Korupsinikus: Devisa dari Air Mata Ibu
Esai Satire: Harri Safiari
Di negeri Korupsinikus,
ibu-ibu diekspor seperti komoditas.
Bukan karena mereka tak cinta rumah,
tapi karena rumah tak lagi mampu mencintai mereka dengan layak.
Maka berangkatlah mereka—
dengan koper berisi baju, doa, dan rasa bersalah yang dilipat rapi.
Negara berdiri gagah di podium:
“PMI adalah pahlawan devisa!”
Tepuk tangan.
Sementara di belakang panggung:
anak-anak belajar memeluk layar
suami belajar setia… atau belajar lupa
rumah berubah jadi ruang tunggu yang tak pernah selesai.
Korupsinikus itu cerdas.
Ia tahu: lebih murah mengirim ibu ke luar negeri
daripada membangun negeri agar ibu tak perlu pergi.
Lebih praktis: menyebut derita sebagai “pengorbanan”
daripada mengakui kegagalan sebagai kegagalan.
Di negeri ini,
yang pergi adalah tubuh ibu,
yang tertinggal adalah jiwa anak.
Dan negara?
Menghitungnya dalam dolar.
Suatu hari, anak itu tumbuh.
Ia tak lagi menangis saat video call.
Ia sudah terbiasa kehilangan.
Dan saat ditanya cita-citanya, ia menjawab:
“Aku ingin ke luar negeri…
supaya bisa mengirim uang ke rumah.”
Lingkaran selesai.
Korupsinikus tersenyum.
Karena di negeri ini,
yang diwariskan bukan kesejahteraan—
tapi cara bertahan dari ketidakadilan.
(Selesai)