Pelatihan Keterampilan Jadi Bekal Penting Calon PMI
JAKARTA/INDRAMAYU, — Pelatihan keterampilan menjadi investasi krusial yang menentukan keberhasilan dan keamanan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Kisah Susi Fauziah dari Indramayu, Jawa Barat, menjadi contoh inspiratif: ia belajar bahasa Korea di LPK sejak 2021, lulus ujian EPS-TOPIK pada 2022, dan berhasil diberangkatkan ke Korea Selatan melalui skema G to G pada Juni 2024 sebagai satu-satunya perempuan dalam rombongan 99 PMI.
Menteri P2MI Abdul Kadir Karding menjadikan peningkatan keterampilan, terutama kemampuan bahasa, sebagai prioritas utama dalam memenuhi target pengiriman 425.000 PMI pada 2025. Pasar tenaga kerja di Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa menawarkan peluang besar bagi PMI terampil dengan gaji jauh lebih tinggi dibandingkan sektor informal. Data KP2MI menunjukkan PMI yang berangkat melalui jalur prosedural dengan pelatihan lengkap memiliki tingkat pengaduan masalah jauh lebih rendah.
Namun akses terhadap pelatihan berkualitas masih timpang. Kepala Dinas Tenaga Kerja Lombok Tengah, NTB, menyatakan keterbatasan LPK bersertifikat di daerah terpencil memaksa calon PMI menempuh jarak jauh atau bergantung pada agen tidak berizin. Organisasi buruh migran merekomendasikan kurikulum pelatihan tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga mencakup hak-hak pekerja, literasi hukum, dan kesiapan psikologis menghadapi kehidupan di luar negeri.