Wamen Christina Dorong Padang Pariaman Manfaatkan SMK Go Global Siapkan PMI Terampil
JAKARTA — Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Christina Aryani mendorong Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, memanfaatkan Program SMK Go Global untuk menyiapkan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja internasional.
Dorongan tersebut disampaikan Christina saat menerima audiensi Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Pertemuan membahas peluang kerja luar negeri bagi generasi muda sekaligus potensi daerah dalam menyiapkan sumber daya manusia terampil untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja internasional.
Christina mengatakan, Padang Pariaman memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu daerah pemasok tenaga kerja terampil karena memiliki 17 kecamatan dan 14 SMK, ditambah sejumlah lembaga pendidikan vokasi, termasuk Politeknik Pelayaran serta sekolah keperawatan dan kebidanan. Potensi tersebut dapat diarahkan melalui program yang menghubungkan pendidikan vokasi dengan kebutuhan konkret pasar kerja luar negeri.
Menurut Christina, SMK Go Global tidak semata-mata dirancang untuk memberikan pelatihan keterampilan. Program tersebut diarahkan untuk membangun keterhubungan antara kompetensi peserta, kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan, hingga akses penempatan melalui jalur yang aman dan prosedural.
“Kita tadi petakan apa yang menjadi minat masyarakat di sana, sehingga bisa lebih mengerucut dan sesuai antara minat dan demand,” ujar Christina.
Ia menilai prinsip link and match menjadi kunci pelaksanaan program. Kebutuhan tenaga kerja di luar negeri harus dipertemukan dengan minat masyarakat serta kapasitas lembaga pendidikan dan pelatihan yang tersedia di daerah.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman diharapkan tidak hanya mendorong masyarakat untuk bekerja ke luar negeri, tetapi terlebih dahulu membangun kesiapan sumber daya manusianya. Lulusan SMK perlu mendapatkan upskilling, sertifikasi, penguatan kemampuan bahasa serta pengetahuan mengenai budaya dan dunia kerja negara tujuan sesuai bidang yang diminati.
“Harapan saya, lebih banyak masyarakat Padang Pariaman dapat mengikuti Batch 2 SMK Go Global yang kita mulai pada minggu ketiga September,” kata Christina.
Arah tersebut sejalan dengan desain nasional SMK Go Global yang menempatkan pendidikan vokasi sebagai pintu masuk menuju pasar kerja internasional. Kementerian P2MI sebelumnya menjelaskan bahwa program ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dirancang untuk menghubungkan kompetensi peserta dengan kebutuhan industri dan berujung pada penempatan kerja.
Pada 2026, SMK Go Global ditargetkan meningkatkan kapasitas 40.000 peserta. Program tersebut menjadi bagian dari target lebih besar penyiapan 500.000 tenaga kerja Indonesia untuk pasar internasional secara bertahap hingga 2029, yang terdiri atas 300.000 calon PMI lulusan SMK dan 200.000 tenaga kerja dari kelompok umum.
Sektor yang menjadi sasaran juga cukup beragam, mulai dari kesehatan, caregiver/careworker, pengelasan, transportasi, hospitality, manufaktur, pertanian, konstruksi hingga pengolahan logam. Negara tujuan yang dibidik antara lain Jepang, Korea Selatan, Jerman, Malaysia, Singapura, negara-negara Eropa, Turki dan Taiwan.
Dengan demikian, potensi pendidikan vokasi di Padang Pariaman dapat diarahkan untuk mengisi kebutuhan jabatan yang memang tersedia di pasar kerja internasional. Pendekatan berbasis permintaan tersebut penting agar lulusan tidak sekadar memiliki keterampilan, tetapi memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan pengguna tenaga kerja di negara tujuan.
Kementerian P2MI juga menekankan bahwa proses penyiapan PMI harus dilakukan secara menyeluruh. Penguasaan keterampilan teknis perlu dilengkapi kemampuan bahasa asing, sertifikasi, karakter dan kesiapan kerja sesuai standar pemberi kerja. Penetapan kebutuhan peserta juga diarahkan berdasarkan permintaan pasar kerja yang diverifikasi melalui Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SiskoP2MI) dan jaringan perwakilan RI di luar negeri.
Bagi Padang Pariaman, agenda tersebut sekaligus membuka peluang untuk menjadikan pendidikan vokasi sebagai salah satu instrumen pengurangan pengangguran. Bupati John Kenedy Azis menyampaikan keinginan pemerintah daerah untuk ikut berperan dalam pengiriman PMI sekaligus meminta arahan Kementerian P2MI mengenai hal-hal yang harus dipersiapkan daerah.
“Kami ingin ikut berperan mengisi kebutuhan akan pekerja migran Indonesia. Kami tadi minta arahan dari Ibu Wamen, apa yang harus kami siapkan,” ujar John Kenedy.
Menurutnya, kerja sama dengan Kementerian P2MI dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat sekaligus membantu menekan tingkat pengangguran di Padang Pariaman.
Namun, orientasi program tersebut tidak boleh berhenti pada keberhasilan memberangkatkan sebanyak mungkin tenaga kerja ke luar negeri. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah lulusan benar-benar memperoleh pekerjaan yang sesuai kompetensinya, melalui proses rekrutmen yang sah, dengan kondisi kerja yang layak dan memperoleh pelindungan sejak sebelum keberangkatan hingga kembali ke daerah asal.
Christina sendiri menegaskan bahwa pemerintah ingin membangun sistem yang tidak sekadar mengejar keberangkatan. “Yang kita bangun bukan sekadar keberangkatan ke luar negeri, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kompetensi yang dibutuhkan, berangkat melalui prosedur yang benar, dan mendapatkan pelindungan sejak sebelum bekerja, selama bekerja, hingga kembali ke daerah asal,” katanya.
Orientasi tersebut menjadi penting karena salah satu persoalan dalam migrasi tenaga kerja Indonesia selama ini adalah ketidaksesuaian antara kompetensi calon PMI dengan kebutuhan nyata pengguna di luar negeri. Karena itu, pendekatan supply driven—melatih tenaga kerja terlebih dahulu tanpa kepastian kebutuhan—perlu semakin ditinggalkan dan digantikan dengan pola berbasis demand.
Kementerian P2MI bahkan telah menegaskan bahwa desain SMK Go Global diarahkan untuk menghubungkan supply tenaga kerja Indonesia dengan demand negara tujuan sejak awal. Data peluang kerja menjadi dasar penyusunan pelatihan sehingga peserta tidak hanya selesai mengikuti program, tetapi memiliki peluang penempatan yang jelas.
Dalam konteks Padang Pariaman, keberadaan 14 SMK dan berbagai lembaga vokasi menjadi modal awal yang cukup penting. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut diintegrasikan dengan kebutuhan pasar kerja global, termasuk melalui pemetaan jurusan, peningkatan kompetensi, sertifikasi, bahasa asing, informasi migrasi aman dan mekanisme penempatan resmi.
Dengan demikian, Program SMK Go Global dapat menjadi jembatan antara sekolah vokasi di daerah dan pasar kerja internasional. Bagi generasi muda Padang Pariaman, bekerja ke luar negeri tidak lagi harus dipandang sebagai keberangkatan tanpa kepastian, tetapi sebagai pilihan karier profesional yang dipersiapkan sejak pendidikan, disesuaikan dengan kebutuhan pasar, ditempuh melalui jalur resmi dan berada dalam sistem pelindungan negara.
Pada akhirnya, keberhasilan Padang Pariaman memanfaatkan SMK Go Global akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah daerah dan Kementerian P2MI menerjemahkan program tersebut menjadi ekosistem yang nyata: sekolah menyiapkan kompetensi, pemerintah memetakan kebutuhan pasar, lembaga sertifikasi memastikan standar, dunia usaha membuka akses penempatan, dan negara menjamin pelindungan PMI.
Jika seluruh mata rantai tersebut berjalan, SMK tidak lagi sekadar menjadi tempat memperoleh ijazah dan keterampilan dasar. Sekolah vokasi dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak muda daerah untuk memasuki pasar kerja global secara terampil, profesional, legal dan terlindungi.
Discover more from suaramigrannusantara.org
Subscribe to get the latest posts sent to your email.