Suara Migran Nusantara Logo
BERITA

Sarjana Menganggur, Negeri yang Tersendat: Tangis Sunyi di Tengah Angka Pertumbuhan

  Admin2 · 
Sumber: https://cdn.i-scmp.com/sites/default/files/styles/1200x800/public/d8/images/canvas/2024/07/04/97bc4386-a141-4435-9ac7-a1fa445ed448_4ed8985c.jpg?itok=AH5EVsxi&v=1720092831
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

“Engkau sarjana muda… resah mencari kerja…” Sarjana Muda (Iwan Fals)

Kalimat pendek dari Iwan Fals itu seperti tak pernah usang. Ia hidup, berulang, dan hari ini, lebih terasa getir dari sebelumnya. Di tengah klaim pertumbuhan ekonomi yang stabil, kenyataan di lapangan justru menunjukkan wajah lain: antrean panjang pencari kerja, lulusan perguruan tinggi yang tak terserap, hingga meningkatnya fenomena “setengah menganggur” yang diam-diam menggerogoti masa depan.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hingga Agustus 2025, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai sekitar 7,46 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,85 persen. Angka ini memang sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, tetapi penurunan itu tidak otomatis mencerminkan kemudahan mendapatkan pekerjaan.

Lebih jauh, pada Februari 2025, jumlah pengangguran bahkan sempat mencapai 7,28 juta orang, meningkat sekitar 83 ribu orang dibanding tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja Indonesia masih berfluktuasi dan belum sepenuhnya stabil. Ironisnya, semua itu terjadi ketika ekonomi Indonesia justru tumbuh relatif baik. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 mencapai 5,11 persen, lebih tinggi dibanding 2024 yang sebesar 5,03 persen. Secara makro, angka ini terlihat menjanjikan. Namun di balik statistik itu, muncul pertanyaan mendasar: mengapa pertumbuhan tidak otomatis menciptakan lapangan kerja yang memadai?

Fenomena ini sering disebut sebagai jobless growth pertumbuhan ekonomi tanpa penciptaan pekerjaan yang signifikan. Sektor-sektor yang tumbuh pesat, seperti jasa dan ekspor, tidak selalu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Sebaliknya, sektor padat karya justru mengalami tekanan, baik karena efisiensi, otomatisasi, maupun perlambatan industri tertentu.

Situasi ini diperparah oleh ketimpangan antara pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak lulusan perguruan tinggi tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya. Bahkan, menurut kajian akademik, fenomena “overqualified but unemployed” semakin sering terjadi, di mana sarjana bekerja di sektor informal atau bahkan menganggur karena mismatch keterampilan. Di sisi lain, data juga menunjukkan meningkatnya jumlah pekerja paruh waktu dan setengah menganggur. BPS mencatat adanya 11,60 juta orang setengah pengangguran pada 2025, angka yang menunjukkan bahwa masalah ketenagakerjaan tidak hanya soal ada atau tidaknya pekerjaan, tetapi juga kualitas pekerjaan itu sendiri.

Realitas di lapangan menggambarkan tekanan yang lebih nyata. Banyak perusahaan melakukan efisiensi, bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama di sektor industri manufaktur dan teknologi. Di saat yang sama, lowongan kerja yang tersedia seringkali mensyaratkan pengalaman tinggi, keterampilan spesifik, atau bahkan usia yang tidak lagi relevan dengan kondisi pencari kerja.

Bagi generasi muda, situasi ini menjadi semacam paradoks: pendidikan semakin tinggi, tetapi peluang kerja tidak sebanding. Biaya pendidikan mahal, ekspektasi meningkat, tetapi realitas justru menyempit. Tak sedikit yang akhirnya memilih jalan lain, menjadi pekerja migran, masuk sektor informal, atau bertahan dalam pekerjaan dengan upah rendah.

Padahal, rata-rata upah buruh di Indonesia pada Februari 2025 tercatat sekitar Rp3,09 juta per bulan, angka yang bagi sebagian besar pekerja masih jauh dari kata sejahtera, terutama di tengah kenaikan biaya hidup. Jika ditarik lebih luas, persoalan ini bukan sekadar statistik, tetapi soal arah pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif berpotensi menciptakan ketimpangan baru, antara mereka yang terserap dalam sistem dan mereka yang tersingkir di pinggirnya.

Lagu lama itu kembali terdengar relevan. “Sarjana muda” bukan lagi sekadar simbol generasi 1980-an, tetapi potret generasi hari ini, yang berdiri di persimpangan antara harapan dan kenyataan.

Dan mungkin, pertanyaan paling jujur yang harus dijawab negeri ini bukan lagi berapa persen ekonomi tumbuh, tetapi: “Untuk siapa pertumbuhan itu benar-benar bekerja?”

berita BP2MI Buruh migran CPMI KP2MI migran pekerja migran Pengangguran PMI tengah
Berita Terkait
BERITA
Ribuan PMI di Timur Tengah Terancam Dampak Konflik Regional
20 Apr 2026
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRunMpFRy4OTG53BBhA9IMcMVFAQOg8Wp6kXkSEN_SQ45jufG5hI4RBUDg&s=10
BERITA
Peta Negara Penerima Pekerja Migran Indonesia 2025–2026: Diperkuat Undang-Undang, Dijalankan Lewat Perjanjian Internasional
20 Apr 2026
BERITA
Pekerja Migran Indonesia Hadapi Risiko Tinggi di Sektor Domestik
19 Apr 2026