Suara Migran Nusantara Logo
SASTRA MIGRAN

AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)

  Admin2 · 
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Oleh: Neni Rosini Wahidin

Lanjutan dari ngelap sepatu…

Majikan laki-lakiku menyuruhku mengelap sepatunya di depan dia. Aku takut. Tapi ini pekerjaanku. Aku kembali, duduk di lantai di depannya, membersihkan sepatunya pelan-pelan.

“Berdiri,” katanya.

Aku berdiri. Dia duduk di sofa. Tiba-tiba dia memegang tanganku. Menarikku, menyuruhku duduk di pangkuannya.

Aku kaget.

Astagfirullah.

Aku duduk di pangkuan Babah itu. Jantungku mau copot. Dia memegang pipiku.

“Kamu cantik,” katanya pelan.

“Aku mau pergi,” bisikku. Suaraku gemetar.

Dia menahanku keras. Menahan bahuku.

“Kalian tahu kan orang Arab kayak gimana…”

Aku risih. Mual.

Aku bilang, “Kalau kamu mau begituan, jangan sama aku. Kamu ada istri. Istrimu di depan. Aku muslim. Aku masih gadis. Aku datang ke sini cari rezeki, bukan cari masalah.”

Dia diam. Lalu senyum. Dia mengeluarkan uang. Banyak. Ditumpuk di meja.

“Ini uang buat kamu.”

“Enggak usah. Aku punya uang. Gajiku,” jawabku.

“Kalau kamu kayak gini, aku bakal ngomong sama istri kamu.”

Dia tertawa.

“Istriku nggak bakal percaya kamu. Setahu dia, aku kerja seharian. Nggak sempat ketemu pembantu.”

Aku menatap matanya.

“Aku orang Indonesia. Bukan wanita murah. Dikasih uang berapa juta pun, aku nggak mau tidur sama kamu.”

Aku langsung berdiri. Lari ke kamar. Kunci pintu keras.

Aku tidak keluar. Tidak peduli pekerjaan. Sampai majikan perempuan datang, aku tidak tahu jam berapa. Nafasku masih memburu.

Aku bereskan barang. Semua masuk ke tas.

Kalau dia balik lagi, aku harus siap lari.

Malam, majikan perempuan datang. Dia mencariku, panik.

“Cindy… Cindy kenapa? Belum masak? Kenapa rumah berantakan?”

Aku tidak menjawab. Mulutku terkunci. Tenagaku sudah dikuras habis.

Anaknya yang dua menggedor-gedor pintu kamarku.

“Cindy, kamu kenapa? Kamu sakit?”

Majikan perempuan dan majikan laki-laki menggedor pintuku bersamaan.

“Buka pintunya!”

Aku buka pelan. Mataku bengkak, tanganku memegang tas.

“Aku pengen pulang ke Indonesia. Aku nggak mau kerja lagi di sini.”

“Kenapa?” tanya majikan perempuan.

Aku diam.

Zaman itu belum ada syarikah. Semua pembantu Indonesia langsung sampai ke rumah majikan. Urusan kepulangan majikan yang urus. Aku tidak punya siapa-siapa.

Aku bilang, “Aku nggak mau kerja sama kalian. Aku kangen orang tuaku.”

Tetap aku disuruh kerja.

“Keluar. Kerja.”

Aku mau mengadu ke siapa?

Tidak ada syarikah. Tidak ada kantor. Aku telepon sponsor, tidak aktif. Telepon PT di Indonesia, katanya sudah tutup. PT-nya hilang.

Aku putus asa saat itu juga.

Aku telepon saudaraku yang ada di Doha. Suaraku gemetar.

“Aku harus gimana?”

Dia bilang, “Ya udah, keluar aja.”

Aku bengong.

“Mau keluar ke mana?”

“Nanti aku bantuin kamu keluar. Aku juga sama majikanku nggak baik. Kita kabur.”

Aku punya teman di luar, orang Filipina. Dia pembantu juga. Dapurnya di depan, pintunya kaca. Aku buka hordeng, memberi isyarat tangan.

“Bantuin aku dong. Aku nggak tahan kerja di sini.”

Dia bilang, “Masukin baju-baju kamu yang penting ke kresek hitam. Pura-pura buang sampah di depan.”

Aku ikuti.

Aku masukkan baju ke kresek hitam. Jalan ke depan pura-pura santai.

Security bertanya, “Kamu mau ke mana?”

“Mau buang sampah di depan. Soalnya kebanyakan,” jawabku gemetar.

“Oh, ya udah.”

Aku sudah di luar pagar. Jantung mau copot.

Aku telepon saudaraku.

“Jemput sekarang.”

Akhirnya aku keluar. Pergi bersama saudaraku.

Nasibku gimana di luar sana, aku pasrahkan pada Tuhanku.

Yang penting aku keluar dari rumah itu.

Dari tangan yang memegang pipiku.

Dari tumpukan uang yang mau membeli harga diriku.

Malam itu aku lari bukan karena jahat.

Tapi karena aku masih mau jadi manusia.

Satu bulan berlalu.

Aku tidak lagi tinggal di rumah majikanku. Sekarang aku di luar, bersama saudaraku.

Bisa dibilang, aku ilegal. Tidak punya paspor. Tidak punya KTP di sini. Kalau ketemu orang asing, aku bisa langsung dibawa ke polisi.

Tapi aku bertahan.

Selama satu tahun aku diberi kerja di rumah orang. Gajinya tiga kali lipat. Kerjaku mengurus bayi yang baru lahir dan mengurus rumah.

Selama itu aku mengumpulkan banyak uang.

Tanpa paspor pun aku tetap belanja untuk kebutuhanku. Sesekali aku beli Indomie dan kopi.

Obat rindu paling murah dari Indonesia.

Dua bulan kemudian hidupku sama. Tapi lama-lama aku sadar. Hidup di luar tanpa identitas itu sangat berbahaya.

Sakit, kita obati sendiri. Tidak bisa ke rumah sakit. Tidak bisa pergi ke mana pun sesuka hati. Kita diawasi.

Satu tahun berlalu.

Badanku capek. Hatiku juga.

Aku memutuskan pulang ke Indonesia. Aku tidak mau hidup menggantung. Banyak yang kabur tapi memilih jalan buntu. Aku tidak mau.

Waktu itu aku masih muda. Masih gadis.

Genap satu tahun kerja di luar tanpa identitas, aku memberanikan diri menyerahkan diri ke kantor polisi.

Semua uangku aku kirim ke rekening pribadiku di Indonesia. Semua barangku aku kargo pakai nama teman yang resmi.

Aku hanya bawa satu koper kecil. Isinya kurma, baju abaya, baju ganti, dan sedikit camilan.

Aku diantar saudaraku pakai taksi. Tapi taksi tidak bisa masuk wilayah polisi. Jadi aku jalan kaki.

Dari jalan yang paling jauh, sampai ke gedung polisi yang sangat luas.

Aku masuk. Daftar.

“Ada apa?”

“Saya pengen pulang.”

“Kamu punya uang buat pulang?”

“Nggak punya. Saya nggak punya apa-apa.”

“Ya udah, tunggu.”

Habis itu aku dipanggil.

Semua barangku dipisah dari badanku. Aku dibawa ke tempat seperti penampungan.

Di sana…

Masya Allah.

Ribuan orang.

Bermacam-macam negara. Indonesia ada. Filipina ada. Semua negara ada di situ, satu tempat.

Tempatnya luas banget, seperti dua lapangan bola dijadikan satu.

Orang-orang bertumpuk-tumpuk. Ada yang menangis. Ada yang membawa anak kecil. Ada yang sakit.

Tiap pagi dikasih makan roti, telur, ayam.

Hidup free. Mau tidur tinggal tidur.

Tapi kita tidak bisa pergi ke mana-mana. Hanya di lingkaran itu saja.

Sebulan…

Dua bulan…

Tiga bulan…

“Sampai kapan, ya Allah, aku ada di sini?”

Aku kangen keluarga. Kangen Indonesia.

Suatu malam saat tidur, tiba-tiba namaku dipanggil.

Bukan aku saja. Banyak yang dipanggil.

Kita dikumpulkan di lapangan. Diabsen satu-satu. Lalu dibawa ke suatu tempat.

Ke kantor…

Ke kantor lagi…

Dan ke kantor lagi.

Terus-terusan.

Kita foto. Kita ditanya. Diinterogasi.

Terakhir, petugas bertanya,

“Kamu ada paspor?”

Aku bilang, “Nggak ada, Pak. Sama majikan.”

“Majikan kamu ada di sini. Dia pengen ketemu kamu. Paspor kamu sudah dibalikin sama majikan kamu. Sama barang-barang kamu juga. Majikan kamu ngasih amplop.”

“Nama kamu benar Cindy?”

“Iya, Pak. Nama saya Cindy.”

“Oke. Sekarang kamu bilang sama kami. Mau bertemu dengan majikan kamu atau enggak?”

Aku deg-degan.

“Kalau misalkan aku ketemu majikanku, apa aku dibawa lagi sama mereka?”

“Enggak. Kalau kamu nggak mau, ya udah nggak usah.”

Aku jawab,

“Aku nggak mau, Pak.”

Petugas itu bilang lagi,

“Cuma majikan kamu ada niat baik. Sampai datang ke sini nganterin barang kamu, paspor kamu. Makanya kamu secepat ini bisa pulang.”

Aku jawab,

“Baik, Pak…”

Dengan nada gemetar.

Hari itu aku sadar.

Aku pernah jatuh. Aku pernah gagal. Aku pernah melangkah ke jurang, jadi TKW ilegal tanpa identitas.

Tapi untuk sukses, harus memilih jalan lurus.

Menyakitkan, memang.

Memilih jalan buntu kelihatannya menyenangkan, tapi hanya sesaat.

Dua hari berlalu setelah proses pemulangan. Karena semua dokumen belum komplet, jadi harus menunggu.

Di penampungan itu aku bertemu seorang ibu orang Indonesia. Dia kabur. Punya anak umur setahun yang sedang sakit. Dia tidak bisa pulang karena kasusnya lebih berat.

Aku hanya bisa bilang,

“Terima kasih, ya Allah. Karena kasusku tidak berat.”

Selama enam bulan aku di penampungan, tidak ada satu pun pertanyaan yang menyudutkan aku. Sedangkan yang lain, banyak kasus yang lebih parah.

Di suatu malam aku bermimpi.

Ada tiga laki-laki berjubah putih. Seperti orang alim. Mereka senyum padaku.

Cuma senyum.

Satu bulan kemudian, sudah delapan bulan lebih aku di penampungan. Tiba-tiba namaku dipanggil.

Di papan tulis: “Cindy”, tapi pakai angka.

Di nomor itu aku tulis.

Aku dipanggil.

Di situ kebebasanku yang sesungguhnya.

Mereka memutuskan,

“Kamu bebas hari ini.”

Ya Allah…

Hari itu aku sangat bahagia.

Dari delapan bulan dikurung, hari ini aku bisa menghirup udara luar. Bisa pulang ke Indonesia. Tanah airku.

Aku langsung ambil koperku di gudang. Dengan gemetar aku memegang kertas yang dikasih Pak Polisi untukku.

Aku dikumpulkan. Dibawa ke bus. Dibawa ke bandara. Diantar sampai naik pesawat, dikawal polisi.

Sebelah kanan polisi.

Sebelah kiri polisi.

Di pesawat, aku buka abayaku. Aku ganti pakaianku.

Aku bilang dalam hati,

“Aku buang sial. Semoga ke depannya aku bisa jauh lebih baik lagi.”

Perjalanan 14 jam.

Transit lagi, transit lagi.

Sialnya, kita terdampar di Sri Lanka karena penerbangan di-cancel.

Aku tidak punya uang sepeser pun untuk beli makan.

Aku hanya berdiri di sudut ruangan. Duduk sendirian.

Malam itu, ada ibu-ibu orang Indonesia. Mereka baru pulang dari Abu Dhabi.

Mereka tanya,

“Mbak dari mana?”

Aku jawab,

“Saya pulang, Bu.”

Aku diam. Malu. Penampilanku berantakan. Karena pulang dari penampungan aku belum mandi.

Ibu itu bilang,

“Kamu mau makan?”

Aku jawab,

“Enggak, Bu. Makasih ya, Bu.”

Terus ibu yang satunya ngasih segelas air.

“Ini buat kamu.”

“Makasih ya, Teh.”

Aku minum sedikit demi sedikit.

Tidak lama, si ibu itu datang lagi. Bawa banyak makanan. Nasi, chip, sama kolak.

Aku bilang,

“Makasih banyak ya, Bu.”

Tangan aku gemetar menerimanya.

Sudah dua hari aku menahan lapar.

Rasa nasi hangat itu…

Masya Allah.

Seperti makan di rumah sendiri.

Aku makan pelan-pelan.

Ibu itu senyum.

“Habisin, Nak. Kuatin badan. Masih jauh perjalanan pulang kamu.”

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Bukan karena lapar lagi.

Tapi karena hati ini.

Delapan bulan di penampungan. Tidur berdesakan, makan roti sama telur.

Sekarang dikasih nasi sama kolak gratis sama orang yang bahkan tidak kenal aku.

Allah Maha Baik.

Di saat aku merasa paling hina, paling malu, paling sendiri…

Allah kirim orang baik.

Besok paginya, penerbangan dilanjutkan.

Dari Sri Lanka ke Jakarta.

Pas roda pesawat menyentuh landasan Soekarno-Hatta, aku nangis.

Tidak bisa ditahan.

Petugas imigrasi lihat pasporku. Stempel.

“Selamat datang di Indonesia, Mbak.”

Kalimat itu paling indah sedunia.

Aku keluar bandara.

Hirup udara Jakarta.

Panas. Pengap. Macet.

Tapi buat aku, itu surga.

Saudaraku sudah menunggu.

Dia peluk aku kencang banget.

“Akhirnya pulang juga, Neng…”

Di taksi menuju rumah, aku lihat langit Indonesia. Awan putih. Jalanan ramai. Anak-anak jualan koran.

Aku bisik,

“Ya Allah… aku pulang. Beneran pulang.”

Delapan bulan jadi tahanan di negara orang. Delapan bulan tidak punya nama.

Hari ini, aku punya rumah.

Punya keluarga.

Punya Indonesia.

Malam pertama di rumah, aku tidur di lantai. Tidak pakai kasur.

Karena aku kangen dinginnya lantai kampung.

Sebelum merem, aku sujud lagi.

“Ya Allah. Aku pernah jatuh ke jurang. Aku pernah ilegal. Aku pernah malu. Tapi Engkau pulangin aku dengan selamat.

Mulai hari ini, aku janji. Aku nggak akan cari jalan buntu lagi. Aku akan jalan lurus. Walau sakit.

Karena aku udah buktiin sendiri.

Jalan lurus itu yang nganterin aku pulang.”

CATATAN UNTUK YANG MEMBACA: RISIKO JADI KABURAN DI LUAR NEGERI

Banyak yang mengira kabur itu bebas.

Padahal tidak.

Setelah aku keluar dari rumah majikan itu, aku baru tahu, hidup di luar tanpa identitas itu lebih mengerikan daripada hidup di dalam rumah yang menakutkan.

1. Kita Tidak Punya Nama

Paspor ditahan majikan. KTP tidak ada. Kalau ada razia di jalan, kita bisa langsung diangkut polisi.

Tidur pun tidak nyenyak. Setiap ada suara mobil polisi lewat, jantung mau copot.

2. Sakit, Obati Sendiri

Selama aku ilegal, aku tidak bisa ke rumah sakit. Demam, batuk, sakit perut, semua ditahan.

Beli obat warung saja takut keluar. Kalau sampai pingsan di jalan, tidak ada yang bertanggung jawab.

3. Gaji Besar, Tapi Tidak Ada Jaminan

Iya, gajiku tiga kali lipat.

Tapi kalau majikan baru tidak bayar, mau lapor ke siapa?

Kita ilegal. Kita tidak bisa lapor polisi, tidak bisa lapor KBRI kalau belum menyerahkan diri.

Kita hanya bisa diam.

4. Dijual Lagi

Aku dan saudaraku ditampung di rumah singgah. Di situ kita disuruh kerja lagi dari rumah ke rumah.

Kalau dapat rumah yang baik, alhamdulillah.

Kalau dapat rumah yang jahat lagi?

Kita kabur lagi?

Sampai kapan?

5. Pulang Tidak Gratis

Untuk pulang, aku harus menyerahkan diri. Tidur di penampungan seperti penjara.

Berdesakan, makan roti dan telur setiap hari, menunggu berbulan-bulan tanpa kepastian kapan dipanggil.

Ribuan orang dari berbagai negara menangis di situ. Ada yang bawa anak kecil yang sakit. Ada yang kasusnya lebih berat, tidak bisa pulang bertahun-tahun.

Aku bersyukur, aku masih muda. Masih gadis. Masih diberi kesempatan pulang dengan selamat oleh Allah.

Tapi tidak semua seberuntung aku.

Makanya aku tulis ini.

Aku lari bukan karena jahat, tapi karena ingin tetap jadi manusia.

Tapi setelah lari, aku sadar:

Jalan lurus itu menyakitkan, tapi mengantarkan pulang. Jalan buntu kelihatannya menyenangkan, tapi hanya sesaat.

Kalau kamu ada di posisi seperti aku dulu, jangan pilih kabur.

Cari KBRI. Cari petugas. Simpan nomor darurat.

Jangan seperti aku yang tidak punya siapa-siapa, sampai harus pura-pura buang sampah pakai kresek hitam.

Harga diri kita memang tidak bisa dibeli dengan uang jutaan di atas meja.

Tapi kebebasan kita juga tidak bisa ditebus kalau kita sudah tidak punya identitas.

Sumber: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

ABK ART Berita BP2MI Buruh migran Cerpen CPMI HAM KP2MI migran Migrasi Neni Rosini Wahidin pekerja migran PMI TKW
Berita Terkait
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
SASTRA MIGRAN
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
2 Oct 2026
DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)
SASTRA MIGRAN
DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)
30 Sep 2026
RINDU YANG BERAT
SASTRA MIGRAN
RINDU YANG BERAT
29 Sep 2026