Sindikat TPPO Menargetkan Calon PMI dari Desa-desa
BATAM/JAKARTA — Sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) semakin intensif menargetkan calon PMI dari desa-desa, memanfaatkan kondisi ekonomi yang sulit, rendahnya literasi migrasi, dan minimnya akses informasi di wilayah pedesaan. Pola perekrutan sindikat kini semakin halus: mereka membangun kepercayaan melalui media sosial, menawarkan pekerjaan dengan gaji tinggi, kemudian secara bertahap mengisolasi dan mengeksploitasi korban di negara tujuan.
AKBP Andyka Aer dari Polda Kepri menjelaskan desa-desa di Jawa, NTT, dan Kalimantan menjadi sasaran utama sindikat. “Sindikat mengirimkan agen perekrut ke desa-desa, mengiming-imingi warga dengan gaji besar, lalu membawa mereka melalui jalur ilegal. Ketika sampai di negara tujuan, kenyataannya sangat berbeda dari janji,” bebernya. Kepala Desa Sumberdadi, Kabupaten Banyuwangi, Hadi Santoso, menceritakan desanya hampir kehilangan dua warganya yang nyaris menjadi korban sindikat TPPO.
Bareskrim Polri merekomendasikan agar setiap desa yang memiliki warga PMI memiliki informasi kontak perlindungan PMI yang mudah diakses dan membentuk tim pemantau migrasi tingkat desa. Ini sejalan dengan program Desmigratif yang perlu diperluas cakupannya ke lebih banyak desa. Kepala desa dan tokoh agama setempat dinilai sebagai garis pertahanan terdepan yang paling efektif dalam membentengi warga dari bujuk rayu sindikat TPPO.