Suara Migran Nusantara Logo
SASTRA MIGRAN

DARI TKI YANG TAK BISA KOMPUTER, HINGGA JADI KOORDINATOR TIM INVESTIGASI DI SARIKAH ARAB (Kisah Nyata)

  Admin2 · 
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSgtpBjJ6t7NUejzaFZ1MhEeDuzhJIP9LxcU5PA83OJZUCd44jGSKknwJ8&s=10
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Oleh: Neni Rosinin Wahidin

Arab Saudi, hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Tepat 3 tahun aku bekerja di sini. Kontrakku habis. Masa cutiku 3 bulan, dan aku masih punya waktu satu minggu untuk meninggalkan pekerjaan ini.
‎
‎Perasaanku campur aduk. Antara ingin tetap tinggal karena masih butuh pekerjaan ini, dan di sisi lain sangat merindukan anak-anak dan keluarga di rumah.
‎
‎Dan akhirnya, di tanggal 25 Maret 2025, tiket penerbanganku pulang ke Indonesia tiba. Semua sudah beres. Jemputan ke bandara sudah menunggu di luar. Koper sudah di tangan. Rasanya berat sekali meninggalkan tempat ini. Tempat paling nyaman dan paling mengesankan dalam hidupku.
‎
‎Tiga tahun aku berjuang, bertahan, melawan ego dan semua keinginan mewah demi satu tujuan: ingin sukses.
‎
‎BERAWAL DARI NOL
‎
‎Mungkin tidak banyak orang yang akan berada di posisiku. Awal aku datang hanya sebagai Tenaga Kerja Indonesia di rumah majikan. Habis kontrak, pulang ke kantor, ganti majikan lagi, dan begitu seterusnya.
‎
‎Aku tidak mengerti komputer. Tidak mengerti bahasa. Tidak mengerti pekerjaan di dalam kantor sebesar Sarikah. Allah sangat sayang sama aku, Dia mengangkat derajatku sedikit demi sedikit.
‎
‎Sarikah mengajarkanku arti kesabaran, arti kerja keras, arti pengorbanan dan arti perjuangan yang sesungguhnya.
‎
‎Dengan mudahnya aku diangkat menjadi supervisor. Berapa bulan aku menjalani status itu dengan sangat tersiksa. Banyak yang mengucilkan, menghujat, dan menghina. Setiap malam aku menangis. Kenapa nasibku seperti ini padahal posisiku sudah jauh lebih tinggi dari orang lain. Tapi aku tetap sabar dan berdiri di kakiku sendiri.
‎
‎Awal aku bekerja sebagai trainer, sebagai guru penerjemah TKI. Aku seperti orang bodoh, dikucilkan staf lain. Tiga bulan di training aku kena masalah dan jatuh. Aku sempat berpikir, mending pulang saja ke Indonesia.
‎
‎Tapi Allah berkata: Bangkit. Di depan masih ada kebahagiaan untukmu.
‎
‎Besoknya aku dipanggil. Aku disuruh menjadi supervisor di pusat. Hari demi hari aku belajar. Ada komputer kosong aku coba belajar sedikit-sedikit. Aku bertanya kepada staf yang lebih pintar. Aku bantu pekerjaan mereka. Alhamdulillah aku bisa.
‎
‎Sembilan bulan menjadi supervisor, aku diangkat lagi menjadi koordinator. Aku dikasih kantor sendiri. Aku dipercaya menyelesaikan semua masalah antara majikan dan TKI. Semua permasalahan TKI, aku yang mengurus.
‎
‎Dan saat pergantian bos baru, aku diangkat lagi menjadi Tim Investigasi.
‎
‎PESAN YANG MENGUBAH HIDUPKU
‎
‎Di situ aku bertanya pada diriku sendiri, kok bisa perjalanan seburuk ini sampai naik ke atas?
‎
‎Aku pernah bilang kepada bosku, “Aku mungkin tidak bisa mengerjakan semua ini, aku hanya lulusan SMP, aku tidak paham.”
‎
‎Jawaban bosku sampai hari ini aku ingat:
‎
‎”Aku juga sama dari nol. Aku tidak bisa naik sampai saat ini kalau bukan karena aku ingin tahu, aku konsisten, aku percaya diri aku bisa. Meskipun kemampuanmu hanya 70%, dengan nekat, dengan keberanian, dengan belajar kamu bisa jadi bos. Di seluruh dunia ini tidak ada yang langsung 100%. Semua harus melewati 0 dulu, proses dulu, belajar dulu, gagal bangkit lagi, jatuh berdiri lagi. Itulah hidup yang sebenarnya.”
‎
‎”Kalau kamu merasa tidak bisa karena lulusan SMP itu salah. Mau lulusan SMP, SMA, kalau seseorang itu mau berani belajar dan kerja keras akan melebihi yang lulusan S1, S2, S3.”
‎
‎Mendengar itu aku terdiam. Aku bilang, oke aku jalanin.
‎
‎KOPER PENUH ILMU
‎
‎Aku duduk di kursi bandara tanggal 25 Maret 2025. Koper di samping, tiket di tangan. Dadaku sesak.
‎
‎Tiga tahun di Arab itu bukan waktu sebentar. Tiga tahun aku disuruh kuat padahal sering mau patah. Tiga tahun aku belajar bahwa air mata di negeri orang rasanya lebih asin.
‎
‎Aku pamit sama teman-teman TKI, sama staf kantor. Mereka peluk aku erat. Katanya, “Jangan lupa ya, kamu hebat.”
‎
‎Di pesawat, aku lihat awan dari jendela. Aku berbisik pelan, “Ya Allah, terima kasih.” Terima kasih karena dari yang tidak bisa komputer, tidak bisa bahasa, akhirnya aku bisa memimpin tim.
‎
‎Sampai di Indonesia, anak-anakku lari nyamperin. Pelukannya paling hangat sedunia. Aku sadar, semua capek, semua hinaan, semua malam nangis… lunas dibayar sama momen ini.
‎
‎Aku tidak bawa koper penuh uang. Tapi aku bawa koper penuh ilmu, penuh pengalaman, penuh rasa syukur. Dan itu cukup. Itu lebih dari cukup.
‎
‎Mereka tidak pernah membanding-bandingkan: kamu orang Indonesia, aku orang Arab. Mereka bilang: kamu sudah masuk lingkaran aku dan kamu keluarga.
‎
‎Mereka pernah bilang: kalau kamu mau belajar, kegagalan itu adalah jembatan untuk kamu bisa sukses. Aku masuk lumpur, lumpur itu sangat lengket, sangat bau. Tapi aku diangkat menjadi pasir putih.
‎
‎Jadi pesanku buat semua yang baca: jangan pernah merasa malu dengan pekerjaan kalian. Harusnya kalian bangga. Kita menghasilkan uang sendiri. Kita tidak minta-minta. Sakit kita obatin sendiri. Jatuh kita bangkit sendiri.
‎
‎Semua neraka di dunia ini hanya kita sendiri yang bisa mengubahnya menjadi surga.
‎
‎
‎KESABARAN AKAN MENCAPAI PUNCAK

‎Ndan, kamu sudah buktikan sendiri.
‎
‎Dulu kamu tidak bisa komputer. Tidak bisa bahasa. Hanya lulusan SMP. Dikucilkan, dihujat, dijatuhkan, bahkan diancam dipulangkan hari itu juga.
‎
‎Tapi kamu tidak balas. Kamu diam. Kamu sabar. Kamu kerja.
‎
‎Dan lihat sekarang. Dari TKI biasa, Allah angkat kamu jadi Supervisor, jadi Koordinator, sampai jadi Tim Investigasi di Sarikah Arab. Kantor sendiri. Dipercaya urus semua masalah besar.
‎
‎Itulah puncak dari kesabaran.
‎
‎Ingat 3 hal ini Ndan:
‎

  1. ‎Sabar itu bukan diam karena kalah. Sabar itu diam sambil terus bekerja.
    ‎Orang lain sibuk ngomongin kamu di pantry, kamu sibuk belajar Excel. Orang lain sibuk menjatuhkan, kamu sibuk menyelesaikan masalah TKI. Akhirnya siapa yang naik? Kamu.
    ‎
  2. ‎Puncak itu tidak pernah instan. Harus lewat lumpur dulu.
    ‎Bos kamu bilang benar: Tidak ada yang langsung 100%. Semua harus lewat 0 dulu. Kamu pernah masuk lumpur yang lengket, bau, dan menggelikan. Tapi karena sabar, lumpur itu Allah ubah jadi pasir putih.
    ‎
  3. ‎Sabar akan selalu lunas di bandara.
    ‎Kamu ingat tanggal 25 Maret 2025? Duduk di kursi bandara, koper di samping, tiket di tangan. Dada sesak. Semua hinaan, semua malam nangis, lunas dibayar dengan pelukan anak-anak di rumah. Itulah puncak.
    ‎
    ‎Jadi buat kamu yang lagi baca tulisan ini, yang mungkin hari ini lagi di posisi paling bawah, lagi dikucilkan, lagi diremehkan karena cuma TKI:
    ‎
    ‎Jangan malu. Jangan menyerah.
    ‎
    ‎Kita tidak minta-minta. Sakit kita obatin sendiri. Jatuh kita bangkit sendiri. Koper kita mungkin tidak penuh uang, tapi penuh ilmu dan pengalaman. Dan itu lebih dari cukup.
    ‎
    ‎Tidak harus kaya raya untuk bahagia. Sederhana tapi sabar itu jauh lebih menenangkan dari apapun.
    ‎
    ‎Semua neraka di dunia ini, hanya kesabaran kita sendiri yang bisa mengubahnya menjadi surga.

Aku bukan sarjana. Aku hanya TKI. Tapi kesabaran mengajarkanku semua pelajaran yang tidak pernah ada di bangku kuliah.

Sumber: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Arab Saudi ART Berita BP2MI Buminu Buruh migran CPMI HAM KP2MI migran Neni Rosini Wahidin pekerja migran PMI TKI Yaman
Berita Terkait
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
SASTRA MIGRAN
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
2 Oct 2026
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
SASTRA MIGRAN
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
1 Oct 2026
DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)
SASTRA MIGRAN
DENGAN BORGOL DI TANGAN, TAPI BEBAS DI HATI (KISAH NYATA)
30 Sep 2026