Suara Migran Nusantara Logo
BERITA

Kedatangan Migran ke Eropa Turun 39 Persen, Korban di Laut Mediterania Tetap Tinggi

  Admin2 · 
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRW1XVGKrbIr-44KiCtvdFb55fioIuSNRjG69HVI-wdrg&s=10
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRW1XVGKrbIr-44KiCtvdFb55fioIuSNRjG69HVI-wdrg&s=10

Jakarta — Jumlah migran dan pengungsi yang tiba di Eropa melalui jalur laut sepanjang 2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, penurunan jumlah kedatangan tersebut belum sejalan dengan berkurangnya risiko perjalanan, terutama di jalur Laut Mediterania.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat hampir 60.000 migran dan pengungsi telah tiba di Eropa melalui jalur laut sepanjang 2026. Angka tersebut turun sekitar 39 persen dibandingkan 98.040 orang pada periode yang sama tahun 2025.

Di tengah penurunan arus kedatangan, sedikitnya 2.292 orang meninggal dunia atau hilang ketika berupaya menyeberangi Laut Mediterania sepanjang periode yang dilaporkan pada 2026. Jumlah tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan 1.999 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Data terbaru IOM melalui Displacement Tracking Matrix (DTM) yang diperbarui hingga 15 September 2026 mencatat 59.495 kedatangan melalui laut dan 2.298 migran meninggal atau hilang di jalur migrasi menuju Eropa. Angka tersebut merupakan data minimum yang dapat berubah karena proses verifikasi dan pembaruan informasi terus berlangsung.

Kedatangan Turun, Risiko Belum Hilang

Penurunan jumlah orang yang berhasil mencapai Eropa tidak secara otomatis menunjukkan bahwa perjalanan migrasi melalui laut menjadi lebih aman.

Data IOM justru memperlihatkan bahwa kematian dan kehilangan nyawa tetap menjadi persoalan serius. Dalam data 2026, IOM mencatat korban meninggal atau hilang tersebar di sejumlah rute, dengan 997 kasus di Mediterania Tengah, 442 di Mediterania Barat, 425 di Mediterania Timur, serta 434 di rute Atlantik Afrika Barat.

Angka tersebut menggambarkan karakter perjalanan migrasi yang berbeda-beda di sepanjang rute menuju Eropa. Laut Mediterania Tengah, yang menghubungkan Afrika Utara dengan Italia dan Malta, tetap menjadi salah satu jalur dengan jumlah korban tertinggi.

IOM dalam sistem pemantauan DTM memang memisahkan sejumlah rute utama menuju Eropa, antara lain Mediterania Timur, Mediterania Tengah, Mediterania Barat dan jalur Atlantik Afrika Barat. Pemisahan tersebut diperlukan untuk memantau pola pergerakan dan risiko yang berbeda pada setiap jalur.

Rute Mediterania Tengah Turun Tajam

Penurunan kedatangan paling besar dalam laporan yang dikutip ANTARA terjadi di rute Mediterania Tengah menuju Italia.

IOM mencatat kedatangan melalui rute tersebut turun sekitar 55 persen, dari 48.231 orang pada periode yang sama 2025 menjadi 21.393 orang pada 2026.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa penurunan arus migrasi tidak terjadi secara seragam pada seluruh jalur. Ada rute yang mengalami penurunan lebih tajam dibandingkan jalur lainnya.

Namun, berkurangnya jumlah orang yang menggunakan suatu rute tidak serta-merta menghapus risiko keselamatan. Perjalanan laut menggunakan kapal kecil atau perahu yang tidak dirancang untuk perjalanan jarak jauh tetap memiliki risiko tenggelam, kecelakaan, cuaca buruk dan keterbatasan kapasitas keselamatan.

Data Kematian Merupakan Angka Minimum

IOM menekankan bahwa angka kematian dan orang hilang dalam jalur migrasi merupakan estimasi minimum. Sebagian kasus sulit didokumentasikan karena kapal dapat tenggelam tanpa saksi atau tanpa adanya laporan resmi mengenai seluruh penumpang.

Karena itu, angka yang tercatat tidak selalu menggambarkan keseluruhan korban yang terjadi di jalur migrasi.

Data DTM IOM juga menunjukkan bahwa jumlah korban meninggal dan hilang pada 2026 masih berada dalam skala ribuan. Hingga pembaruan 15 September, tercatat 2.298 kasus di seluruh rute migrasi menuju Eropa.

Dalam perspektif kemanusiaan, persoalan tersebut memperlihatkan bahwa indikator jumlah kedatangan saja tidak cukup untuk membaca situasi migrasi.

Turunnya jumlah kedatangan dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk perubahan pola migrasi, pengawasan perbatasan, kondisi negara transit, kebijakan migrasi negara tujuan, maupun perubahan rute perjalanan. Karena itu, angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab penurunan.

Jalur Laut Tetap Menjadi Pilihan Berisiko

Perjalanan laut menjadi salah satu jalur yang digunakan migran dan pengungsi untuk mencapai wilayah Eropa. Rute tersebut mempertemukan sejumlah negara asal dan transit di Afrika Utara serta Timur Tengah dengan negara-negara tujuan di Eropa.

Dalam kondisi tertentu, perjalanan tersebut dilakukan menggunakan kapal yang memiliki keterbatasan kapasitas, fasilitas keselamatan dan kemampuan menghadapi kondisi laut.

Risiko semakin besar ketika kapal mengalami kerusakan, kelebihan muatan atau menghadapi cuaca buruk. Ketika terjadi kecelakaan di laut, proses pencarian dan penyelamatan juga menghadapi persoalan jarak dan kondisi geografis.

Karena itu, IOM terus memantau kedatangan serta kematian dan kehilangan migran melalui sistem DTM dan Missing Migrants Project. Data tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai dinamika jalur migrasi dan risiko yang dihadapi orang-orang yang melakukan perjalanan.

Penurunan Arus Tidak Sama dengan Berakhirnya Migrasi

Data 2026 juga perlu ditempatkan dalam konteks jangka panjang. IOM mencatat total kedatangan migran dan pengungsi melalui jalur darat maupun laut ke Eropa pada 2025 mencapai 158.003 orang, sedangkan pada 2026 hingga 15 September tercatat 70.205 orang. Dari jumlah 2026 tersebut, 59.495 tiba melalui laut dan 10.710 melalui jalur darat.

Data tersebut menunjukkan bahwa arus migrasi masih berlangsung meskipun jumlah kedatangan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

IOM mencatat bahwa sistem DTM Eropa memantau empat jalur utama migrasi melalui laut menuju Eropa serta sejumlah jalur darat. Data tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk otoritas nasional, dan diperbarui secara berkala.

Dengan demikian, angka kedatangan perlu dibaca sebagai gambaran pada periode tertentu, bukan sebagai ukuran permanen mengenai arah migrasi Eropa.

Tantangan Perlindungan Migran

Di balik angka tersebut terdapat persoalan perlindungan manusia. Migran dan pengungsi yang memilih jalur laut menghadapi risiko sejak keberangkatan, selama perjalanan dan ketika tiba di negara tujuan.

Tingginya angka kematian dan kehilangan menunjukkan bahwa pengelolaan migrasi tidak hanya berkaitan dengan pengawasan perbatasan dan jumlah kedatangan. Keselamatan jiwa dalam perjalanan juga menjadi bagian dari persoalan migrasi internasional.

Data IOM menjadi penting karena menyediakan basis untuk melihat bukan hanya berapa banyak orang yang berhasil mencapai Eropa, tetapi juga berapa banyak yang tidak pernah sampai ke tujuan.

Pada akhirnya, tren 2026 memperlihatkan dua fakta yang berjalan bersamaan: jumlah migran dan pengungsi yang mencapai Eropa melalui laut menurun, tetapi perjalanan tersebut tetap menelan korban jiwa dalam jumlah besar.

Penurunan 39 persen dalam jumlah kedatangan tidak dapat dibaca sebagai hilangnya persoalan migrasi di Eropa. Selama jalur laut masih digunakan, risiko kematian dan kehilangan tetap menjadi bagian penting dari persoalan kemanusiaan yang harus dipantau.

Bagi pemerintah negara asal, negara transit dan negara tujuan, data tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa statistik migrasi tidak hanya berbicara mengenai angka kedatangan. Di balik setiap angka terdapat manusia yang melakukan perjalanan, keluarga yang menunggu, serta risiko keselamatan yang dapat berujung pada kehilangan nyawa.

Berita BP2MI Buminu Buruh migran CPMI HAM iran Kebijakan Migrasi KP2MI migran Migrasi pekerja migran PMI
Berita Terkait
Apa Syarat Sertifikasi untuk Bekerja ke Luar Negeri? Calon PMI Perlu Memenuhi Standar Kompetensi
BERITA
Apa Syarat Sertifikasi untuk Bekerja ke Luar Negeri? Calon PMI Perlu Memenuhi Standar Kompetensi
11 Oct 2026
KP2MI Perluas Pasar Kerja PMI ke Asia, Eropa, dan Timur Tengah, Bidik Sektor Formal dan Tenaga Terampil
BERITA
KP2MI Perluas Pasar Kerja PMI ke Asia, Eropa, dan Timur Tengah, Bidik Sektor Formal dan Tenaga Terampil
11 Oct 2026
Ganjar Hidayat Desak Moratorium PMI ke Timur Tengah Dicabut: Buka Bertahap, Mulai dari Pekerja Laki-Laki
BERITA
Ganjar Hidayat Desak Moratorium PMI ke Timur Tengah Dicabut: Buka Bertahap, Mulai dari Pekerja Laki-Laki
11 Oct 2026