Dari Divonis Tak Tertolong hingga Pulang ke Tanah Air: Kisah Haru PMI Asal Madura yang Bangkit dari Koma di Taiwan
Kaohsiung, Taiwan – Sebuah kisah penuh haru dan harapan datang dari seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Madura, Jawa Timur, bernama Mansur. Setelah sempat dinyatakan dalam kondisi kritis dan nyaris kehilangan harapan hidup akibat serangan jantung, Mansur kini berangsur pulih dan bersiap kembali ke Indonesia untuk berkumpul dengan keluarganya.
Peristiwa itu bermula pada 20 Mei 2026. Saat sedang sarapan pagi, Mansur mendadak merasakan nyeri hebat di dada sebelah kiri. Rasa sakit yang terus meningkat membuatnya berusaha menghubungi seseorang untuk meminta pertolongan. Namun, sebelum bantuan tiba, ia sudah tidak sadarkan diri.
Rekan-rekannya segera membawa Mansur ke rumah sakit militer di Kaohsiung, Taiwan, yaitu 802 Military Hospital. Tim medis langsung memberikan penanganan intensif di ruang gawat darurat. Selama delapan hari, Mansur berada dalam kondisi koma dan belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
Situasi semakin menegangkan ketika pada 29 Mei dokter menyampaikan kepada keluarga bahwa kondisi pasien sudah sangat kritis. Menurut penuturan keluarga, tim medis saat itu bahkan menyatakan sudah tidak ada lagi upaya medis yang dapat dilakukan dan mempersiapkan pencabutan berbagai alat bantu yang terpasang.
Namun, di tengah suasana duka dan kepasrahan, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Sekitar satu jam setelah keputusan tersebut, Mansur tiba-tiba menggerakkan tangannya. Momen itu sontak membuat seluruh tenaga medis dan keluarga terkejut.
“Semua suster heran. Tangis syukur pecah saat itu. Kami percaya ini adalah kuasa Allah,” ujar Kris, istri Mansur, yang setia mendampingi suaminya selama masa perawatan.
Sejak saat itu, kondisi Mansur perlahan menunjukkan perkembangan positif. Hari demi hari kesehatannya terus membaik hingga akhirnya dokter memutuskan melakukan operasi pada bagian jantung yang mengalami gangguan. Operasi berjalan lancar dan memberikan hasil yang menggembirakan.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama pekerja migran, perwakilan dari Federasi Buruh Migran Nusantara Sarbumusi (F-Buminu Sarbumusi), LAZISNU, serta PCINU Kaohsiung turut menjenguk dan memberikan dukungan moral kepada Mansur selama masa pemulihan.
Kabar menggembirakan akhirnya datang pada Selasa, 23 Juni 2026. Setelah lebih dari satu bulan menjalani perawatan intensif, Mansur dinyatakan cukup sehat untuk keluar dari rumah sakit. Ia dijadwalkan menjalani pemeriksaan lanjutan pada 30 Juni sebelum kemudian dipersiapkan untuk kembali ke Indonesia pada awal Juli mendatang.
Selama masih berada di Kaohsiung, berbagai elemen komunitas pekerja migran Indonesia berkomitmen membantu kebutuhan Mansur hingga kondisinya benar-benar pulih.
Di balik perjuangannya melawan maut, terdapat kisah yang menyentuh hati. Saat mulai sadar dari koma, Mansur mengaku selama berada di antara sadar dan tidak sadar, yang terus terlintas dalam pikirannya hanyalah anak-anaknya.
“Dalam hati saya hanya berdoa, Ya Allah, pertemukan aku dengan anakku sebelum Engkau cabut nyawaku,” tutur Mansur sambil menahan tangis ketika menceritakan pengalaman tersebut kepada para sahabat yang menjenguknya.
Kisah Mansur menjadi pengingat tentang beratnya perjuangan para pekerja migran Indonesia yang berada jauh dari keluarga. Di tengah keterbatasan dan ujian hidup, solidaritas sesama perantau, dukungan keluarga, serta keyakinan kepada Tuhan menjadi sumber kekuatan yang tak ternilai.
Kini, doa terbaik terus mengalir untuk Mansur agar proses pemulihannya berjalan lancar dan ia dapat segera kembali berkumpul dengan keluarga tercinta di kampung halaman Madura, Jawa Timur. Sebuah perjalanan yang mengingatkan bahwa harapan terkadang datang ketika manusia merasa sudah berada di titik paling akhir.