Suara Migran Nusantara Logo
BERITA

Peluang Kerja di Teluk Menurun, Pekerja Migran Bangladesh Dibayangi Biaya Rekrutmen Tinggi

  Admin2 · 
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS9G8GdNmaQaVKpiOk-XlC9PYKIDses1exNd20HbD5vI1c3POqlm0l7-r0&s=10
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

DHAKA – Pekerja migran Bangladesh menghadapi ketidakpastian akibat menurunnya peluang kerja di sejumlah negara Teluk, sementara biaya rekrutmen untuk bekerja di luar negeri masih tinggi. Kondisi ini meningkatkan risiko finansial bagi calon pekerja yang harus mengeluarkan biaya besar sebelum memperoleh penghasilan dari pekerjaan di negara tujuan.

Peringatan tersebut disampaikan para peneliti dalam peringatan 30 tahun Refugee and Migratory Movements Research Unit (RMMRU) dan kegiatan Shonar Manush Shommilon 2026 di Dhaka, sebagaimana diberitakan media Bangladesh pada 14 Oktober 2026. Para peneliti menilai, perubahan permintaan tenaga kerja di kawasan Teluk dapat mempersempit kesempatan kerja bagi warga Bangladesh yang selama ini mengandalkan migrasi internasional sebagai sumber penghidupan.

Dilip Ratha, CEO Ratha Global dan mantan ekonom utama Bank Dunia, menyebut perekrutan pekerja Bangladesh di Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya melambat di tengah konflik di Timur Tengah. Ia juga memperingatkan adanya kecenderungan sejumlah negara Teluk merekrut lebih banyak tenaga kerja dari Afrika dan Asia Tengah, yang berpotensi menambah tekanan persaingan bagi pekerja dari Asia Selatan.

Situasi tersebut menjadi persoalan serius karena keputusan untuk bekerja ke luar negeri kerap melibatkan investasi awal yang besar. Calon pekerja dapat menanggung biaya administrasi, dokumen perjalanan, pemeriksaan kesehatan, tiket, jasa perekrutan, hingga pungutan perantara. Ketika kesempatan kerja menyusut atau proses penempatan tertunda, biaya yang sudah dikeluarkan dapat berubah menjadi beban utang sebelum pekerja memperoleh pendapatan.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) sebelumnya telah menyoroti tingginya biaya migrasi tenaga kerja dari Bangladesh dan praktik perekrutan yang berisiko merugikan pekerja. Laporan ILO pada September 2025 menegaskan bahwa biaya perekrutan yang tidak wajar dapat membuka ruang eksploitasi. Standar internasional mengenai perekrutan yang adil pada prinsipnya menekankan agar pekerja tidak dibebani biaya perekrutan, dengan pengecualian terbatas sesuai ketentuan yang berlaku.

Tingginya biaya penempatan juga dapat mengurangi manfaat ekonomi migrasi. Pekerja yang meminjam uang untuk membayar agen atau perantara harus menggunakan sebagian penghasilan mereka untuk melunasi utang. Jika upah tidak sesuai kontrak, pekerjaan tidak tersedia seperti yang dijanjikan, atau masa kerja berakhir lebih cepat, kemampuan pekerja untuk mengembalikan pinjaman dan mengirim uang kepada keluarga di kampung halaman dapat terganggu.

Para peneliti karena itu mendorong penurunan biaya perekrutan, penguatan perlindungan pekerja migran, serta perbaikan tata kelola migrasi. Pengawasan terhadap agen perekrutan dan perantara perlu diperkuat agar calon pekerja memperoleh informasi yang benar mengenai lowongan, besaran upah, jenis pekerjaan, kondisi kerja, dan seluruh biaya yang harus dibayarkan sebelum keberangkatan.

Pemerintah Bangladesh juga menghadapi tantangan untuk menyesuaikan pelatihan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar internasional yang terus berubah. Informasi mengenai permintaan keterampilan, kepastian kontrak, dan kondisi kerja di negara tujuan menjadi penting agar calon pekerja tidak mengambil keputusan berdasarkan janji penempatan yang belum terverifikasi.

Di sisi lain, diversifikasi negara tujuan dan peningkatan keterampilan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pasar kerja tertentu. Namun, langkah tersebut perlu disertai mekanisme perekrutan yang transparan dan perlindungan yang dapat diakses pekerja sejak proses pemberangkatan hingga mereka kembali ke negara asal.

Peringatan para peneliti menunjukkan bahwa keberhasilan migrasi tenaga kerja tidak cukup diukur dari jumlah orang yang diberangkatkan. Kepastian pekerjaan, biaya penempatan yang wajar, upah yang dibayarkan sesuai kontrak, dan perlindungan terhadap hak pekerja merupakan bagian penting dari manfaat migrasi. Tanpa perbaikan pada aspek-aspek tersebut, menyusutnya peluang kerja di Teluk berisiko memperbesar kerentanan pekerja migran Bangladesh dan keluarga yang menggantungkan penghidupan pada penghasilan mereka.

Bangladesh Berita BP2MI Buminu CPMI KP2MI migran Migrasi pekerja migran Perlindungan Pekerja Migran PMI
Berita Terkait
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQGnpTDgp-KBX2rA4EtzzYVS-iQs6vTra3a_w2QOu37r-lUxZJgYNlMKOH_&s=10
BERITA
Pekerja Migran Asing di Rusia Terancam Serangan Ukraina, Arus Pekerja Asia Tengah Turun 15 Persen
15 Oct 2026
Sumber: https://cdn.antaranews.com/cache/1200x800/2026/10/07/1000759211.jpg
BERITA
Taiwan Sebut 400.000 PMI sebagai Keluarga, Pelindungan dan Kesejahteraan Jadi Perhatian
15 Oct 2026
Sumber: https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2026/10/14/warga-barito-selatan-dipulangkan-setelah-enam-bulan-tertahan-di-imigrasi-malaysia-1791959272911_169.png?w=1200
BERITA
Enam Bulan Ditahan Imigrasi Malaysia, Warga Barito Selatan Akhirnya Dipulangkan ke Indonesia
15 Oct 2026

Comments are closed.