku berada di mana karena HP-ku disita polisi sejak aku ditahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tahu apa yang aku lakukan itu salah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan aku sangat menyesal karena sejak awal aku sudah melangkah dengan kesalahan, yaitu masuk melalui PT ilegal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tidak akan pernah bisa benar-benar membantu ketika aku menghadapi masalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PT ilegal itu, setelah mendapatkan uang dari kita, bisa saja lepas tangan. Ketika mereka sudah ditutup pemerintah, nasib pekerja yang diberangkatkan pun semakin tidak jelas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PT resmi berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau ada masalah, setidaknya ada mekanisme pertanggungjawaban dan jalur perlindungan yang dapat ditempuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu tahun lebih di Sarikah, aku hanya bisa berserah kepada Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salat lima waktu. Puasa Senin Kamis. Berdoa supaya bisa pulang dan melihat ibu serta bapak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya, setelah satu tahun dua bulan di Sarikah, ada pendataan dari pemerintah Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bisa pulang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan baju yang itu-itu saja. Tanpa uang sepeser pun. Tanpa oleh-oleh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku hanya membawa trauma delapan bulan di penjara dan pengalaman panjang di Sarikah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang aku sudah kembali ke kampung, di Sukatani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku trauma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tidak mau lagi berangkat melalui PT ilegal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku ingin cerita ini menjadi pelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk teman-teman perempuan di luar sana, adik-adikku yang ingin menjadi TKW:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertama, tolong cek PT kalian resmi atau ilegal.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Cek melalui kanal resmi pemerintah dan Disnaker. Jangan tergiur berangkat cepat dan murah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PT resmi mungkin prosesnya lebih panjang dan banyak persyaratan, tetapi ada mekanisme perlindungan yang bisa ditempuh jika terjadi masalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kedua, jangan sembarangan membuat TikTok, video, atau foto majikan tanpa izin, apalagi majikan yang sedang sakit.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita berada di negara orang. Setiap negara mempunyai aturan dan budaya yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">HP bukan untuk main-main.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita di sana untuk bekerja, bukan untuk membuat konten yang bisa merugikan diri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu video 15 detik bisa menghancurkan kehidupan seseorang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mengalaminya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga, kalau sudah berada di luar negeri, simpan nomor KBRI, KJRI, dan lembaga perlindungan pekerja migran.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan hanya menyimpan nomor PT atau agen.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Keempat, jangan langsung percaya kalau ada yang mengatakan potong gaji berbulan-bulan adalah hal yang wajar.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pastikan seluruh biaya, kontrak kerja, potongan gaji, hak, kewajiban, dan identitas perusahaan benar-benar jelas sebelum berangkat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tahu aku salah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku sudah membayar mahal untuk kesalahan itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delapan bulan di penjara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu tahun dua bulan di Sarikah tanpa gaji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trauma yang mungkin akan aku bawa seumur hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan rasa malu karena pulang tanpa membawa hasil seperti yang aku bayangkan ketika pertama kali berangkat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi aku bersyukur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah masih memberikan aku kesempatan untuk pulang dengan selamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masih banyak teman-teman di Sarikah yang belum pulang sampai sekarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namaku Cindy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku non yang pernah salah langkah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku berangkat karena ingin membantu keluarga. Aku ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi aku salah memilih jalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga ceritaku bisa menjadi pelajaran dan menyelamatkan satu perempuan lain agar tidak masuk ke lubang yang sama denganku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan seperti aku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan tergiur berangkat cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan percaya begitu saja kepada agen atau PT yang tidak jelas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan jangan pernah menganggap aturan di negara orang sebagai sesuatu yang bisa disepelekan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena ketika masalah datang, kita yang harus menanggung akibatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku pernah mengalaminya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delapan bulan penjara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu tahun dua bulan di Sarikah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua bermula dari satu keputusan yang salah dan satu video yang hanya berdurasi beberapa detik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ini kisah nyata yang saya ambil dari pengalaman saya.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Terima kasih.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application">https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-non-di-negeri-arab-lewat-pt-ilegal-8-bulan-di-penjara-dan-1-tahun-di-sarikah-karena-satu-video-tiktok-di-depan-majikan-lumpuh-kisah-nyata/">AKU NON DI NEGERI ARAB LEWAT PT ILEGAL: 8 BULAN DI PENJARA DAN 1 TAHUN DI SARIKAH KARENA SATU VIDEO TIKTOK DI DEPAN MAJIKAN LUMPUH (Kisah Nyata)</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-non-di-negeri-arab-lewat-pt-ilegal-8-bulan-di-penjara-dan-1-tahun-di-sarikah-karena-satu-video-tiktok-di-depan-majikan-lumpuh-kisah-nyata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://suaramigrannusantara.org/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0045.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-lari-bukan-karena-jahat-tapi-karena-ingin-tetap-jadi-manusia-kisah-nyata/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-lari-bukan-karena-jahat-tapi-karena-ingin-tetap-jadi-manusia-kisah-nyata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2026 19:58:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SASTRA MIGRAN]]></category>
		<category><![CDATA[ABK]]></category>
		<category><![CDATA[ART]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh migran]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[KP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Neni Rosini Wahidin]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja migran]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/?p=7309</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Neni Rosini Wahidin Lanjutan dari ngelap sepatu&#8230; Majikan laki-lakiku menyuruhku mengelap sepatunya di depan dia. Aku takut. Tapi ini...</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-lari-bukan-karena-jahat-tapi-karena-ingin-tetap-jadi-manusia-kisah-nyata/">AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Neni Rosini Wahidin</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lanjutan dari ngelap sepatu&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Majikan laki-lakiku menyuruhku mengelap sepatunya di depan dia. Aku takut. Tapi ini pekerjaanku. Aku kembali, duduk di lantai di depannya, membersihkan sepatunya pelan-pelan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Berdiri,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku berdiri. Dia duduk di sofa. Tiba-tiba dia memegang tanganku. Menarikku, menyuruhku duduk di pangkuannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku kaget.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Astagfirullah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku duduk di pangkuan Babah itu. Jantungku mau copot. Dia memegang pipiku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kamu cantik,” katanya pelan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku mau pergi,” bisikku. Suaraku gemetar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia menahanku keras. Menahan bahuku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalian tahu kan orang Arab kayak gimana&#8230;”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku risih. Mual.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bilang, “Kalau kamu mau begituan, jangan sama aku. Kamu ada istri. Istrimu di depan. Aku muslim. Aku masih gadis. Aku datang ke sini cari rezeki, bukan cari masalah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia diam. Lalu senyum. Dia mengeluarkan uang. Banyak. Ditumpuk di meja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini uang buat kamu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Enggak usah. Aku punya uang. Gajiku,” jawabku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau kamu kayak gini, aku bakal ngomong sama istri kamu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia tertawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Istriku nggak bakal percaya kamu. Setahu dia, aku kerja seharian. Nggak sempat ketemu pembantu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku menatap matanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku orang Indonesia. Bukan wanita murah. Dikasih uang berapa juta pun, aku nggak mau tidur sama kamu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku langsung berdiri. Lari ke kamar. Kunci pintu keras.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tidak keluar. Tidak peduli pekerjaan. Sampai majikan perempuan datang, aku tidak tahu jam berapa. Nafasku masih memburu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bereskan barang. Semua masuk ke tas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau dia balik lagi, aku harus siap lari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam, majikan perempuan datang. Dia mencariku, panik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Cindy&#8230; Cindy kenapa? Belum masak? Kenapa rumah berantakan?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tidak menjawab. Mulutku terkunci. Tenagaku sudah dikuras habis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anaknya yang dua menggedor-gedor pintu kamarku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Cindy, kamu kenapa? Kamu sakit?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Majikan perempuan dan majikan laki-laki menggedor pintuku bersamaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Buka pintunya!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku buka pelan. Mataku bengkak, tanganku memegang tas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku pengen pulang ke Indonesia. Aku nggak mau kerja lagi di sini.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kenapa?” tanya majikan perempuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku diam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Zaman itu belum ada syarikah. Semua pembantu Indonesia langsung sampai ke rumah majikan. Urusan kepulangan majikan yang urus. Aku tidak punya siapa-siapa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bilang, “Aku nggak mau kerja sama kalian. Aku kangen orang tuaku.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetap aku disuruh kerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Keluar. Kerja.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mau mengadu ke siapa?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada syarikah. Tidak ada kantor. Aku telepon sponsor, tidak aktif. Telepon PT di Indonesia, katanya sudah tutup. PT-nya hilang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku putus asa saat itu juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku telepon saudaraku yang ada di Doha. Suaraku gemetar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku harus gimana?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia bilang, “Ya udah, keluar aja.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bengong.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Mau keluar ke mana?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Nanti aku bantuin kamu keluar. Aku juga sama majikanku nggak baik. Kita kabur.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku punya teman di luar, orang Filipina. Dia pembantu juga. Dapurnya di depan, pintunya kaca. Aku buka hordeng, memberi isyarat tangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Bantuin aku dong. Aku nggak tahan kerja di sini.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia bilang, “Masukin baju-baju kamu yang penting ke kresek hitam. Pura-pura buang sampah di depan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku ikuti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku masukkan baju ke kresek hitam. Jalan ke depan pura-pura santai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Security bertanya, “Kamu mau ke mana?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Mau buang sampah di depan. Soalnya kebanyakan,” jawabku gemetar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Oh, ya udah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku sudah di luar pagar. Jantung mau copot.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku telepon saudaraku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jemput sekarang.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya aku keluar. Pergi bersama saudaraku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nasibku gimana di luar sana, aku pasrahkan pada Tuhanku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang penting aku keluar dari rumah itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari tangan yang memegang pipiku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari tumpukan uang yang mau membeli harga diriku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam itu aku lari bukan karena jahat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi karena aku masih mau jadi manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu bulan berlalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tidak lagi tinggal di rumah majikanku. Sekarang aku di luar, bersama saudaraku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, aku ilegal. Tidak punya paspor. Tidak punya KTP di sini. Kalau ketemu orang asing, aku bisa langsung dibawa ke polisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi aku bertahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama satu tahun aku diberi kerja di rumah orang. Gajinya tiga kali lipat. Kerjaku mengurus bayi yang baru lahir dan mengurus rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama itu aku mengumpulkan banyak uang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa paspor pun aku tetap belanja untuk kebutuhanku. Sesekali aku beli Indomie dan kopi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Obat rindu paling murah dari Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua bulan kemudian hidupku sama. Tapi lama-lama aku sadar. Hidup di luar tanpa identitas itu sangat berbahaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sakit, kita obati sendiri. Tidak bisa ke rumah sakit. Tidak bisa pergi ke mana pun sesuka hati. Kita diawasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu tahun berlalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Badanku capek. Hatiku juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku memutuskan pulang ke Indonesia. Aku tidak mau hidup menggantung. Banyak yang kabur tapi memilih jalan buntu. Aku tidak mau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu itu aku masih muda. Masih gadis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Genap satu tahun kerja di luar tanpa identitas, aku memberanikan diri menyerahkan diri ke kantor polisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua uangku aku kirim ke rekening pribadiku di Indonesia. Semua barangku aku kargo pakai nama teman yang resmi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku hanya bawa satu koper kecil. Isinya kurma, baju abaya, baju ganti, dan sedikit camilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku diantar saudaraku pakai taksi. Tapi taksi tidak bisa masuk wilayah polisi. Jadi aku jalan kaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari jalan yang paling jauh, sampai ke gedung polisi yang sangat luas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku masuk. Daftar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ada apa?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya pengen pulang.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kamu punya uang buat pulang?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Nggak punya. Saya nggak punya apa-apa.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya udah, tunggu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Habis itu aku dipanggil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua barangku dipisah dari badanku. Aku dibawa ke tempat seperti penampungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sana&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masya Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ribuan orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bermacam-macam negara. Indonesia ada. Filipina ada. Semua negara ada di situ, satu tempat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tempatnya luas banget, seperti dua lapangan bola dijadikan satu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang-orang bertumpuk-tumpuk. Ada yang menangis. Ada yang membawa anak kecil. Ada yang sakit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiap pagi dikasih makan roti, telur, ayam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hidup free. Mau tidur tinggal tidur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi kita tidak bisa pergi ke mana-mana. Hanya di lingkaran itu saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebulan&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua bulan&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga bulan&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sampai kapan, ya Allah, aku ada di sini?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku kangen keluarga. Kangen Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu malam saat tidur, tiba-tiba namaku dipanggil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan aku saja. Banyak yang dipanggil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita dikumpulkan di lapangan. Diabsen satu-satu. Lalu dibawa ke suatu tempat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ke kantor&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ke kantor lagi&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan ke kantor lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terus-terusan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita foto. Kita ditanya. Diinterogasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terakhir, petugas bertanya,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kamu ada paspor?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bilang, “Nggak ada, Pak. Sama majikan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Majikan kamu ada di sini. Dia pengen ketemu kamu. Paspor kamu sudah dibalikin sama majikan kamu. Sama barang-barang kamu juga. Majikan kamu ngasih amplop.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Nama kamu benar Cindy?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Iya, Pak. Nama saya Cindy.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Oke. Sekarang kamu bilang sama kami. Mau bertemu dengan majikan kamu atau enggak?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku deg-degan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau misalkan aku ketemu majikanku, apa aku dibawa lagi sama mereka?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Enggak. Kalau kamu nggak mau, ya udah nggak usah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku jawab,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku nggak mau, Pak.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Petugas itu bilang lagi,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Cuma majikan kamu ada niat baik. Sampai datang ke sini nganterin barang kamu, paspor kamu. Makanya kamu secepat ini bisa pulang.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku jawab,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Baik, Pak&#8230;”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan nada gemetar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari itu aku sadar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku pernah jatuh. Aku pernah gagal. Aku pernah melangkah ke jurang, jadi TKW ilegal tanpa identitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi untuk sukses, harus memilih jalan lurus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyakitkan, memang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memilih jalan buntu kelihatannya menyenangkan, tapi hanya sesaat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua hari berlalu setelah proses pemulangan. Karena semua dokumen belum komplet, jadi harus menunggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di penampungan itu aku bertemu seorang ibu orang Indonesia. Dia kabur. Punya anak umur setahun yang sedang sakit. Dia tidak bisa pulang karena kasusnya lebih berat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku hanya bisa bilang,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Terima kasih, ya Allah. Karena kasusku tidak berat.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama enam bulan aku di penampungan, tidak ada satu pun pertanyaan yang menyudutkan aku. Sedangkan yang lain, banyak kasus yang lebih parah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di suatu malam aku bermimpi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada tiga laki-laki berjubah putih. Seperti orang alim. Mereka senyum padaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cuma senyum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu bulan kemudian, sudah delapan bulan lebih aku di penampungan. Tiba-tiba namaku dipanggil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di papan tulis: “Cindy”, tapi pakai angka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di nomor itu aku tulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku dipanggil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di situ kebebasanku yang sesungguhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka memutuskan,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kamu bebas hari ini.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya Allah&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari itu aku sangat bahagia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari delapan bulan dikurung, hari ini aku bisa menghirup udara luar. Bisa pulang ke Indonesia. Tanah airku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku langsung ambil koperku di gudang. Dengan gemetar aku memegang kertas yang dikasih Pak Polisi untukku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku dikumpulkan. Dibawa ke bus. Dibawa ke bandara. Diantar sampai naik pesawat, dikawal polisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelah kanan polisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelah kiri polisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di pesawat, aku buka abayaku. Aku ganti pakaianku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bilang dalam hati,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku buang sial. Semoga ke depannya aku bisa jauh lebih baik lagi.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan 14 jam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Transit lagi, transit lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sialnya, kita terdampar di Sri Lanka karena penerbangan di-cancel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tidak punya uang sepeser pun untuk beli makan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku hanya berdiri di sudut ruangan. Duduk sendirian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam itu, ada ibu-ibu orang Indonesia. Mereka baru pulang dari Abu Dhabi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tanya,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Mbak dari mana?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku jawab,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya pulang, Bu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku diam. Malu. Penampilanku berantakan. Karena pulang dari penampungan aku belum mandi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu itu bilang,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kamu mau makan?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku jawab,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Enggak, Bu. Makasih ya, Bu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terus ibu yang satunya ngasih segelas air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini buat kamu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Makasih ya, Teh.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku minum sedikit demi sedikit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak lama, si ibu itu datang lagi. Bawa banyak makanan. Nasi, chip, sama kolak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bilang,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Makasih banyak ya, Bu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tangan aku gemetar menerimanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sudah dua hari aku menahan lapar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasa nasi hangat itu&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masya Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti makan di rumah sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku makan pelan-pelan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu itu senyum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Habisin, Nak. Kuatin badan. Masih jauh perjalanan pulang kamu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam itu aku tidak bisa tidur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan karena lapar lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi karena hati ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delapan bulan di penampungan. Tidur berdesakan, makan roti sama telur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang dikasih nasi sama kolak gratis sama orang yang bahkan tidak kenal aku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Maha Baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat aku merasa paling hina, paling malu, paling sendiri&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah kirim orang baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Besok paginya, penerbangan dilanjutkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Sri Lanka ke Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pas roda pesawat menyentuh landasan Soekarno-Hatta, aku nangis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak bisa ditahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Petugas imigrasi lihat pasporku. Stempel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Selamat datang di Indonesia, Mbak.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat itu paling indah sedunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku keluar bandara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hirup udara Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Panas. Pengap. Macet.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi buat aku, itu surga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saudaraku sudah menunggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia peluk aku kencang banget.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Akhirnya pulang juga, Neng&#8230;”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di taksi menuju rumah, aku lihat langit Indonesia. Awan putih. Jalanan ramai. Anak-anak jualan koran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bisik,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Allah&#8230; aku pulang. Beneran pulang.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delapan bulan jadi tahanan di negara orang. Delapan bulan tidak punya nama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari ini, aku punya rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Punya keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Punya Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam pertama di rumah, aku tidur di lantai. Tidak pakai kasur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena aku kangen dinginnya lantai kampung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum merem, aku sujud lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Allah. Aku pernah jatuh ke jurang. Aku pernah ilegal. Aku pernah malu. Tapi Engkau pulangin aku dengan selamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mulai hari ini, aku janji. Aku nggak akan cari jalan buntu lagi. Aku akan jalan lurus. Walau sakit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena aku udah buktiin sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jalan lurus itu yang nganterin aku pulang.”</p>



<h3 class="wp-block-heading">CATATAN UNTUK YANG MEMBACA: RISIKO JADI KABURAN DI LUAR NEGERI</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak yang mengira kabur itu bebas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah aku keluar dari rumah majikan itu, aku baru tahu, hidup di luar tanpa identitas itu lebih mengerikan daripada hidup di dalam rumah yang menakutkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. Kita Tidak Punya Nama</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Paspor ditahan majikan. KTP tidak ada. Kalau ada razia di jalan, kita bisa langsung diangkut polisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidur pun tidak nyenyak. Setiap ada suara mobil polisi lewat, jantung mau copot.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. Sakit, Obati Sendiri</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama aku ilegal, aku tidak bisa ke rumah sakit. Demam, batuk, sakit perut, semua ditahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beli obat warung saja takut keluar. Kalau sampai pingsan di jalan, tidak ada yang bertanggung jawab.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. Gaji Besar, Tapi Tidak Ada Jaminan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Iya, gajiku tiga kali lipat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi kalau majikan baru tidak bayar, mau lapor ke siapa?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita ilegal. Kita tidak bisa lapor polisi, tidak bisa lapor KBRI kalau belum menyerahkan diri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita hanya bisa diam.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>4. Dijual Lagi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku dan saudaraku ditampung di rumah singgah. Di situ kita disuruh kerja lagi dari rumah ke rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau dapat rumah yang baik, alhamdulillah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau dapat rumah yang jahat lagi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita kabur lagi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sampai kapan?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>5. Pulang Tidak Gratis</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pulang, aku harus menyerahkan diri. Tidur di penampungan seperti penjara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdesakan, makan roti dan telur setiap hari, menunggu berbulan-bulan tanpa kepastian kapan dipanggil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ribuan orang dari berbagai negara menangis di situ. Ada yang bawa anak kecil yang sakit. Ada yang kasusnya lebih berat, tidak bisa pulang bertahun-tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bersyukur, aku masih muda. Masih gadis. Masih diberi kesempatan pulang dengan selamat oleh Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi tidak semua seberuntung aku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makanya aku tulis ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku lari bukan karena jahat, tapi karena ingin tetap jadi manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi setelah lari, aku sadar:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jalan lurus itu menyakitkan, tapi mengantarkan pulang. Jalan buntu kelihatannya menyenangkan, tapi hanya sesaat.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kamu ada di posisi seperti aku dulu, jangan pilih kabur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cari KBRI. Cari petugas. Simpan nomor darurat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan seperti aku yang tidak punya siapa-siapa, sampai harus pura-pura buang sampah pakai kresek hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Harga diri kita memang tidak bisa dibeli dengan uang jutaan di atas meja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi kebebasan kita juga tidak bisa ditebus kalau kita sudah tidak punya identitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-lari-bukan-karena-jahat-tapi-karena-ingin-tetap-jadi-manusia-kisah-nyata/">AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/10/aku-lari-bukan-karena-jahat-tapi-karena-ingin-tetap-jadi-manusia-kisah-nyata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://suaramigrannusantara.org/wp-content/uploads/2026/10/1790798215410.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/09/dengan-borgol-di-tangan-tapi-bebas-di-hati-kisah-nyata/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/09/dengan-borgol-di-tangan-tapi-bebas-di-hati-kisah-nyata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2026 22:02:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SASTRA MIGRAN]]></category>
		<category><![CDATA[ART]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[Buminu]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh migran]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[KP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja migran]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<category><![CDATA[True Story]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/?p=7213</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Neni Rosini Wahidin Majikan bilang&#8230;.. “Neni, ke kamar kamu! Polisi, lepasin dia! Ini urusan saya!” Polisi laki-laki langsung menyeret...</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/09/dengan-borgol-di-tangan-tapi-bebas-di-hati-kisah-nyata/">DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Neni Rosini Wahidin</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Majikan bilang&#8230;..</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Neni, ke kamar kamu! Polisi, lepasin dia! Ini urusan saya!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi laki-laki langsung menyeret aku ke kursi. Suaranya tegas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini udah tanggung jawab kami. Kamu udah nyerahin pembantu kamu ke saya. Jadi udah, nggak usah ngobrol lagi.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku duduk. Majikan teriak lagi, kayak orang gila.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“JANGAN DUDUK DI SITU! NANTI KURSINYA KOTOR!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua polisi langsung diam. Kaget. Kepala mereka menoleh bersamaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi wanita membisikkan sesuatu kepadaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Neni&#8230; aku tahu kamu nggak salah. Ikut kami, ya. Kami proses. Kamu aman.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku jawab, suaraku pecah tapi pasti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Iya, Mbak. Tujuan saya juga gitu. Mending tidur di sel daripada di kamar 1&#215;40 cm. Di sel bisa luas. Banyak teman. Di sini saya kesiksa.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Majikan panik. Langsung telepon agen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini Neni mau ikut polisi, gimana?!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agen di telepon bilang,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Neni&#8230; jangan ikut polisi. Nanti kamu nggak pulang lagi. Diam aja di situ, nanti kami jemput.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku ambil HP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Yang laporan majikan, Mam. Bukan saya. Polisi udah di sini. Saya pilih ikut polisi.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi berkata,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barang-barang pembantu, kasih semua. HP, uang.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikasih semua. Semua duitku. HP-ku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi wanita menggenggam tanganku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Neni, ini cuma sementara, ya. Kami borgol kamu. Sampai kantor, nanti dilepas.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mengangguk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Iya, Mbak. Silakan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Krek&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Borgol.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tangan kiri. Di tangan kanan. Di depan semua orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku berjalan keluar dari lantai 15 apartemen itu. Digiring polisi. TKW-TKW Indonesia di lobi pada ngelihatin. Bisik-bisik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sabar ya, Teh&#8230; Sabar ya, Teh&#8230;”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku nggak merasa jahat. Aku merasa&#8230; lega.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya, aku keluar dari rumah neraka itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan borgol di tangan&#8230; tapi merdeka di hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mobil polisi berbunyi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wiu&#8230; wiu&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua orang di luar apartemen lantai 15 pada menoleh ke aku. Aku nggak menunduk. Aku nggak malu. Aku nggak merasa bersalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru ini kebanggaanku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bisa melawan majikan yang menganggap aku bukan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesampainya di kantor polisi, Masya Allah&#8230; gedungnya besar banget. Katanya daerah Bedok, Singapura.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku masuk kayak tahanan beneran. Disuruh duduk. Nunggu. Lama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua jam aku duduk diam. Polisi hilir mudik. Ada yang ribut. Ada yang nangis. Ada yang berantem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Serasa neraka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi aku diam aja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nggak lama, ada polisi wanita datang. Bawa roti sama air mineral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kamu minum dulu, ya. Sebentar lagi dipanggil.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku minum sedikit. Tangan masih dingin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terus aku disuruh masuk ruang pemeriksaan. Karena waktu itu lagi Corona, aku diambil darah dulu. Tes swab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhamdulillah, negatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku lolos.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi yang memeriksa aku ngomong bahasa Inggris. Aku jawab bahasa Inggris juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kok kamu bisa bahasa Inggris?” tanya dia kaget.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dulu saya pernah kerja di Hong Kong, Pak.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Masya Allah,” katanya. “Udah, sabar, ya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Habis itu, data. Paspor. Nama. Semua didata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">30 menit, 1 jam&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terus aku disuruh masuk sel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam sel ada lima cewek.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pas pintunya dikunci, aku lihat sekeliling.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Allah&#8230; inikah penjara asli Singapura?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kamar mandinya nggak ada pintu. Terbuka. Kalau mau kencing, mau BAB, semua orang bisa lihat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku nangis di pojokan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Allah&#8230; berat banget ujian-Mu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi aku sabar. Karena aku nggak salah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang di sel nanya pakai Melayu sama Inggris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kamu kenapa? Kamu bukan orang sini, kan?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku diam. Nggak mau cerita. Cuma nangis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nggak mau makan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua hari aku nggak makan. Nggak kencing. Nggak BAB. Cuma duduk. Makanan yang dikasih aku kasih ke teman sel yang mentalnya kurang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari ketiga, aku dipanggil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ruangan kecil. Ada komputer. Ada satu polisi berdiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ceritakan dari awal. Sampai kamu dilaporkan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku cerita semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dia ngasih saya makan sisa ayam bau, Pak. Saya sabar. Saya kerja bertahun-tahun. Kalau majikan laki-laki ke dapur, saya disuruh masuk kamar. Nunggu dia keluar. Baru saya beresin rumah. Bikin susu. Ngepel. Nyuci. Nyetrika. Semua saya lakukan. Tapi nggak pernah dihargai. Selalu disalahkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari itu, saya pegang pisau. Lagi motong apel buat anaknya. Majikan perempuan datang, teriak-teriak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Kamu nggak usah banyak ngomong! Aku yang bayar kamu!’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sambil nunjuk-nunjuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makin lama makin nggak karuan. Saya spontan jawab. Pisau masih di tangan, memotong apel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia langsung menelepon polisi. Bilang saya mau bunuh anaknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya bilang ke polisi,</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Pak, kalau Bapak nggak percaya, tanya majikan saya. Di rumah banyak CCTV. Minta buka rekamannya. Biar jelas semuanya.’”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat aku lagi diinterogasi&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tok&#8230; tok&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua polisi masuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pakai bahasa Melayu mereka bilang ke polisi yang memeriksa aku,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Pak, kasihan ini pembantu. Nggak dikasih makan sama majikannya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata itu polisi yang menjemput aku dari rumah. Dia menjelaskan semuanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Habis itu aku disuruh balik ke sel. Diantar polisi lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku nggak tahu mereka ngomong apa di ruang interogasi itu. Aku cuma nunggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sampai sore.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lapar banget.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jam 09.00 malam, pintunya dibuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Neni, keluar.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku dipindah ke ruang tunggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Mbak, boleh numpang ke air?” tanyaku ke polisi wanita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku diantar ke toilet khusus tamu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu aku duduk lagi di ruang tunggu. Dikasih makan. Dikasih minum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terus aku dipanggil ke meja panjang. Kayak kasir pengaduan. Di depannya komputer semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi bilang,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kamu besok bebas, ya. Mau telepon agen jemput, atau mau diantar ke agen?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku jawab,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Terserah kalian aja. Terima kasih.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku sujud syukur di situ juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Terima kasih, Pak Polisi. Ya Allah, terima kasih. Sudah adil sama aku.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi di meja nanya lagi,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kasus kamu mau disebarkan atau di-privasi?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku jawab,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jangan disebarkan, Pak. Nanti keluarga saya kaget. Di-privasi aja, soalnya aku takut keluarga saya tahu tentang ini.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Oke. Tanda tangan sini.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikasih kertas banyak. Bahasa Inggris semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau bisa baca, baca dulu,” kata polisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku jawab,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Nggak usah, Pak. Saya percaya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tanda tangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi senyum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kita tahu kok kamu nggak salah. Dari cara majikan kamu ngomong aja udah kelihatan siapa yang benar, siapa yang salah. Di pisau itu nggak ada sidik jari kamu. Nggak ada bukti pembunuhan. Jadi&#8230; kamu bebas.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses udah semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku disuruh ambil baju-bajuku. Dibawa ke tempat kayak arsip. Banyak banget kotak-kotak. Rapi semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Petugas buka satu kotak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini punya kamu, Neni.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku ganti dari baju tahanan ke baju sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">HP dikembalikan. Dompet. Semua barang-barang aku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tangan yang tadi diborgol, sekarang bebas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nggak ada bekas merahnya pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi mengantar aku ke ruang tunggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">AC-nya dingin, tapi hati aku anget banget.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pertama kalinya dalam tiga hari&#8230; aku merasa jadi manusia lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan tahanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan pembantu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi Neni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang bebas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan untuk Singapura ini, aku mau bilang dari hati:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku respect sama pemerintahan Singapura yang memanusiakan TKI dan dia ramah sama TKI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, mungkin nggak semuanya diperlakukan seperti itu. Tapi menurut aku, mereka memperlakukan aku dengan sangat baik, sangat rapi, dan sangat hati-hati.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<p class="wp-block-paragraph">Dan di situ, di kursi ruang tamu lantai 15 itu, dengan borgol di depan semua orang, aku nggak mikir ke depannya akan seperti apa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku nggak mikir besok aku makan apa. Nggak mikir agen bakal jemput atau nggak. Nggak mikir bakal dipenjara berapa lama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku hanya berpikir satu hal:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Aku tidak bersalah dan Allah akan membelaku.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu aja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kamu hari ini lagi di posisi aku dulu—lagi dituduh, lagi difitnah majikan, lagi disuruh duduk di lantai karena dianggap kotor, lagi tidur di kamar 1&#215;40 cm, lagi dikasih makan sisa—dengerin aku:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jangan takut.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama kamu tidak bersalah, jangan pernah nunduk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bilang yang benar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Telepon polisi! Silakan!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bilang itu dengan keras, walaupun suara kamu gemetar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena kebenaran itu nggak butuh teriak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebenaran itu cuma butuh kamu berani diam dan jujur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah lihat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi Singapura aja bisa melihat dari cara majikan ngomong siapa yang benar. Apalagi Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini kisah nyata aku sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku pernah di posisi ini—diborgol, digiring dari lantai 15, dan tidur tiga hari di sel Bedok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sakit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi aku bebas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan hari ini aku masih bisa nulis novel buat kalian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi kalau kamu lagi di titik paling bawah, ingat aku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau aku aja bisa keluar dengan borgol di tangan tapi merdeka di hati, kamu juga bisa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application">https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/09/dengan-borgol-di-tangan-tapi-bebas-di-hati-kisah-nyata/">DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/09/dengan-borgol-di-tangan-tapi-bebas-di-hati-kisah-nyata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://suaramigrannusantara.org/wp-content/uploads/2026/09/1790692338155.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RINDU YANG BERAT</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/09/rindu-yang-berat/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/09/rindu-yang-berat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2026 02:05:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SASTRA MIGRAN]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[Buminu]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh migran]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[KP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[Neni Rosini Wahidin]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja migran]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[tengah]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/?p=7172</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh: Neni Rosini Wahidin Dua tahun sudah berlalu. Kini aku menjalani hidup seperti di mana awal aku tidak memiliki apa-apa....</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/09/rindu-yang-berat/">RINDU YANG BERAT</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>oleh: Neni Rosini Wahidin</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua tahun sudah berlalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini aku menjalani hidup seperti di mana awal aku tidak memiliki apa-apa. Tidak menjadi siapa-siapa. Hanya seorang perempuan dengan tangan kosong dan hati yang penuh rindu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rindu itu datang paling deras saat tengah malam. Saat semua orang tidur, aku terjaga. Menangis diam-diam ke dalam bantal agar tidak ada yang mendengar. Menangis mengingat keluarga. Rindu saat semua kebersamaan kami masih utuh. Rindu tawa anakku, rindu nasi hangat dari ibu, rindu nasihat ayah yang selalu bilang, nak kuat ya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rindu kedua orang tuaku yang selalu memberi support apapun kondisiku. Bahkan saat aku memutuskan hal paling gila dalam hidupku. Saat itu ibu hanya memelukku erat dan berbisik, berangkatlah nak, demi masa depan. Tapi matanya basah. Dan aku berpura-pura tidak melihat. Ayah hanya mengangguk. Tangannya menepuk pundakku. Kuat ya nak. Tapi suaranya bergetar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini, di negara Arab, aku hanya seorang diri. Tanpa ada satupun yang menemani. Di kamar sempit, di atas kasur tipis, aku sering memeluk foto anakku sampai fotonya lecek. Kadang aku bicara sendiri. Seolah anakku ada di depan. Nak, ibu pulang bawa hadiah ya. Nak, ibu kerja biar kamu sekolah tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalananku sangat panjang. Dari awal nekat berangkat menjadi TKI ke Arab, padahal aku memiliki anak umur satu tahun. Aku masih menyusui. Pipiku masih basah karena air susunya, tapi tanganku sudah harus mengepak koper.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam terakhir sebelum berangkat, anakku demam. Dia menarik bajuku sambil bilang, ibu jangan pergi. Aku menggendongnya sampai tertidur. Dadaku sesak. Saat subuh aku mencium keningnya, lalu pergi tanpa menoleh. Takut kalau menoleh aku tidak jadi berangkat. Di mobil travel aku menangis sejadi-jadinya. Sopir hanya diam. Mungkin dia sudah biasa melihat perempuan menangis mau merantau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena ekonomi. Karena aku ingin masa depan yang jauh lebih baik. Karena aku tidak mau anakku besar dalam kekurangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku meninggalkan semuanya demi itu. Demi anakku yang belum bisa bicara tapi sudah harus belajar tanpa ibu di sampingnya. Setiap malam sebelum tidur aku menatap fotonya. Mencium layar HP sampai rasanya dingin di pipi. Video call sering putus. Jaringan jelek. Dan saat tersambung, anakku hanya bertanya, ibu kapan pulang. Pertanyaan itu menghujam. Aku hanya bisa bilang, sebentar lagi nak. Padahal aku sendiri tidak tahu kapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di negara Arab lah aku belajar berdiri sendiri. Meski dunia runtuh, aku tetap berdiri di kakiku sendiri. Aku belajar bahasa dari nol. Dari kata halo, sampai bisa marah dalam bahasa Arab. Aku belajar masak makanan mereka. Belajar aturan yang kadang tidak masuk akal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya aku hanya seorang pembantu. Bekerja dari subuh sampai larut malam. Tangan melepuh karena air panas, punggung pegal karena menggosok lantai, tapi mulut harus tetap tersenyum. Majikan marah karena hal kecil. Piring jatuh, aku dipukul. Aku diam. Aku ingat anakku di rumah. Aku ingat hutang di kampung. Aku ingat kata ibu, tahan ya nak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada malam-malam aku muntah karena rindu. Ada malam-malam aku menelpon rumah tapi tidak ada yang angkat. Dan aku hanya bisa duduk di pojokan, memeluk lutut, bertanya pada diri sendiri, sampai kapan. Sampai kapan aku harus seperti ini. Sampai kapan aku harus menahan semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lama-lama, kerja kerasku dilihat. Posisiku naik. Dari pembantu, menjadi supervisor di syarikah Arab. Aku mengatur jadwal, mengurus orang. Aku belajar bahasa. Aku belajar memimpin. Aku belajar negosiasi dengan majikan yang keras kepala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan pada akhir masa kontrak ku, sebuah keajaiban terjadi. Aku diangkat menjadi Investigasi HR.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga tahun. Tiga tahun aku mengabdi di posisi itu. Mengurus semua masalah TKI Indonesia. Dari PT ke PT. Dari awal proses pemberangkatan, sampai mengurus kepulangan mereka yang bermasalah. Aku yang dulu berangkat dengan ketakutan, kini menjadi orang yang menenangkan ratusan TKI lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada apa mbak, tanyaku dengan bahasa Arab yang sudah fasih. Aku mengurus paspor yang hilang, gaji yang tidak dibayar, majikan yang menyakiti. Aku mengurus jenazah yang harus pulang. Aku yang menelpon keluarga dan bilang, mohon ikhlas. Suaraku harus tegar, padahal dadaku ikut sakit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku merasa bangga. Bangga bisa ada di posisi itu. Bangga karena namaku mulai dikenal. Bangga karena aku bisa membantu orang-orang seperti diriku dulu. Bangga karena akhirnya aku berguna. Karena akhirnya aku bukan hanya penerima bantuan, tapi pemberi bantuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi ternyata, jabatan itu hanya sementara. Hanya tiga tahun lamanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kontrak habis. Visa tidak diperpanjang. Kebijakan perusahaan berubah. Surat pemberhentian datang begitu saja. Bosku memelukku dan bilang, terima kasih Neni. Kerja kamu bagus. Tapi tidak ada lagi tempat untukmu di sini. Aku hanya bisa mengangguk. Menahan air mata sampai di kamar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan akhirnya, aku pun kembali ke tanah airku, Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah kebingungan itu datang. Kegalauan. Putus asa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rumah terasa asing. Anakku sudah besar dan canggung memanggil ibu. Dia lebih dekat dengan neneknya. Suamiku sudah terbiasa tanpa aku. Tetangga bertanya, kok sudah pulang, gagal ya. Pertanyaan itu seperti pisau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku rindu aku yang dulu. Aku rindu tempat yang membesarkan namaku. Aku rindu semua masalah yang pernah aku perawakan tentang TKI. Rindu rasanya berguna setiap hari. Rindu punya tujuan bangun pagi. Rindu dikejar deadline. Rindu telepon berdering.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang paling aku rindu adalah pesan Mr. A di syarikah. Seorang laki-laki Arab yang logatnya kaku tapi hatinya lembut. Dia pimpinan yang tegas, tapi tidak pernah mempermalukan karyawannya di depan orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kali aku hampir menyerah, dia selalu bilang. Jangan takut untuk memulai dari nol. Tidak ada yang bisa langsung ke angka sepuluh. Begitupun hidupmu dan proses kerjamu. Belajar, gagal. Belajar lagi, gagal lagi, dan jatuh. Kamu harus bangkit lagi. Karena tidak ada, meskipun petinggi dunia, mereka sama seperti kamu. Mulai dari nol. Jadi lanjutkan, selama semangatmu masih ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat itu yang membuatku bertahan saat kangen menyerang. Kalimat itu yang membuatku tidak pulang dengan tangan kosong. Kalimat itu yang aku tulis di catatan HP dan kubaca setiap kali lemah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pulangnya ke Indonesia bukan akhir bahagia seperti yang orang bayangkan. Di bandara tidak ada yang menjemput. Suamiku sibuk. Anakku malu memelukku. Aku yang dulu ditunggu-tunggu, kini jadi tamu di rumah sendiri. Semua perabot sudah berubah. Kasurku sudah dipakai orang. Foto-fotoku sudah turun dari dinding.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mencoba melamar kerja. Tapi ijazahku hanya SMA. Pengalamanku sebagai HR di Arab tidak diakui di sini. &#8220;Maaf bu, kami butuh S1&#8221; kata HRD. &#8220;Pengalaman di luar negeri tidak bisa kami pakai&#8221; kata yang lain. Aku pulang dengan langkah gontai. Di jalan aku lihat TKW lain turun dari bus. Matanya kosong. Tasnya besar. Dan aku sadar, kami sama-sama kehilangan arah setelah pulang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernah suatu malam aku buka galeri. Isinya chat dengan TKI yang dulu aku tolong. Ada yang bilang terima kasih. Ada yang kirim foto anaknya sudah sekolah karena gajinya cair. Ada yang bilang, kalau bukan karena mbak Neni, saya sudah bunuh diri. Aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena sedih. Tapi karena rindu. Rindu rasanya jadi orang yang berguna. Rindu telepon berdering tengah malam karena ada TKI yang butuh bantuan. Sekarang HP ku sepi. Hanya ada notifikasi jualan online.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kadang aku berpikir, salahkah aku berangkat dulu. Salahkah aku memilih pergi. Tapi kalau tidak pergi, mungkin anakku sekarang tidak sekolah. Mungkin rumah kami masih bocor. Jadi aku tidak menyesal. Aku hanya rindu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini aku di rumah. Di negeri sendiri. Tapi kenapa rasanya lebih asing daripada di negeri orang. Di negeri orang aku berjuang. Di negeri sendiri aku bingung harus mulai dari mana. Orang-orang melihatku sebagai TKW pulang. Bukan sebagai perempuan yang pernah memimpin ratusan orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anakku sudah besar. Dia memanggil ibu langsung, bukan lewat layar HP lagi. Itu yang dulu aku tangisi. Sekarang terkabul. Tapi kenapa dadaku masih sesak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kenapa setiap malam aku masih bermimpi berada di kantor syarikah, masih mengetik laporan, masih menelpon TKI yang menangis. Kenapa aku masih hafal nomor-nomor darurat. Kenapa aku masih mengecek email walau sudah tidak ada email masuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena aku rindu versi diriku yang berjuang. Rindu perempuan yang bangkit dari nol. Rindu rasa takut yang kubayar dengan keberanian. Rindu diriku yang tidak pernah menyerah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam ini, aku menulis. Seperti dulu aku menulis laporan untuk syarikah. Jariku mengetik di HP sambil anakku tidur di samping. Air mataku jatuh ke layar. Tapi kali ini aku tidak menghapusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin ini jalanku yang baru. Mungkin dari nol lagi. Mungkin Tuhan sedang memintaku menulis, bukan lagi mengurus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti kata Mr. A dulu, selama semangat masih ada, lanjutkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan semangatku belum padam. Karena rindu yang berat ini akan kubayar lunas dengan karya. Dengan cerita. Dengan harapan bahwa ada perempuan lain di luar sana yang membaca ini dan tidak menyerah.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/09/rindu-yang-berat/">RINDU YANG BERAT</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/09/rindu-yang-berat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://suaramigrannusantara.org/wp-content/uploads/2026/09/1000318192-6a9397b834777c66f629cc0d.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlindungan PMI Perempuan Jadi Isu Mendesak</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perlindungan-pmi-perempuan-jadi-isu-mendesak/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perlindungan-pmi-perempuan-jadi-isu-mendesak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 04:26:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[hari perempuan sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan terhadap PMI]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan terhadap PMI Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan PMI]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan PMI Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/perlindungan-pmi-perempuan-jadi-isu-mendesak/</guid>

					<description><![CDATA[<p>96% korban perdagangan orang adalah perempuan dan anak, sementara 70% dari 4,5 juta PMI adalah perempuan. Komnas Perempuan: kekerasan terhadap PMI perempuan dimulai sejak di penampungan sebelum berangkat. Hotline SAPA 129 belum jangkau daerah terpencil kantong PMI.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perlindungan-pmi-perempuan-jadi-isu-mendesak/">Perlindungan PMI Perempuan Jadi Isu Mendesak</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta — Perlindungan PMI perempuan menjadi isu yang semakin mendesak seiring dengan meningkatnya kasus eksploitasi dan kekerasan yang dialami mereka. Data Komnas Perempuan menunjukkan 96 persen korban perdagangan orang adalah perempuan dan anak, sementara dari sekitar 4,5 juta PMI Indonesia, lebih dari 70 persen adalah perempuan. Dalam penempatan 2024, jabatan yang didominasi perempuan seperti House Maid, Caregiver, dan Domestic Worker mendominasi sektor yang paling minim perlindungan hukum di negara tujuan.</p>
<p>Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani, menegaskan penguatan perlindungan PMI perempuan memerlukan pendekatan yang berperspektif gender. &#8220;Kerentanan PMI perempuan bersumber dari ketimpangan relasi kuasa yang bersifat struktural: gender, kelas sosial, dan status migran. Kebijakan perlindungan harus mengakui dan menjawab kerentanan berlapis ini,&#8221; ujarnya. Laporan pemantauan Komnas Perempuan 2024 mengungkap kekerasan berbasis gender sudah dimulai sejak PMI perempuan berada di penampungan.</p>
<p>Komnas Perempuan mendesak pemerintah melaksanakan lima kewajiban negara: mencegah, melindungi, menyelidiki, menuntut dan menghukum pelaku, serta memulihkan korban kekerasan terhadap PMI perempuan. KemenPPPA telah mengoperasikan hotline SAPA 129 sebagai layanan pengaduan, namun akses yang terbatas di daerah terpencil menjadi kendala. Perubahan mendasar yang dibutuhkan adalah pergeseran paradigma dari mengelola PMI perempuan sebagai komoditas menjadi melindungi mereka sebagai warga negara yang memiliki hak penuh.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perlindungan-pmi-perempuan-jadi-isu-mendesak/">Perlindungan PMI Perempuan Jadi Isu Mendesak</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perlindungan-pmi-perempuan-jadi-isu-mendesak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://suaraaisyiyah.id/wp-content/uploads/2021/06/Perempuan-Tercipta-Dari-Tulang-Rusuk.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Remitansi PMI Berperan Besar bagi Ekonomi Keluarga di Daerah</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/remitansi-pmi-berperan-besar-bagi-ekonomi-keluarga-di-daerah/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/remitansi-pmi-berperan-besar-bagi-ekonomi-keluarga-di-daerah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 04:26:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri P2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja migran]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerja Migran Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/remitansi-pmi-berperan-besar-bagi-ekonomi-keluarga-di-daerah/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Remitansi PMI capai USD 15,7 miliar atau Rp 263,8 triliun pada 2024, devisa terbesar kedua setelah migas. Bank Indonesia catat 68% gaji PMI dikirim untuk kebutuhan produktif keluarga. Pemerintah dorong digitalisasi transfer agar biaya lebih murah.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/remitansi-pmi-berperan-besar-bagi-ekonomi-keluarga-di-daerah/">Remitansi PMI Berperan Besar bagi Ekonomi Keluarga di Daerah</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta — Remitansi yang dikirimkan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari luar negeri memainkan peran ekonomi yang vital, tidak hanya bagi keluarga mereka tetapi juga bagi perekonomian nasional. Data Bank Indonesia tahun 2024 mencatat remitansi PMI mencapai USD 15,7 miliar atau setara dengan Rp 263,8 triliun, menjadikan PMI sebagai sumber devisa terbesar kedua setelah sektor migas. Angka ini mencerminkan kontribusi sekitar 1 persen terhadap PDB nasional dan tumbuh 10 persen dibandingkan periode sebelumnya.</p>
<p>Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, menegaskan remitansi bukan sekadar kiriman uang, melainkan kekuatan ekonomi bangsa yang harus dioptimalkan. &#8220;Tahun 2024 devisa dari remitansi sebesar Rp 251 triliun. Para PMI setiap bulan mengirimkan uang ke keluarga, sayangnya masih banyak yang terbebani biaya administrasi tinggi,&#8221; ujarnya. Survei Bank Indonesia tahun 2019 menunjukkan 68 persen gaji PMI dikirim ke Indonesia, digunakan untuk kebutuhan hidup, pendidikan anak, kesehatan, dan pembangunan rumah.</p>
<p>Manfaat remitansi belum optimal akibat tingginya biaya transfer dan rendahnya literasi keuangan. Pemerintah mendorong digitalisasi remitansi melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia, OJK, BNI, Bank Mandiri, BRI, dan BCA untuk memperluas akses layanan keuangan yang lebih murah, cepat, dan transparan. Program pemberdayaan ekonomi PMI purna digalakkan agar remitansi dapat bertransformasi menjadi modal usaha yang berkelanjutan, bukan sekadar konsumsi sesaat.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/remitansi-pmi-berperan-besar-bagi-ekonomi-keluarga-di-daerah/">Remitansi PMI Berperan Besar bagi Ekonomi Keluarga di Daerah</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/remitansi-pmi-berperan-besar-bagi-ekonomi-keluarga-di-daerah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://suaramigrannusantara.org/wp-content/uploads/2026/04/2018-09-20T025355Z_1264112844_RC1AE4678CF0_RTRMADP_3_PHILIPPINES-ECONOMY-REMITTANCES-1719478847.webp" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Migrasi Aman Penting bagi Calon Pekerja Migran</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pendidikan-migrasi-aman-penting-bagi-calon-pekerja-migran/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pendidikan-migrasi-aman-penting-bagi-calon-pekerja-migran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 04:26:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[Calon Pekerja Migran Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi Migrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kampanye Migrasi Aman]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan Migrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian P2MI]]></category>
		<category><![CDATA[KP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi Aman]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi Prosedural]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/pendidikan-migrasi-aman-penting-bagi-calon-pekerja-migran/</guid>

					<description><![CDATA[<p>KP2MI gelar edukasi migrasi aman di Hong Kong, Malang, Tulungagung, dan Ponorogo selama 2025. Direktur Indra Hardiansyah tekankan literasi keuangan sebelum keberangkatan. Migrant CARE: PMI yang dapat pendidikan pra-migrasi lebih aman di luar negeri.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pendidikan-migrasi-aman-penting-bagi-calon-pekerja-migran/">Pendidikan Migrasi Aman Penting bagi Calon Pekerja Migran</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ponorogo — Pendidikan migrasi aman menjadi salah satu pilar utama dalam upaya melindungi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai ancaman eksploitasi dan perdagangan orang. Kementerian P2MI bersama Bank Indonesia, Kejaksaan Agung, dan perbankan BUMN menggelar edukasi keuangan bagi PMI di Hong Kong, Malang, Tulungagung, dan Ponorogo sepanjang 2025. Kegiatan menyasar 120 PMI di KJRI Hong Kong, 70 calon PMI di Malang, dan 100 keluarga PMI di Ponorogo.</p>
<p>Direktur Literasi Keuangan dan Pemanfaatan Remitansi KP2MI, Indra Hardiansyah, menekankan bahwa pendidikan migrasi aman tidak hanya mencakup prosedur, tetapi juga literasi keuangan dan hukum. &#8220;Pemanfaatan remitansi yang tepat dapat mendorong kemandirian ekonomi PMI dan keluarganya. Untuk itu, literasi keuangan harus diberikan sebelum PMI berangkat,&#8221; ujarnya di Hong Kong, Maret 2025. BPS mencatat masalah PMI berkaitan erat dengan skill mismatch dan rekrutmen ilegal.</p>
<p>Kemenko PMK telah merekomendasikan penguatan sosialisasi migrasi aman hingga ke tingkat desa, melibatkan pemerintah, media massa, institusi pendidikan, dan tokoh masyarakat. Migrant CARE menemukan calon PMI yang mendapatkan pendidikan pra-migrasi memiliki tingkat keberhasilan penempatan lebih tinggi dan lebih mampu mengenali agen tidak bertanggung jawab. Investasi dalam pendidikan migrasi aman bukan sekadar program sosial, melainkan intervensi kritis yang melindungi jiwa manusia.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pendidikan-migrasi-aman-penting-bagi-calon-pekerja-migran/">Pendidikan Migrasi Aman Penting bagi Calon Pekerja Migran</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pendidikan-migrasi-aman-penting-bagi-calon-pekerja-migran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/sanfernandosun.com/wp-content/uploads/2024/08/002-Pentathlon.jpg?w=1080&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Diminta Perketat Pengawasan Perusahaan Penempatan PMI</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pemerintah-diminta-perketat-pengawasan-perusahaan-penempatan-pmi/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pemerintah-diminta-perketat-pengawasan-perusahaan-penempatan-pmi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2026 04:26:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Advokasi PMI]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[hari perempuan sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian P2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[P3MI]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja migran]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/pemerintah-diminta-perketat-pengawasan-perusahaan-penempatan-pmi/</guid>

					<description><![CDATA[<p>PT Putra Timur Mandiri diduga berangkatkan PMI penderita tumor tanpa verifikasi medis. Migrant CARE ungkap modus baru TPPO gunakan P3MI sebagai pintu masuk. DPR Komisi IX desak audit berkala P3MI yang bisa diakses publik.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pemerintah-diminta-perketat-pengawasan-perusahaan-penempatan-pmi/">Pemerintah Diminta Perketat Pengawasan Perusahaan Penempatan PMI</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta — Tekanan terhadap pemerintah untuk memperketat pengawasan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) semakin menguat, menyusul serangkaian kasus dugaan pelanggaran prosedur. Kasus terbaru melibatkan PT Putra Timur Mandiri yang diduga memberangkatkan seorang PMI perempuan asal Tangerang, Banten, ke Arab Saudi pada Februari 2025 tanpa melalui verifikasi medis yang semestinya, padahal korban memiliki riwayat penyakit tumor payudara.</p>
<p>Pegiat advokasi PMI menegaskan bahwa &#8220;Kapolri sebagai kepala harian Satgas TPPO sudah saatnya melakukan gebrakan nyata. Jangan biarkan sindikat ini terus mencederai negara dan menciptakan korban-korban baru.&#8221; Migrant CARE mencatat modus TPPO terbaru menggunakan P3MI sebagai pintu masuk, dengan memanipulasi dokumen agar terlihat sah. Dari total 297.434 penempatan PMI pada 2024, sebagian besar melalui skema P to P (79,47 persen) yang minimnya pengawasan.</p>
<p>Kementerian P2MI menyatakan komitmen menindak tegas P3MI yang melanggar aturan, termasuk pencabutan izin operasional. Namun, pengamat dari Institute for Ecosoc Rights, Sri Palupi, menilai komitmen belum disertai mekanisme pengawasan yang sistematis. Anggota DPR Komisi IX, Charles Honoris, mendesak pemerintah menerbitkan regulasi yang mewajibkan audit berkala terhadap seluruh P3MI dengan hasil yang dapat diakses publik.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pemerintah-diminta-perketat-pengawasan-perusahaan-penempatan-pmi/">Pemerintah Diminta Perketat Pengawasan Perusahaan Penempatan PMI</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/pemerintah-diminta-perketat-pengawasan-perusahaan-penempatan-pmi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://etimg.etb2bimg.com/photo/127698705.cms" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perdagangan Orang Berkedok Rekrutmen Kerja Luar Negeri Meningkat</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perdagangan-orang-berkedok-rekrutmen-kerja-luar-negeri-meningkat/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perdagangan-orang-berkedok-rekrutmen-kerja-luar-negeri-meningkat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2026 04:26:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Bareskrim]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[hari perempuan sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[Tindak Pidana Perdagangan Orang]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<category><![CDATA[TPPO]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/perdagangan-orang-berkedok-rekrutmen-kerja-luar-negeri-meningkat/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Polda Kepri catat 82 kasus TPPO pada 2025, naik dari 68 kasus tahun sebelumnya. 277 korban teridentifikasi, 113 tersangka diamankan. AKBP Andyka Aer ungkap sindikat gunakan Telegram dan sistem remote control untuk rekrut korban.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perdagangan-orang-berkedok-rekrutmen-kerja-luar-negeri-meningkat/">Perdagangan Orang Berkedok Rekrutmen Kerja Luar Negeri Meningkat</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Batam — Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berkedok rekrutmen kerja ke luar negeri terus menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Data Satgas TPPO Polda Kepulauan Riau mencatat 82 perkara TPPO/PMI sepanjang 2025, meningkat dari 68 kasus pada 2024. Jumlah korban pun meningkat dari 242 orang pada 2024 menjadi 277 orang pada 2025, dengan 113 tersangka yang berhasil diamankan. Batam terus menjadi jalur favorit sindikat karena posisi geografisnya yang dekat dengan Malaysia dan Singapura.</p>
<p>Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kepri, AKBP Andyka Aer, menyatakan pola perekrutan sindikat semakin canggih memanfaatkan teknologi digital. &#8220;Mereka tidak lagi bergerak secara konvensional. Ada yang memanfaatkan media sosial, grup Telegram, bahkan mengatur pergerakan korban dari jauh dengan sistem remote,&#8221; ungkapnya di Batam, Desember 2025. Komnas HAM menemukan enam jenis pelanggaran HAM dalam kasus TPPO, termasuk hak hidup, kebebasan pribadi, dan hak atas rasa aman.</p>
<p>Bareskrim Polri berhasil membongkar sembilan kasus TPPO di Kalimantan Utara, menyelamatkan 82 calon PMI yang hendak diselundupkan ke Malaysia. Para korban diminta membayar antara Rp 4,5 juta hingga Rp 7,5 juta untuk iming-iming pekerjaan fiktif. Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA, Ratna Susianawati, menegaskan TPPO adalah extraordinary crime yang memerlukan penanganan komprehensif dari hulu ke hilir. Pemerintah telah membentuk Satgas TPPO dengan Kapolri sebagai penanggung jawab harian.</p>


<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perdagangan-orang-berkedok-rekrutmen-kerja-luar-negeri-meningkat/">Perdagangan Orang Berkedok Rekrutmen Kerja Luar Negeri Meningkat</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/perdagangan-orang-berkedok-rekrutmen-kerja-luar-negeri-meningkat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://content.govdelivery.com/attachments/fancy_images/USDHS/2025/01/10924666/mask-computer_original.png" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunitas Migran Bangun Solidaritas untuk Lindungi PMI di Luar Negeri</title>
		<link>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/komunitas-migran-bangun-solidaritas-untuk-lindungi-pmi-di-luar-negeri/</link>
					<comments>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/komunitas-migran-bangun-solidaritas-untuk-lindungi-pmi-di-luar-negeri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 04:26:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[BP2MI]]></category>
		<category><![CDATA[CPMI]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian P2MI]]></category>
		<category><![CDATA[migran]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja migran]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerja Migran Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan PMI]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaramigrannusantara.org/komunitas-migran-bangun-solidaritas-untuk-lindungi-pmi-di-luar-negeri/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Komunitas 160.000 PMI Hong Kong bangun jaringan darurat mandiri sebelum lapor ke KBRI. Yuli Riswati: sistem informasi cepat antar PMI jadi garis pertahanan pertama. Akademisi UGM dorong formalisasi peran komunitas dalam sistem perlindungan negara.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/komunitas-migran-bangun-solidaritas-untuk-lindungi-pmi-di-luar-negeri/">Komunitas Migran Bangun Solidaritas untuk Lindungi PMI di Luar Negeri</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>HONG KONG/JAKARTA — Di tengah berbagai tantangan, komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di berbagai negara menunjukkan resiliensi luar biasa dengan membangun jaringan solidaritas mandiri. Di Hong Kong, komunitas PMI yang berjumlah lebih dari 160.000 orang telah mengembangkan jaringan dukungan sosial yang aktif, mulai dari kelompok belajar bersama, pendampingan hukum informal, hingga dana darurat komunitas untuk membantu rekan yang mengalami permasalahan dengan majikan atau proses deportasi.</p>
<p>Ketua Persatuan Pekerja Migran Indonesia Hong Kong, Yuli Riswati, menjelaskan bahwa komunitas PMI kerap menjadi garis pertahanan pertama. &#8220;Ketika seorang PMI mengalami masalah, biasanya teman sesama PMI yang pertama kali tahu dan membantu. Kami sudah membangun sistem informasi cepat di antara sesama PMI,&#8221; ujarnya kepada media, Senin (9/3/2026). Di Malaysia, jaringan solidaritas PMI telah berhasil mengevakuasi beberapa rekan yang mengalami penyekapan sebelum pihak KBRI mendapatkan informasi.</p>
<p>Para akademisi ketenagakerjaan melihat fenomena ini sebagai modal sosial berharga yang belum optimal dimanfaatkan pemerintah. Dr. Wahyu Hendra dari Universitas Gadjah Mada menilai komunitas migran perlu dilibatkan secara formal dalam sistem perlindungan PMI. Kementerian P2MI dalam beberapa kebijakan terbarunya mulai mengakui peran diaspora dan komunitas PMI, namun belum ada mekanisme formal yang menjadikan jaringan solidaritas ini bagian integral dari sistem perlindungan negara.</p>
<p>The post <a href="https://suaramigrannusantara.org/2026/04/komunitas-migran-bangun-solidaritas-untuk-lindungi-pmi-di-luar-negeri/">Komunitas Migran Bangun Solidaritas untuk Lindungi PMI di Luar Negeri</a> appeared first on <a href="https://suaramigrannusantara.org">suaramigrannusantara.org</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suaramigrannusantara.org/2026/04/komunitas-migran-bangun-solidaritas-untuk-lindungi-pmi-di-luar-negeri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
