Kisah PMI Sukses Bangun Usaha Setelah Pulang ke Tanah Air
LOMBOK TENGAH — Hamzah, 42 tahun, warga Desa Pengadang, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, kini menjadi pengusaha warung makan yang cukup sukses setelah 10 tahun bekerja sebagai PMI di Arab Saudi dan Malaysia. Dengan tabungan hasil bekerja keras di luar negeri, ia mendirikan warung makan yang kini mempekerjakan empat orang warga desanya. “Kalau saya tidak pergi dulu kerja di luar negeri, mungkin saya tidak punya modal untuk memulai usaha ini,” tuturnya.
Kisah Hamzah mencerminkan potensi besar PMI purna sebagai agen pembangunan ekonomi lokal yang selama ini belum optimal dimanfaatkan. Program Pemberdayaan PMI Purna yang diinisiasi KP2MI bekerja sama dengan BNI, BRI, dan UMKM center bertujuan mengubah remitansi dari sekadar konsumsi menjadi modal produktif. Kepala Dinas Tenaga Kerja NTB, Gede Putu, menyatakan dari ribuan PMI purna yang kembali setiap tahun, baru sekitar 15 persen yang berhasil mengembangkan usaha mandiri.
Penelitian LPPM Universitas Mataram menemukan PMI purna yang mendapatkan pendampingan bisnis terstruktur memiliki tingkat keberhasilan usaha empat kali lebih tinggi. Program Desa Migran Produktif (Desmigratif) yang digagas KP2MI berusaha mengintegrasikan layanan pendampingan wirausaha dengan ekosistem komunitas di desa. Para pegiat pemberdayaan PMI menilai program ini perlu diperkuat dari sisi anggaran, SDM pendamping, dan konektivitas dengan pasar yang lebih luas.