Reses di Ponpes Darussaadah, Zaki Mubarok Sosialisasikan Peluang Kerja ke Jepang dan Dorong Lahirnya Santri Migran Preneur
Kebumen – Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Zaki Mubarok, bersama Anggota DPRD Kabupaten Kebumen dari Fraksi PKB, Hj. Khotimah, dan Safrizal Wahyu Jatniko menggelar kegiatan reses di Pondok Pesantren Darussaadah, Kecamatan Petanahan Dan Kantor Desa Kebadongan Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk menyerap aspirasi masyarakat sekaligus memberikan edukasi mengenai peluang bekerja secara aman dan legal di luar negeri.
Dalam kegiatan itu, Zaki Mubarok didampingi Wakil Ketua Umum Federasi Buminu Sarbumusi, Wakhid Masykur. Selain menerima berbagai pengaduan masyarakat terkait persoalan sosial dan ketenagakerjaan, keduanya juga menyosialisasikan pentingnya perlindungan bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) agar hanya berangkat melalui prosedur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pada kesempatan tersebut, Hj. Khotimah dan Safrizal Wahyu Jatniko menegaskan bahwa kegiatan reses merupakan salah satu bentuk pelaksanaan fungsi anggota legislatif untuk mendengar langsung kebutuhan dan persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, setiap aspirasi dan pengaduan yang disampaikan warga akan menjadi bahan perjuangan di DPRD sesuai kewenangan yang dimiliki.
“Sebagai anggota DPRD, kami memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat, mendengar setiap aspirasi, menerima berbagai pengaduan, lalu memperjuangkannya agar mendapat solusi melalui mekanisme yang ada. Masyarakat jangan ragu untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi karena itulah salah satu fungsi utama kami sebagai wakil rakyat,” ujarnya
Selain itu, dalam paparannya Zaki juga menjelaskan bahwa bekerja di luar negeri dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi pengangguran sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dilakukan secara legal, terampil, dan terlindungi. Ia juga memperkenalkan berbagai peluang kerja resmi di sejumlah negara, terutama di Jepang, yang saat ini masih membutuhkan tenaga kerja Indonesia di berbagai sektor.

“Kesempatan bekerja di luar negeri harus dimanfaatkan dengan baik, tetapi harus melalui jalur resmi agar para pekerja memperoleh perlindungan hukum, kepastian hak, dan keamanan selama bekerja,” ujarnya di hadapan para santri, pengasuh pesantren, dan masyarakat yang hadir.
Menurut Zaki, bekerja di luar negeri tidak hanya bertujuan memperoleh penghasilan, tetapi juga menjadi sarana meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ia mengajak generasi muda, termasuk para santri, untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai bekal membangun masa depan yang lebih baik.
Lebih jauh, Zaki memperkenalkan konsep Santri Migran Preneur, yakni santri yang bekerja di luar negeri untuk memperoleh pengalaman, keterampilan, dan modal usaha, kemudian kembali ke Indonesia sebagai pengusaha yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Ia berharap pondok pesantren memiliki tanggung jawab yang sama dalam menyiapkan santri menghadapi tantangan global. Menurutnya, pesantren tidak hanya mencetak lulusan yang memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga mampu melahirkan sumber daya manusia yang kompetitif di tingkat internasional.
“Kami berharap pondok pesantren ikut mengambil peran strategis dalam mencetak Santri Migran Preneur. Santri yang bekerja di luar negeri bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga menjadi duta syiar agama yang menunjukkan akhlak mulia, etos kerja yang baik, dan membawa wajah Islam Indonesia yang moderat di negara penempatan. Ketika kembali ke tanah air, mereka diharapkan pulang dengan pengalaman, pendidikan, dan modal usaha untuk membangun daerahnya,” kata Zaki.

Sementara itu, Wakhid Masykur menegaskan bahwa F-Buminu Sarbumusi terus mendorong penguatan literasi migrasi aman kepada masyarakat, termasuk di lingkungan pesantren. Menurutnya, edukasi sejak dini sangat penting agar calon pekerja migran memahami prosedur keberangkatan, hak-hak mereka sebagai pekerja, serta berbagai risiko apabila memilih jalur nonprosedural.
“Pesantren memiliki peran strategis dalam membangun karakter sekaligus membekali santri dengan wawasan dunia kerja global. Melalui sosialisasi seperti ini, kami berharap semakin banyak calon pekerja migran yang berangkat secara resmi, terlindungi, dan kelak menjadi pengusaha serta agen pembangunan ketika kembali ke Indonesia,” ujar Wakhid.
Kegiatan reses berlangsung interaktif. Selain menyampaikan aspirasi mengenai pembangunan daerah, para peserta juga memanfaatkan kesempatan untuk berkonsultasi mengenai prosedur bekerja di luar negeri, pelatihan keterampilan, hingga peluang penempatan kerja resmi, khususnya di Jepang.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan semakin banyak masyarakat Kebumen yang memahami pentingnya migrasi aman serta melihat pekerja migran sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia, pengurangan pengangguran, dan penguatan ekonomi keluarga maupun daerah.