“Saya akan tetap bekerja atau orang lain akan mengambil pekerjaan saya” : Mengapa banyak pekerja Asia tetap bertahan di Teluk di tengah perang
Oleh Rohini Mohan, Debarshi Dasgupta, Karina Tehusijarana, dan Mara Cepeda
Bengaluru/New Delhi/Jakarta/Manila – Jutaan warga Asia yang bekerja di kawasan Teluk kini terjebak di tengah serangan drone dan rudal yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Hingga saat ini, konflik tersebut telah menewaskan sedikitnya 10 pekerja migran Asia dan melukai puluhan lainnya.
Sebagian pekerja mengatakan mereka masih merasa relatif aman, namun tetap cemas dengan meningkatnya intensitas konflik. Sementara itu, banyak yang sebenarnya ingin pulang, tetapi ragu meninggalkan pekerjaan mereka, pekerjaan yang memungkinkan para pekerja ini mengirimkan miliaran dolar remitansi ke negara asal setiap tahun.
Lebih dari 24 juta warga dari Asia Selatan dan Asia Tenggara bekerja di kawasan Teluk dan sekitarnya sebagai tenaga medis, akuntan, insinyur, pekerja konstruksi, pekerja rumah tangga, hingga petugas keamanan. Berasal dari Indonesia, Filipina, Bangladesh, Sri Lanka, dan India, mereka kini berada di tengah konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam tersebut beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya, dan memicu serangan balasan dari Iran.
Para pekerja Asia ini tidak hanya bekerja di negara-negara Arab di Teluk Persia, Bahrain, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab,.tetapi juga di Israel, Iran, dan Lebanon. Pemerintah di berbagai negara Asia kini menerima ribuan panggilan darurat dari warganya yang meminta dipulangkan. Namun sebagian besar pekerja migran dilaporkan tetap bertahan, berlindung di ruang bawah tanah dan tetap bekerja agar tidak kehilangan pekerjaan.
Salah satu korban adalah Mary Anne Velasquez de Vera, seorang perawat asal Filipina yang tewas terkena pecahan proyektil saat membantu pasiennya menuju tempat perlindungan bom di Tel Aviv, Israel.
Filipina sendiri memiliki lebih dari 2,4 juta pekerja di kawasan Timur Tengah, terutama di negara-negara Teluk, yang bekerja di sektor domestik, konstruksi, kesehatan, hingga perhotelan. Pemerintah Filipina telah mulai berkoordinasi dengan kedutaan besar di kawasan tersebut untuk memulangkan pekerja migran yang berada di wilayah berbahaya. Departemen Pekerja Migran Filipina menyatakan pada 5 Maret bahwa 299 warga Filipina yang terdampak krisis telah kembali dengan selamat ke Manila dari Dubai, tempat banyak dari mereka sempat berlindung sementara.
Para pekerja yang kembali itu mendapatkan bantuan keuangan, tempat tinggal sementara, layanan medis, serta dukungan psikososial atas perintah Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Bertahan atau pulang?
Namun bagi banyak warga Filipina yang masih berada di kawasan tersebut, kecemasan semakin meningkat saat mereka mempertimbangkan apakah harus tetap tinggal atau meminta dipulangkan.
Anna Santos, 43 tahun, pekerja rumah tangga Filipina di Abu Dhabi yang menggunakan nama samaran demi keamanan, mengatakan kepada The Straits Times bahwa ia telah berusaha menghubungi otoritas Filipina untuk meminta bantuan sejak konflik meningkat. “Saya ingin pulang ke rumah. Saya punya tiga anak, dan saya sangat takut konflik ini akan semakin buruk. Dari jendela rumah saya bisa melihat drone dan rudal melintas,” katanya.
Pemerintah Filipina telah mempublikasikan hotline dan alamat email bagi warga Filipina di Timur Tengah yang ingin dipulangkan. Namun hal itu belum sepenuhnya meredakan kekhawatirannya. “Saya juga tidak yakin apakah majikan saya akan mengizinkan saya pulang,” tambahnya.
Tidur di tempat parkir
Bibin Lal, 47 tahun, seorang tukang pipa di kota Manama, Bahrain, yang berasal dari negara bagian Kerala di India, telah menghabiskan satu minggu tidur di tempat parkir bawah tanah gedung apartemen delapan lantai yang ia kelola, bersama para penghuni yang berlindung di sana setiap malam.
Gedung itu berada dekat pelabuhan dan beberapa instalasi militer Amerika Serikat yang dilaporkan menjadi target Iran. “Gedung ini bergetar setiap kali ada bom meledak di dekatnya,” kata Lal.
Setelah bekerja di berbagai negara Teluk selama 25 tahun dan enam tahun di Bahrain, ia mengatakan perang adalah kesulitan paling tak terduga yang pernah ia alami. Namun meski banyak keluarga ekspatriat di gedungnya sudah meninggalkan tempat itu, Lal memilih tetap bertahan. “Keluarga saya di rumah terus menonton berita dan panik. Mereka terus menelepon agar saya pulang. Awalnya saya juga takut, tapi sekarang saya merasa baik-baik saja. “Saya akan tetap bekerja, kalau tidak orang lain yang akan mengambil pekerjaan saya,” katanya.
Tempat perlindungan jauh dari rumah
Rhea Abraham, 37 tahun, peneliti keamanan asal Kerala yang tinggal di Bahrain bersama keluarganya, mengatakan pemerintah Bahrain telah mengarahkan warga untuk berlindung di sekolah, pusat perbelanjaan, atau ruang bawah tanah gedung. Namun ia mengatakan fasilitas perlindungan tersebut tidak selalu praktis. “Negara-negara Teluk tidak dibangun untuk perang, mereka dipasarkan sebagai tempat paling aman di dunia. Jadi bahkan tempat perlindungan yang disediakan tidak berada dekat rumah kami seperti di Israel atau Lebanon,” katanya.
“Tempat perlindungan bom terdekat bagi saya berjarak 15 menit dengan mobil, yang tidak realistis saat serangan terjadi.” Ia menambahkan bahwa sebagian besar pekerja migran tinggal di apartemen di dalam kota, berbeda dengan warga lokal yang tinggal di rumah di pinggiran. “Pekerja konstruksi dan pekerja rumah tangga yang hidup di asrama sempit bahkan tidak punya pilihan lain selain berlari menjauh dari lokasi serangan,” ujarnya.
Ribuan warga India terjebak
Jumlah warga India di luar negeri terbesar sekitar sembilan juta orang, berada di Timur Tengah. Kawasan Teluk juga merupakan tujuan utama perjalanan warga India. Sekitar 12.000 warga India yang terjebak di negara-negara Teluk, sebagian besar di Uni Emirat Arab, telah meminta bantuan pemerintah India untuk dipulangkan.
Perdana Menteri India Narendra Modi menyatakan bahwa kabinetnya telah menginstruksikan semua kementerian untuk mengambil langkah yang diperlukan guna membantu warga India yang terdampak situasi tersebut.
Harga tiket melonjak
Namun bagi pekerja migran dengan upah rendah, pulang bukanlah pilihan mudah. Harga tiket pesawat melonjak tajam sehingga hampir mustahil bagi pekerja rumah tangga atau pekerja migran berpenghasilan rendah untuk membelinya.
Eni Yuliana, 47 tahun, pekerja rumah tangga asal Indonesia di Abu Dhabi, mengatakan ia telah mendengar suara ledakan sejak 1 Maret. “Awalnya saya kira suara knalpot mobil, tapi majikan saya bilang itu bom,” katanya.
Eni telah bekerja untuk keluarga Indonesia di Abu Dhabi selama 13 tahun. Ia mengatakan pemerintah setempat telah meminta pekerja kantor dan pelajar untuk tetap di rumah. “Jalan di depan rumah sekarang sangat sepi, hampir seperti saat pandemi Covid,” katanya.
Menurut data Kementerian Luar Negeri Indonesia, hingga 28 Februari terdapat 519.042 warga Indonesia yang tinggal di Timur Tengah, belum termasuk wisatawan atau pelintas wilayah.
Pada 1 Maret, kementerian tersebut mengimbau warga Indonesia di kawasan itu untuk tetap waspada dan menjaga komunikasi dengan perwakilan Indonesia terdekat. Warga Indonesia yang berencana bepergian ke kawasan Teluk juga diminta menunda perjalanan mereka.
Pada 4 Maret, Kedutaan Besar Indonesia di Teheran mengumumkan rencana evakuasi bertahap bagi warga Indonesia di Iran, meskipun kedutaan tetap beroperasi normal.
Tetap bekerja
Sebagian pekerja migran Indonesia justru terlihat cukup tenang menghadapi situasi ini. Nuril Yuda Pratama, 28 tahun, yang bekerja di bagian housekeeping sebuah hotel di Doha, Qatar, mengatakan pemerintah Qatar mengirimkan peringatan agar warga tetap berada di dalam rumah pada 28 Februari. “Mereka juga meminta kami menjauh dari area pangkalan militer Amerika,” katanya.
Namun ia mengatakan sebagian pekerja migran justru keluar untuk merekam video ketika rudal melintas. “Kelihatannya seperti kembang api, jadi seperti menonton pertunjukan,” katanya.
Dampak terhadap remitansi
Konflik yang meluas di Timur Tengah juga berpotensi berdampak besar pada ekonomi negara-negara pengirim pekerja migran.Di Bangladesh, misalnya, sekitar 7–8 juta warga bekerja di enam negara Teluk dan mengirimkan US$15–17 miliar setiap tahun, sekitar setengah dari total remitansi negara tersebut. Kementerian Luar Negeri Bangladesh mengonfirmasi bahwa dua warga Bangladesh tewas akibat serpihan rudal yang dicegat: Saleh Ahmed, sopir truk di Ajman, Uni Emirat Arab, dan S.M. Tareq, pekerja di kawasan industri Salman di Bahrain.
Bagi Anwar Hossain, 45 tahun, warga Bangladesh yang bekerja di Lebanon, kekhawatiran terbesar saat ini adalah apakah ia masih akan menerima gajinya sebesar US$600 per bulan. Setelah tinggal lebih dari 20 tahun di Lebanon, ia mulai mempertimbangkan untuk pulang secara permanen ke kampung halamannya di distrik Noakhali, Bangladesh.“Saya semakin tua, dan konflik ini membuat saya khawatir,” katanya.