Suara Migran Nusantara Logo
SASTRA MIGRAN

DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)

  Admin2 · 
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Oleh: Neni Nurliani

Hari ini saya kembali diingatkan bahwa di balik sebuah keberhasilan, selalu ada perjuangan yang tidak semua orang tahu.

Pagi ini saya mendapat panggilan video dari Arifin.

Tidak sempat saya angkat.

Beberapa saat kemudian masuk sebuah pesan sederhana.

“Selamat pagi, Bu.”

Saya pikir mungkin ada sesuatu yang ingin ia konsultasikan. Saya pun segera menghubunginya melalui video call.

Seperti biasa, saya disambut dengan senyum khas Arifin. Senyum seorang anak yang sejak dulu selalu berusaha terlihat kuat dan ceria, meskipun kehidupan tidak selalu memberinya alasan untuk tersenyum.

Namun pagi ini ada sesuatu yang berbeda.

Arifin memperlihatkan sebuah amplop kepada saya.

Itulah gaji pertamanya di Jepang.

Saya melihat wajahnya. Ada kebahagiaan di sana. Tetapi saya juga seperti melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kebahagiaan menerima gaji.

Di balik senyum itu tersimpan perjalanan hidup yang panjang. Perjalanan yang tidak mudah. Perjalanan yang dipenuhi air mata, doa, ketabahan, dan pertolongan dari orang-orang baik.

Sejak kecil, Arifin dibesarkan oleh seorang nenek yang hidup sebatang kara dan dalam kondisi tidak dapat melihat.

Kedua orang tuanya telah berpisah.

Ibunya pergi dalam kondisi penuh tekanan dan hingga hari ini belum diketahui kabarnya.

Hari-hari masa kecil Arifin dilalui bersama sang nenek.

Hidup sederhana.

Serba terbatas.

Namun keterbatasan tidak membuat Arifin berhenti sekolah. Tidak pula mematikan mimpinya.

Ia tetap tumbuh.

Ia tetap belajar.

Dan ia tetap menyimpan harapan tentang masa depan.

Sampai akhirnya Arifin memasuki SMK.

Di sepanjang perjalanan hidupnya, Tuhan mempertemukannya dengan orang-orang baik.

Salah satu titik penting dalam hidup Arifin terjadi ketika sang nenek harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Arifin yang masih polos dan lugu dengan setia mendampingi neneknya.

Dari situlah seorang bidan yang melihat kondisi mereka mulai mengenal kisah hidup Arifin.

Rasa iba kemudian berubah menjadi kepedulian.

Kepedulian berubah menjadi kasih sayang.

Hingga akhirnya, Arifin diangkat menjadi anak asuh dan menjadi bagian dari keluarga tersebut.

Keluarga inilah yang kemudian ikut memikirkan masa depan Arifin setelah ia menyelesaikan sekolah.

Mereka tidak hanya membantu Arifin melewati kesulitan hari ini, tetapi juga berusaha membuka jalan agar Arifin memiliki masa depan yang lebih baik.

Sampai akhirnya langkah Arifin dipertemukan dengan LPK SO LAUS Indonesia.

Di sanalah perjalanan baru dimulai.

Belajar bahasa.

Belajar beradaptasi.

Belajar memahami budaya dan lingkungan baru.

Belajar disiplin.

Belajar menjadi lebih mandiri.

Semua dijalani dengan proses yang tidak selalu mudah.

Ada masa ketika Arifin merasa lelah.

Ada saat ketika air mata jatuh.

Ada keinginan untuk menyerah.

Tetapi setiap kali mengingat orang-orang yang telah menyayanginya, membantunya, dan mempercayai dirinya, Arifin kembali berdiri.

Sebab ia sadar, ia tidak hanya sedang mengejar sebuah pekerjaan.

Ia sedang mengejar kesempatan untuk membahagiakan orang-orang yang selama ini telah berjuang untuknya.

Ia ingin membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya tidak sia-sia.

Dan akhirnya…

Hari yang dahulu hanya menjadi impian itu datang.

Arifin berangkat ke Jepang.

Negeri yang sebelumnya mungkin hanya ia kenal dari cerita, kini menjadi tempatnya mencari pengalaman dan membangun masa depan.

Ia meninggalkan Indonesia dengan membawa satu hal yang sangat besar: harapan.

Hari ini, setelah melalui perjalanan panjang itu, saya kembali melihat hasil dari semua perjuangannya.

Sebuah amplop.

Gaji pertamanya.

Arifin kemudian berkata kepada saya:

“Bu, rasa syukur saya dengan gaji pertama ini sampai saya sujud syukur secara spontan. Bagi orang lain mungkin ini kecil, tetapi bagi saya uang ini besar. Ini pertama kalinya saya memegang uang sebesar ini.”

Saya terdiam.

Bukan karena nominalnya.

Tetapi karena saya tahu seberapa panjang perjalanan yang harus ia lalui untuk sampai pada titik ini.

Saya membayangkan seorang anak kecil yang tumbuh bersama neneknya yang tidak dapat melihat.

Saya membayangkan sebuah keluarga yang tercerai-berai.

Saya membayangkan kehidupan dengan segala keterbatasannya.

Dan hari ini, anak itu berdiri di negeri orang.

Bekerja.

Menerima hasil dari keringatnya sendiri.

Kemudian mengucap syukur.

Itulah yang membuat amplop sederhana tersebut menjadi begitu berarti.

Gaji pertama Arifin bukan sekadar uang.

Ia adalah simbol dari sebuah perjuangan.

Simbol dari air mata yang pernah jatuh.

Simbol dari doa-doa yang pernah dipanjatkan.

Simbol dari kepercayaan orang-orang yang pernah menolongnya.

Dan yang paling penting, simbol bahwa masa lalu yang penuh keterbatasan tidak harus menentukan masa depan seseorang.

Arifin San, saya bangga padamu.

Jangan pernah malu dengan masa lalumu.

Jangan pernah merasa rendah karena pernah hidup dalam keterbatasan.

Sebab justru dari masa lalu itulah kamu belajar menjadi kuat.

Ingat selalu orang-orang yang pernah hadir ketika hidupmu sedang sulit.

Orang-orang yang membantu ketika kamu belum memiliki apa-apa.

Orang-orang yang percaya kepadamu ketika mungkin kamu sendiri masih meragukan kemampuanmu.

Tetaplah rendah hati.

Tetap bekerja keras.

Tetap belajar.

Dan jangan pernah lupa dari mana kamu memulai perjalanan.

Karena suatu hari nanti, ketika kehidupanmu sudah jauh lebih baik, mungkin akan datang seseorang yang sedang berada di titik yang dahulu pernah kamu alami.

Saat itu, jadilah orang yang mampu mengulurkan tangan.

Jadilah orang yang mampu memberikan kesempatan.

Jadilah orang yang mampu mengatakan kepada orang lain:

“Jangan menyerah. Saya pernah berada di posisi itu.”

Sebab keberhasilan yang paling indah bukan hanya ketika kita berhasil keluar dari kesulitan.

Keberhasilan yang lebih bermakna adalah ketika setelah berhasil keluar dari kesulitan, kita masih memiliki hati untuk membantu orang lain keluar dari kesulitannya.

Gaji pertama mungkin hanya sebuah amplop bagi sebagian orang.

Tetapi bagi Arifin, amplop itu adalah bukti bahwa perjuangannya tidak sia-sia.

Dari seorang anak yang tumbuh dalam keterbatasan.

Dari rumah sederhana bersama seorang nenek yang tidak dapat melihat.

Dari keluarga yang tercerai-berai.

Dari hari-hari yang penuh ketidakpastian.

Dari air mata dan doa.

Kini langkahnya sampai di Jepang.

Bukan karena hidupnya selalu mudah.

Tetapi karena ia tidak berhenti berjalan.

🇮🇩 Dari Indonesia, membawa mimpi menuju Jepang. 🇯🇵

Berangkat melalui LPK SO LAUS Indonesia, Arifin melangkah menuju masa depan dengan membawa harapan dan doa.

Selamat atas gaji pertamamu, Arifin San.

Semoga ini menjadi awal dari rezeki yang lebih luas, kesuksesan yang lebih besar, dan kebahagiaan yang lebih panjang.

Kami bangga padamu.

Jangan pernah menyerah.

Tetap rendah hati.

Tetap ingat mereka yang pernah menolongmu.

Dan kelak, ketika kamu sudah berdiri lebih kuat, jadilah manusia yang juga mampu menolong orang lain.

Karena perjalanan hidup yang paling indah bukan tentang seberapa jauh kita pergi.

Tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang kita bawa sepanjang perjalanan.


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

ART Berita BP2MI Buminu Buruh migran Cerita Inspiratif CPMI HAM Jepang KP2MI LPK migran pekerja migran PMI Sastra SMK
Berita Terkait
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
SASTRA MIGRAN
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
1 Oct 2026
DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)
SASTRA MIGRAN
DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)
30 Sep 2026
RINDU YANG BERAT
SASTRA MIGRAN
RINDU YANG BERAT
29 Sep 2026