PBB: 123,2 Juta Jiwa Terpaksa Mengungsi hingga Akhir 2024, Dana Bantuan Seret
JENEWA — Laporan UNHCR terbaru mengungkapkan bahwa 123,2 juta jiwa terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka hingga akhir 2024 — mencakup pengungsi lintas batas, pencari suaka, dan pengungsi internal — menjadikannya rekor tertinggi dalam sejarah pencatatan perpindahan paksa. Yang memperparah krisis ini adalah kesenjangan pendanaan yang menganga: anggaran bantuan kemanusiaan internasional hanya mampu menutup sebagian kecil dari kebutuhan nyata di lapangan.
\n\n
“Dana yang ada hanya cukup untuk 30–40 persen dari kebutuhan kami. Yang lainnya adalah harapan yang belum terpenuhi, dan di balik setiap angka yang tidak terdanai adalah manusia yang tidak makan, tidak mendapat obat, tidak punya tempat tidur,” ujar pejabat UNHCR, dikutip dari DW Indonesia (2025).
\n\n
UNHCR memproyeksikan bahwa hingga 6,5 juta warga Suriah yang masih berada di pengungsian di luar negeri berpotensi kembali ke tanah air pada akhir 2025 setelah jatuhnya rezim Assad — sebuah perkembangan langka yang memberi harapan, namun juga membutuhkan dukungan rekonstruksi yang masif. Di Asia Tenggara, krisis Rohingya terus berlanjut dengan arus pengungsi yang mencari suaka ke Indonesia, Malaysia, dan Bangladesh.
\n\n
Suara Migran Nusantara melaporkan bahwa UNHCR menyebut 2025 sebagai “tahun paling mematikan bagi perjalanan laut” dengan hampir 900 pengungsi Rohingya hilang atau meninggal di Laut Andaman — sebuah tragedi yang terjadi di halaman belakang Indonesia dan menuntut respons kemanusiaan yang lebih tegas dari pemerintah dan masyarakat sipil Indonesia.
\n\n
Sumber: DW Indonesia (2025); UNHCR (2025); Antaranews (2025); Kementerian Luar Negeri RI (2025).