BRIN Soroti Brain Drain sebagai Tantangan Integrasi Tenaga Terampil Indonesia
JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti ancaman brain drain yang semakin serius di tengah tren migrasi global yang terus meningkat. Peneliti Senior Pusat Riset Kependudukan BRIN menilai bahwa pergerakan tenaga intelektual dan terampil Indonesia ke luar negeri — yang semula dipandang sebagai keberhasilan — kini mulai menimbulkan kekhawatiran serius tentang kecukupan sumber daya manusia berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pembangunan domestik.
\n\n
“Fenomena brain drain bukan hanya soal berapa banyak yang pergi, tetapi tentang siapa yang pergi dan kapasitas apa yang hilang dari dalam negeri. Kalau yang pergi adalah terbaik kita, pembangunan kita menjadi tertinggal,” ujar peneliti BRIN, dikutip dari RRI Nasional (2025).
\n\n
Integrasi sosial tenaga terampil Indonesia di negara tujuan memang relatif lebih mudah dibanding pekerja sektor domestik — mereka mendapat hak lebih baik, hidup dalam komunitas profesional, dan memiliki akses ke layanan sosial formal. Namun justru faktor-faktor itulah yang membuat mereka betah dan enggan kembali ke Indonesia, memperpanjang “masa produktif” mereka di luar negeri jauh melampaui rencana awal.
\n\n
Suara Migran Nusantara mengaitkan isu ini dengan ancaman perdagangan orang yang mengintai para pencari kerja, mengingatkan bahwa “TPPO ini bukan kasus kecil — ini kejahatan serius yang seringkali bersembunyi di balik lowongan kerja.” Pemerintah harus menjawab tantangan brain drain bukan hanya dengan menciptakan insentif bagi pekerja terampil untuk kembali, tetapi juga dengan membangun ekosistem inovasi dalam negeri yang mampu bersaing menawarkan karir bermakna.
\n\n
Sumber: RRI Nasional (2025); BRIN (2025); Suara Migran Nusantara (2026); IOM Indonesia (2024).