IOM Catat 2.292 Migran Meninggal Atau Hilang Di Laut Menuju Eropa Sepanjang 2026

JENEWA — Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat sedikitnya 2.292 migran meninggal dunia atau hilang ketika berupaya menyeberangi jalur laut menuju Eropa sepanjang 2026. Angka tersebut tercatat meskipun jumlah migran dan pengungsi yang tiba di Eropa melalui jalur laut justru menurun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Data terbaru IOM hingga pertengahan September 2026 menunjukkan hampir 60.000 migran dan pengungsi telah tiba di Eropa melalui jalur laut sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut turun sekitar 39 persen dibandingkan sekitar 98.040 orang pada periode yang sama tahun 2025. Namun, pada saat yang sama, jumlah orang yang meninggal atau hilang meningkat dari 1.999 menjadi sedikitnya 2.292 orang.
Data tersebut memperlihatkan persoalan yang tidak sederhana dalam perjalanan migrasi melalui laut. Berkurangnya jumlah orang yang berhasil mencapai Eropa tidak otomatis berarti risiko perjalanan menjadi lebih rendah. Sebaliknya, IOM mencatat bahwa angka kematian dan orang hilang tetap berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan data tersebut menunjukkan dua perkembangan yang berlangsung bersamaan: jumlah kedatangan melalui laut ke Eropa menurun, sementara masih banyak orang yang meninggal atau hilang ketika berusaha mencapai tempat yang mereka anggap aman. IOM juga menekankan perlunya kerja sama internasional yang berkelanjutan untuk menyelamatkan nyawa, melindungi migran, memberantas perdagangan dan eksploitasi, serta memperluas jalur migrasi yang aman dan reguler.
Kawasan Mediterania dan jalur Atlantik menuju Eropa tercatat sebagai rute maritim dengan risiko kematian yang sangat tinggi. Salah satu persoalan yang terus muncul adalah penggunaan kapal atau perahu yang tidak layak untuk perjalanan laut, termasuk kapal yang kelebihan muatan dan tidak memiliki perlengkapan keselamatan memadai.
Pada rute Mediterania Tengah, misalnya, jumlah kedatangan dilaporkan turun lebih dari separuh. Namun, jumlah orang yang meninggal atau hilang justru meningkat dari 844 menjadi 996 orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan jumlah penyeberangan tidak selalu bergerak searah dengan tingkat keselamatan perjalanan.
Rute menuju Yunani juga menunjukkan perkembangan serupa. Kedatangan mengalami penurunan, tetapi jumlah kematian meningkat dari 284 menjadi 417 orang. Sementara itu, pada rute yang menuju Spanyol, sebanyak 879 orang dilaporkan meninggal atau hilang, meskipun jumlah kedatangan ke negara tersebut secara keseluruhan juga menurun.
IOM mengingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan belum menggambarkan jumlah korban yang sebenarnya. Banyak kapal yang hilang di laut tidak pernah ditemukan dan tidak seluruh perjalanan dapat didokumentasikan. Karena itu, jumlah kematian dan orang hilang yang tercatat dipandang sebagai angka minimum.
Persoalan tersebut memperlihatkan bagaimana migrasi melalui jalur laut memiliki risiko yang berbeda dengan migrasi melalui jalur darat atau udara. Ketika perjalanan dilakukan menggunakan kapal kecil dan tidak layak, kemampuan untuk melakukan pertolongan ketika terjadi kerusakan mesin, cuaca buruk, kelebihan muatan, atau kecelakaan menjadi sangat terbatas.
Selain persoalan keselamatan, migran juga dapat menghadapi risiko perdagangan orang dan eksploitasi. IOM menempatkan pemberantasan perdagangan orang dan eksploitasi sebagai bagian dari kebutuhan perlindungan migran yang melakukan perjalanan melalui rute berisiko tinggi.
Motif keberangkatan juga beragam. Berdasarkan survei IOM terhadap migran di rute Mediterania Tengah, kesulitan ekonomi menjadi salah satu alasan utama yang disebut responden, disusul konflik dan kekerasan yang mereka alami. Pada saat yang sama, IOM mencatat bahwa banyak migran dan pengungsi melarikan diri dari perang maupun persekusi.
Dengan demikian, penurunan angka kedatangan tidak dapat dibaca semata-mata sebagai berkurangnya kebutuhan atau keinginan masyarakat untuk bermigrasi. Perubahan arus juga dapat dipengaruhi oleh kondisi perbatasan, kebijakan pengawasan, kondisi negara transit, maupun risiko perjalanan yang semakin tinggi.
Data IOM juga menunjukkan bahwa jumlah kedatangan melalui laut dan darat perlu dibedakan ketika membaca perkembangan migrasi Eropa. Sistem pemantauan IOM mencatat total kedatangan ke Eropa melalui berbagai jalur, sementara angka kematian dan kehilangan secara khusus menunjukkan risiko yang dihadapi orang-orang dalam perjalanan tersebut.
Dari perspektif perlindungan migran, persoalan utama bukan hanya berapa banyak orang yang berhasil tiba, tetapi berapa banyak yang kehilangan nyawa atau tidak pernah diketahui keberadaannya. Setiap kasus orang hilang juga membawa persoalan kemanusiaan bagi keluarga karena mereka sering kali tidak memperoleh kepastian mengenai nasib anggota keluarganya.
Kondisi tersebut membuat operasi pencarian dan penyelamatan menjadi bagian penting dalam tata kelola migrasi melalui laut. Ketika sebuah kapal mengalami masalah, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Keterlambatan pertolongan dapat mengubah keadaan darurat menjadi tragedi dengan korban jiwa dalam jumlah besar.
Namun, upaya penyelamatan saja tidak cukup untuk menghilangkan risiko. IOM juga mendorong perluasan jalur migrasi yang aman dan reguler sehingga orang yang membutuhkan perlindungan atau memiliki kebutuhan untuk bermigrasi tidak sepenuhnya bergantung pada jalur laut yang berbahaya.
Implikasinya terhadap kebijakan migrasi cukup jelas. Pengurangan arus migrasi melalui suatu jalur tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan kebijakan apabila risiko kematian justru meningkat. Data mengenai korban meninggal dan hilang perlu dibaca bersamaan dengan data kedatangan, kondisi rute, operasi penyelamatan, perdagangan orang, serta akses terhadap jalur migrasi yang aman.
Bagi negara-negara Eropa dan negara transit, tantangannya adalah memastikan pengelolaan perbatasan tetap berjalan bersamaan dengan kewajiban penyelamatan dan perlindungan manusia. Sementara bagi negara asal, penyediaan informasi mengenai risiko perjalanan dan pencegahan perdagangan orang menjadi bagian penting dari perlindungan warganya.
Angka 2.292 orang meninggal atau hilang sepanjang 2026 menjadi pengingat bahwa statistik migrasi tidak pernah hanya berbicara mengenai jumlah kedatangan. Di balik angka tersebut terdapat manusia yang melakukan perjalanan dalam kondisi penuh risiko, keluarga yang menunggu kepastian, serta persoalan perlindungan yang melampaui batas negara.
Data IOM pada akhirnya menunjukkan satu fakta penting: ketika jumlah penyeberangan turun, risiko kematian tidak otomatis ikut turun. Justru meningkatnya angka kematian dan kehilangan di tengah penurunan kedatangan menunjukkan bahwa keselamatan perjalanan, jalur migrasi yang aman, pencarian dan penyelamatan, serta perlindungan terhadap migran tetap menjadi persoalan mendesak dalam tata kelola migrasi menuju Eropa pada 2026.
Leave a Reply