Bencana Cuaca Ekstrem 2024 Memaksa Ribuan Orang Mengungsi di Indonesia
PADANG/JAKARTA — Sepanjang 2024, serangkaian bencana cuaca ekstrem menyapu berbagai penjuru Indonesia dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam satu dekade terakhir. Banjir bandang dan lahar dingin Gunung Marapi di Sumatera Barat menewaskan setidaknya 67 jiwa dan memaksa lebih dari 4.000 orang mengungsi, menjadikannya salah satu bencana paling mematikan di wilayah itu sejak 2010.
\n\n
“Ini bukan sekadar bencana alam biasa. Ada faktor perubahan iklim yang memperkuat intensitas dan frekuensinya. Kita harus bicara tentang adaptasi jangka panjang, bukan hanya respons darurat,” tegas Bambang Soesatyo (Bamsoet) dalam pernyataan resminya, dikutip dari Detik News (2024).
\n\n
Di Maluku Utara, banjir Agustus 2024 menewaskan 16 orang dan merusak puluhan rumah di Kota Ternate, memperlihatkan kerentanan kawasan kepulauan terhadap curah hujan ekstrem yang semakin tidak terprediksi. Secara global, IOM mencatat 45,8 juta orang terpaksa mengungsi akibat bencana alam pada 2024 — hampir dua kali lipat rata-rata satu dekade terakhir — dengan Asia Tenggara menyumbang porsi yang tidak kecil.
\n\n
Suara Migran Nusantara mencatat bahwa pemerintah merespons dengan meluncurkan “program KUR Penempatan PMI Rp393,5 miliar bunga 6% untuk bebas dari rentenir,” termasuk untuk membantu keluarga terdampak bencana yang anggotanya ingin bekerja ke luar negeri sebagai strategi pemulihan ekonomi. Kebijakan ini perlu diintegrasikan dengan program rehabilitasi bencana agar tidak sekadar mendorong emigrasi sebagai pelarian dari kondisi pasca-bencana.
\n\n
Sumber: Detik News (2024); Antaranews (2024); IOM (2025); Suara Migran Nusantara (2026).