Souleymane’s Story (2024)
Judul Asli: L’Histoire de Souleymane
Sutradara: Boris Lojkine
Pemeran Utama: Abou Sangaré, Nina Meurisse
Genre: Drama Sosial, Realisme
Durasi: 93–94 menit
Souleymane’s Story bukan sekadar film tentang seorang pencari suaka. Ia merupakan potret mendalam mengenai bagaimana sistem birokrasi, ekonomi digital, dan identitas manusia saling bertabrakan dalam kehidupan sehari-hari. Film ini tayang perdana di Festival Film Cannes 2024 dalam kategori Un Certain Regard dan meraih Jury Prize serta penghargaan Aktor Terbaik untuk Abou Sangaré.
Sinopsis
Souleymane adalah pemuda asal Guinea yang hidup tanpa dokumen resmi di Paris. Untuk bertahan hidup, ia bekerja sebagai kurir pengantar makanan menggunakan akun kerja milik orang lain yang harus ia sewa dengan potongan pendapatan cukup besar. Di tengah tekanan ekonomi itu, ia hanya memiliki waktu dua hari untuk mempersiapkan wawancara penentuan status suaka politik yang akan menentukan masa depannya di Prancis.
Selama dua hari tersebut, penonton mengikuti kehidupannya yang dipenuhi kecemasan: mengayuh sepeda tanpa henti, menghadapi pelanggan, menghindari razia, berurusan dengan sesama migran yang justru mengeksploitasinya, hingga berusaha menghafal kisah yang “harus” ia ceritakan kepada petugas imigrasi.
Jalan Cerita yang Nyaris Dokumenter
Keunggulan terbesar film ini terletak pada gaya penyutradaraan Boris Lojkine yang menggunakan pendekatan realisme ekstrem. Kamera hampir selalu mengikuti Souleymane dari dekat sehingga penonton merasakan kelelahan fisiknya secara langsung.
Paris tidak ditampilkan sebagai kota romantis, melainkan sebagai ruang yang keras, penuh kebisingan, kemacetan, hujan, tekanan waktu, dan ketidakpedulian. Kota menjadi “mesin” yang terus memaksa manusia bergerak tanpa memberi kesempatan untuk berhenti.
Tidak ada musik dramatis yang berlebihan. Ketegangan dibangun dari rutinitas yang terus menumpuk hingga menghasilkan kecemasan yang terasa sangat nyata.
Akting Abou Sangaré: Sangat Autentik
Penampilan Abou Sangaré merupakan jantung film ini. Ia tidak tampil seperti aktor profesional yang sedang memainkan karakter, melainkan seperti seseorang yang benar-benar sedang menjalani hidup tersebut.
Ekspresi wajahnya lebih banyak berbicara dibanding dialog. Rasa takut, malu, lelah, harapan, dan putus asa hadir secara alami.
Hal yang membuat penampilannya semakin kuat adalah kenyataan bahwa kehidupan pribadinya memiliki kemiripan dengan karakter yang ia perankan sebagai migran asal Guinea yang juga menghadapi persoalan izin tinggal di Prancis.
Kritik Sosial yang Tajam
Film ini mengangkat beberapa kritik penting.
Pertama, ekonomi digital ternyata tidak selalu menciptakan kebebasan kerja. Platform pengantaran makanan justru memperlihatkan bagaimana pekerja tanpa dokumen menjadi kelompok yang paling mudah dieksploitasi.
Kedua, sistem suaka politik digambarkan sangat paradoks. Seseorang harus mampu menceritakan penderitaannya secara meyakinkan agar dipercaya. Akibatnya, muncul industri kecil yang menjual “cerita” kepada para pencari suaka.
Ketiga, film menunjukkan bahwa eksploitasi tidak selalu datang dari negara atau masyarakat lokal. Sesama migran pun dapat menjadi pelaku eksploitasi karena sama-sama terjebak dalam sistem yang keras.
Simbolisme
Sepeda menjadi simbol perjuangan tanpa akhir. Souleymane terus bergerak, tetapi kehidupannya nyaris tidak mengalami kemajuan.
Telepon genggam menjadi simbol ketergantungan. Seluruh hidupnya bergantung pada notifikasi aplikasi, pelanggan, dan komunikasi dengan orang-orang yang menentukan nasibnya.
Wawancara suaka menjadi metafora pengadilan kehidupan. Di ruangan kecil itu, bukan hanya dokumen yang diuji, melainkan juga ingatan, emosi, dan kemampuan seseorang menyampaikan kisah hidupnya.
Aspek Sinematografi
Sinematografer menggunakan banyak pengambilan gambar genggam (handheld camera) sehingga penonton merasa ikut mengayuh sepeda bersama Souleymane.
Penyuntingan berlangsung cepat mengikuti ritme pekerjaan kurir. Hampir tidak ada jeda yang benar-benar membuat penonton merasa nyaman.
Pilihan warna cenderung dingin dan natural, memperkuat kesan realistis.
Dimensi Psikologis
Film ini menggambarkan kondisi yang dalam psikologi dikenal sebagai survival mode, ketika seseorang hidup dalam tekanan berkepanjangan sehingga seluruh energi mentalnya hanya difokuskan untuk bertahan hidup.
Souleymane tidak memiliki ruang untuk bermimpi. Ia hanya berpikir tentang pesanan berikutnya, uang makan berikutnya, dan wawancara yang akan menentukan apakah ia boleh tetap tinggal atau harus kehilangan masa depannya.
Dimensi Politik dan Hak Asasi Manusia
Film ini tidak menawarkan jawaban sederhana mengenai migrasi. Ia juga tidak mengidealkan Eropa sebagai tanah harapan.
Sebaliknya, film mengajak penonton melihat bahwa migrasi modern merupakan persoalan kompleks yang melibatkan kemiskinan global, konflik, birokrasi, eksploitasi tenaga kerja, hingga kebijakan negara mengenai suaka. Tanpa berkhotbah, film mendorong penonton mempertanyakan bagaimana sistem memperlakukan orang-orang yang paling rentan.
Kelebihan
- Akting utama yang luar biasa autentik.
- Pendekatan realistis yang sangat imersif.
- Kritik sosial tajam tanpa terasa menggurui.
- Naskah ringkas tetapi penuh lapisan makna.
- Ending emosional yang mengundang refleksi.
Kekurangan
- Tempo yang realistis mungkin terasa lambat bagi penonton yang menyukai drama konvensional.
- Minimnya musik dan dialog membuat film menuntut perhatian penuh.
- Akhir cerita yang terbuka mungkin terasa kurang memuaskan bagi sebagian penonton.
Kesimpulan
Souleymane’s Story adalah salah satu drama sosial terbaik dari perfilman Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Film ini berhasil mengubah kisah seorang kurir pengantar makanan menjadi refleksi besar tentang martabat manusia, identitas, migrasi, dan harga yang harus dibayar untuk memperoleh pengakuan sebagai sesama manusia.
Di balik cerita sederhana tentang seorang pria yang mengayuh sepeda di jalanan Paris, tersimpan pertanyaan moral yang sangat mendasar: seberapa jauh seseorang harus membuktikan penderitaannya agar dianggap layak memperoleh hak untuk hidup?
Penilaian: ★★★★★ (4,8/5)
Film ini sangat direkomendasikan bagi penikmat sinema realis, studi migrasi, hak asasi manusia, sosiologi, psikologi, maupun mereka yang ingin memahami sisi kemanusiaan di balik statistik tentang pengungsi dan pencari suaka.
Discover more from suaramigrannusantara.org
Subscribe to get the latest posts sent to your email.