Suara Migran Nusantara Logo
BERITA

KP2MI Dorong PMI Jadi Penggerak Ekonomi Desa, Brain Circulation Jadi Strategi Pemberdayaan

  Admin2 · 
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQTr2rD_a4VhQOwZmWUE-73w5ILclIDlqJjetFgw4oODMDNpssCu1c65Xg&s=10
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQTr2rD_a4VhQOwZmWUE-73w5ILclIDlqJjetFgw4oODMDNpssCu1c65Xg&s=10

Jakarta — Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mendorong pekerja migran Indonesia (PMI) yang kembali ke Tanah Air tidak berhenti sebagai penerima manfaat remitansi, tetapi dapat menjadi penggerak ekonomi di daerah asal, termasuk di tingkat desa.

Gagasan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pemberdayaan KP2MI Muh. Fachri dalam kegiatan diskusi dan penandatanganan kerja sama kajian dampak remitansi PMI di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Fachri mengatakan pengalaman PMI selama bekerja di luar negeri dapat menjadi modal pembangunan apabila dibawa kembali dan dikembangkan di daerah asal. Menurutnya, pekerja migran memiliki kesempatan memperoleh pengalaman kerja, keterampilan, pengetahuan mengenai pola kerja serta pemahaman mengenai lingkungan bisnis di negara penempatan.

“Ketika kembali, pengalamannya di luar negeri itu menjadi pengalaman global yang bisa menjadi modalitas untuk pembangunan di wilayah desa daerah asal,” kata Fachri.

Gagasan tersebut ditempatkan KP2MI dalam kerangka brain circulation, yakni konsep yang mendorong terjadinya sirkulasi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman antara negara penempatan dan Indonesia.

Melalui konsep tersebut, PMI tidak diposisikan hanya sebagai tenaga kerja yang berangkat untuk memperoleh penghasilan di luar negeri, tetapi juga sebagai talenta yang dapat membawa pulang pengetahuan dan pengalaman setelah menyelesaikan masa kerja.

Dari Remitansi Menuju Modal Pembangunan

Selama ini, salah satu kontribusi paling terlihat dari migrasi kerja adalah remitansi yang dikirimkan PMI kepada keluarga di Indonesia.

Namun, Fachri mendorong agar manfaat migrasi kerja tidak berhenti pada aliran dana tersebut. Ketika PMI kembali ke daerah asal, pengalaman yang diperoleh selama bekerja di luar negeri dapat dikembangkan menjadi modal untuk membangun usaha maupun menciptakan aktivitas ekonomi baru.

KP2MI menargetkan konsep brain circulation tersebut dapat melahirkan wirausahawan baru dari kalangan purna PMI. Dengan demikian, pengalaman bekerja di luar negeri dapat ditransformasikan menjadi kemampuan menciptakan usaha dan lapangan pekerjaan di daerah asal.

Pendekatan tersebut membuat keberhasilan program migrasi kerja tidak semata-mata diukur dari jumlah PMI yang ditempatkan maupun besarnya remitansi, tetapi juga dari apa yang terjadi setelah pekerja kembali ke Indonesia.

Seorang purna PMI yang membuka usaha, mempekerjakan masyarakat sekitar, mentransfer keterampilan kepada generasi muda atau membangun jaringan bisnis baru di desa dapat menjadi bagian dari mata rantai ekonomi yang lebih panjang.

Purna PMI sebagai Pembawa Pengetahuan Global

Fachri melihat pengalaman kerja di luar negeri sebagai bentuk modal pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan daerah.

PMI yang bekerja di negara dengan sistem industri dan tata kelola bisnis yang berbeda berpotensi memperoleh pengalaman mengenai disiplin kerja, teknologi, standar pelayanan, manajemen usaha maupun budaya kerja.

Ketika kembali ke Indonesia, pengetahuan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi daerah masing-masing.

Konsep tersebut sejalan dengan arah kebijakan KP2MI yang menempatkan brain circulation sebagai bagian dari transformasi pekerja migran menjadi talenta global. Pemerintah sebelumnya menjelaskan bahwa pekerja migran diharapkan memperoleh kompetensi, mental, pengalaman dan etos kerja berstandar global yang kemudian dapat berkontribusi terhadap pembangunan nasional ketika kembali ke Tanah Air.

Menteri P2MI Mukhtarudin juga menyampaikan bahwa terdapat purna PMI yang setelah menyelesaikan kontrak kerja di luar negeri kembali ke Indonesia dan membangun usaha mikro atau melanjutkan karier dengan posisi yang lebih baik.

Desa Menjadi Titik Penting Pemberdayaan

Dorongan menjadikan PMI sebagai penggerak ekonomi desa juga menempatkan pemerintah daerah dan pemerintah desa dalam posisi strategis.

Desa tidak hanya menjadi wilayah asal pekerja migran, tetapi dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kembali keterampilan, modal dan pengalaman yang diperoleh PMI selama bekerja di luar negeri.

Dalam konteks ini, program pemberdayaan purna PMI perlu diarahkan agar memiliki keterkaitan dengan potensi ekonomi lokal. Pengalaman seorang PMI di bidang manufaktur, misalnya, dapat dikembangkan menjadi usaha produksi atau pelatihan keterampilan. Demikian pula pengalaman di bidang hospitality, kuliner, perawatan, konstruksi maupun sektor lainnya dapat menjadi basis pengembangan usaha sesuai kebutuhan daerah.

Dengan pendekatan tersebut, purna PMI dapat berperan sebagai pelaku ekonomi, bukan hanya sebagai penerima program bantuan.

KP2MI sebelumnya juga mendorong penguatan Desa Migran Emas sebagai bagian dari upaya menghadirkan pelindungan dan pemberdayaan PMI hingga tingkat desa. Program tersebut diarahkan agar pemerintah daerah dan pemerintah desa memiliki peran lebih besar dalam ekosistem migrasi kerja.

Brain Circulation dan Tantangan Implementasi

Meski gagasan brain circulation menawarkan perspektif baru, implementasinya membutuhkan ekosistem yang memungkinkan pengetahuan dan modal purna PMI benar-benar berkembang.

Pengalaman kerja di luar negeri tidak otomatis berubah menjadi usaha produktif ketika seorang PMI pulang. Diperlukan akses terhadap pembiayaan, pendampingan usaha, pelatihan kewirausahaan, akses pasar, teknologi serta jaringan bisnis.

Karena itu, pemberdayaan purna PMI tidak cukup dilakukan melalui pelatihan sesaat. Program perlu memiliki kesinambungan mulai dari pemetaan kompetensi PMI, perencanaan kepulangan, pendampingan usaha hingga akses pasar.

Dalam konteks tersebut, kajian mengenai dampak remitansi yang dilakukan KP2MI bersama Women’s World Banking menjadi relevan. Kajian tersebut tidak hanya melihat besarnya remitansi, tetapi juga bagaimana dana yang diterima keluarga PMI memberikan dampak terhadap ketahanan ekonomi keluarga dan pembangunan daerah.

Jika remitansi merupakan hasil finansial dari migrasi kerja, maka keterampilan, pengalaman dan pengetahuan yang dibawa pulang dapat dipandang sebagai modal manusia yang berpotensi menghasilkan dampak ekonomi berikutnya.

Dari Desa Pengirim PMI Menjadi Desa Penggerak Ekonomi

Perspektif tersebut pada akhirnya mengubah cara melihat desa yang selama ini dikenal sebagai kantong PMI.

Desa pengirim PMI tidak harus selamanya dipandang sebagai wilayah yang kehilangan tenaga produktif karena penduduknya bekerja ke luar negeri. Dengan sistem pemberdayaan yang tepat, desa tersebut justru dapat menjadi tempat kembalinya talenta dengan pengalaman global.

PMI berangkat membawa tenaga dan keterampilan. Mereka bekerja, belajar dan memperoleh pengalaman di negara tujuan. Ketika kembali, pengalaman tersebut diharapkan berputar kembali ke desa melalui usaha, transfer pengetahuan dan penciptaan lapangan kerja.

Di situlah inti brain circulation yang didorong KP2MI: migrasi kerja tidak berhenti pada keberangkatan dan pengiriman remitansi, tetapi membentuk siklus pengetahuan dan pengalaman yang kembali memberikan manfaat bagi masyarakat di daerah asal.

Fachri menegaskan bahwa PMI dan purna PMI perlu terus meningkatkan kompetensi dan menjadi subjek aktif dalam agenda literasi serta pemberdayaan. KP2MI menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun pekerja migran yang mandiri dan kompeten.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan migrasi kerja dapat diperluas. Bukan hanya berapa banyak PMI yang ditempatkan atau berapa besar remitansi yang dikirim, tetapi juga berapa banyak pengetahuan yang kembali, berapa banyak usaha yang tumbuh, dan berapa banyak lapangan kerja yang tercipta di daerah asal.

Jika gagasan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam program yang berkelanjutan, PMI tidak hanya menjadi bagian dari arus tenaga kerja global, tetapi juga dapat menjadi salah satu sumber daya manusia yang membawa pengalaman global kembali untuk memperkuat ekonomi desa dan daerah asal.

Berita BP2MI Buminu Buruh migran CPMI HAM iran Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia KP2MI Menteri P2MI migran pekerja migran PMI
Berita Terkait
Apa Syarat Sertifikasi untuk Bekerja ke Luar Negeri? Calon PMI Perlu Memenuhi Standar Kompetensi
BERITA
Apa Syarat Sertifikasi untuk Bekerja ke Luar Negeri? Calon PMI Perlu Memenuhi Standar Kompetensi
11 Oct 2026
KP2MI Perluas Pasar Kerja PMI ke Asia, Eropa, dan Timur Tengah, Bidik Sektor Formal dan Tenaga Terampil
BERITA
KP2MI Perluas Pasar Kerja PMI ke Asia, Eropa, dan Timur Tengah, Bidik Sektor Formal dan Tenaga Terampil
11 Oct 2026
Ganjar Hidayat Desak Moratorium PMI ke Timur Tengah Dicabut: Buka Bertahap, Mulai dari Pekerja Laki-Laki
BERITA
Ganjar Hidayat Desak Moratorium PMI ke Timur Tengah Dicabut: Buka Bertahap, Mulai dari Pekerja Laki-Laki
11 Oct 2026