Suara Migran Nusantara Logo
BERITA

Konflik Yaman Picu Perpindahan Penduduk Besar-besaran, 112 Ribu Orang Mengungsi dalam Dua Pekan

  Admin2 · 
Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRvBqJs6JVzyX2eD1JcMIGqEhcVFUEQoKldMXsbBWl060B_cfzDvriOo1o&s=10
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Jenewa — Eskalasi konflik di wilayah pesisir barat Yaman memicu gelombang perpindahan penduduk dalam skala besar. Organisasi Internasional untuk Migrasi atau International Organization for Migration (IOM) melaporkan sedikitnya 112.818 orang telah mengungsi di dalam Yaman sejak eskalasi konflik meningkat, dengan sebagian besar perpindahan terjadi dalam dua pekan terakhir.

Pada saat yang sama, hampir 3.000 orang telah menyeberangi laut menuju Djibouti dalam waktu kurang dari satu pekan. Sebagian besar merupakan keluarga Yaman yang meninggalkan rumah akibat meningkatnya pertempuran dan mencari tempat yang lebih aman.

Data IOM melalui Displacement Tracking Matrix (DTM) menunjukkan bahwa hingga 16 September 2026, sebanyak 109.356 orang tercatat mengungsi hanya dalam periode 1–16 September. Jika digabungkan dengan perpindahan sejak eskalasi konflik dimulai pada Juni 2026, jumlah kumulatif mencapai 112.818 orang atau sekitar 18.803 rumah tangga.

IOM menyebut sebagian besar pengungsi memilih berpindah ke wilayah yang relatif dekat dengan tempat tinggal mereka. Pilihan tersebut antara lain berkaitan dengan harapan bahwa mereka masih dapat kembali ketika kondisi keamanan memungkinkan.

Taiz dan Lahj Menjadi Wilayah Terdampak Terbesar

Perpindahan penduduk paling besar tercatat di Provinsi Taiz dan Lahj. Berdasarkan pembaruan DTM IOM hingga 16 September, Taiz menampung sekitar 64.314 orang atau 57 persen dari total pengungsi yang tercatat.

Lahj berada di urutan berikutnya dengan sekitar 30.132 orang atau 27 persen. Perpindahan juga tercatat di Al Hodeidah sebanyak 8.244 orang, Aden 5.688 orang, Abyan 3.324 orang, Hadramawt 660 orang, dan Ma’rib 456 orang.

Di Taiz, Distrik Jabal Habashi menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi perpindahan terbesar, dengan lebih dari 21.000 orang tercatat mengungsi. Distrik Al-Ma’afer juga mencatat sekitar 12.600 orang yang berpindah akibat eskalasi konflik.

Besarnya angka tersebut menunjukkan cepatnya perubahan kondisi kemanusiaan di wilayah konflik. IOM menegaskan data tersebut masih dinamis karena tim DTM terus melakukan pendataan dan memperbarui angka perpindahan berdasarkan informasi lapangan.

Hampir 3.000 Orang Menyeberang ke Djibouti

Gelombang perpindahan tidak hanya terjadi di dalam wilayah Yaman. Dalam waktu kurang dari satu pekan, hampir 3.000 orang tiba di Djibouti setelah melakukan perjalanan laut melintasi kawasan sekitar Teluk Aden dan Selat Bab el-Mandeb.

UNHCR menyatakan para pendatang memasuki Djibouti melalui empat titik resmi setelah melakukan perjalanan menggunakan kapal-kapal kecil. Sebagian keluarga tiba dalam kondisi membawa sangat sedikit barang, sementara sejumlah orang dilaporkan datang tanpa seluruh anggota keluarganya.

Para pengungsi yang tiba di Djibouti menceritakan bahwa mereka meninggalkan rumah setelah menghadapi pemboman, tembakan artileri dan baku tembak. Bagi sejumlah keluarga, keputusan meninggalkan Yaman dilakukan dalam waktu singkat karena keselamatan menjadi persoalan yang mendesak.

UNHCR juga mencatat adanya beberapa gelombang kedatangan. Pada awalnya nelayan tiba bersama keluarga mereka, kemudian disusul kelompok yang membawa sebagian barang pribadi. Ada pula pengungsi yang datang membawa barang seperti panel surya dan ternak.

Krisis Pengungsi Menekan Kapasitas Djibouti

Kedatangan ribuan pengungsi dalam waktu singkat menambah tekanan terhadap kapasitas Djibouti sebagai negara penerima.

UNHCR menyebut kebutuhan paling mendesak mencakup makanan, air, tempat tinggal, layanan kesehatan dan perlindungan, khususnya bagi perempuan, anak-anak dan kelompok rentan lainnya. Fasilitas air, sanitasi, perumahan dan pendidikan di masyarakat penerima juga menghadapi tekanan akibat bertambahnya jumlah penduduk yang membutuhkan layanan.

Situasi tersebut membuat respons kemanusiaan tidak hanya menjadi persoalan bagi pemerintah Djibouti. UNHCR dan mitra kemanusiaan menilai dukungan internasional diperlukan karena kecepatan kedatangan pengungsi mulai melampaui kapasitas lokal.

Persoalan juga diperumit oleh kondisi perjalanan. UNHCR melaporkan masih ada orang yang berusaha meninggalkan Yaman, tetapi keterbatasan bahan bakar membuat sejumlah kapal tidak dapat melakukan perjalanan menuju Djibouti.

Dengan kata lain, jumlah orang yang telah tiba di Djibouti belum tentu menggambarkan seluruh penduduk yang ingin meninggalkan wilayah konflik.

Keluarga Menjadi Bagian Besar dari Arus Pengungsian

Gelombang pengungsian kali ini memiliki dimensi keluarga yang kuat. Banyak orang tidak meninggalkan Yaman seorang diri, melainkan membawa pasangan, anak dan anggota keluarga lainnya.

UNHCR melaporkan bahwa sejumlah pendatang bahkan tiba tanpa sebagian anggota keluarga mereka. Kondisi tersebut menimbulkan persoalan perlindungan tambahan, terutama terkait pencarian anggota keluarga yang terpisah selama proses pelarian.

Sebagian pengungsi juga bukan pertama kali mengalami perpindahan. UNHCR mencatat terdapat orang yang kembali meninggalkan Yaman setelah sebelumnya mengungsi dalam krisis pada 2015.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana konflik berkepanjangan dapat menghasilkan siklus perpindahan berulang. Keluarga yang sebelumnya telah kehilangan tempat tinggal atau sumber penghidupan kembali menghadapi situasi serupa ketika kekerasan meningkat.

Layanan Kesehatan Yaman Ikut Tertekan

Eskalasi konflik juga memberikan tekanan terhadap sistem kesehatan Yaman.

Dalam briefing PBB di Jenewa, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan bahwa hanya sekitar 6 persen fasilitas kesehatan di Yaman yang memiliki paket layanan trauma lengkap. Konflik bersenjata meningkatkan kebutuhan terhadap layanan trauma, sementara akses menuju fasilitas kesehatan dan jalur rujukan di sejumlah wilayah pesisir barat masih menjadi persoalan.

WHO juga menyatakan kolera masih ditemukan di Yaman meskipun kasusnya telah menurun dari puncaknya pada 2025. Dalam situasi perpindahan penduduk yang besar, pengawasan penyakit menjadi semakin sulit dilakukan.

Bagi masyarakat yang mengungsi, persoalan kesehatan tidak berhenti pada luka akibat konflik. Keterbatasan air bersih, sanitasi, tempat tinggal dan akses terhadap layanan medis dapat meningkatkan risiko penyakit dan memperburuk kondisi kelompok rentan.

Krisis Kemanusiaan yang Berlapis

Gelombang pengungsian terbaru terjadi ketika Yaman masih menghadapi krisis kemanusiaan yang panjang akibat konflik sebelumnya.

PBB menyebut sekitar 22 juta orang di Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan. Eskalasi baru kemudian menambah jumlah masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal, makanan, air bersih, layanan kesehatan dan perlindungan.

Kepala Misi IOM di Yaman Abdusattor Esoev mengatakan sumber daya kemanusiaan yang tersedia sangat terbatas sementara kebutuhan meningkat dengan cepat.

Masalah lain adalah tidak seluruh wilayah yang terdampak dapat dijangkau oleh organisasi kemanusiaan. Keterbatasan akses membuat proses pendataan, pengiriman bantuan dan pemantauan kondisi pengungsi menjadi lebih sulit.

Karena itu, angka 112.818 pengungsi internal harus dibaca sebagai data yang terus bergerak, bukan angka final.

Bab al-Mandeb dan Dimensi Regional

Perpindahan penduduk Yaman juga berlangsung di kawasan yang memiliki posisi geografis strategis. Pesisir barat Yaman menghadap Laut Merah dan kawasan Selat Bab el-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Eskalasi konflik di wilayah tersebut karena itu memiliki dampak yang lebih luas daripada persoalan perpindahan penduduk semata. Pergerakan masyarakat menuju Djibouti menunjukkan bahwa konflik domestik Yaman juga memiliki konsekuensi lintas batas.

Namun, bagi keluarga yang meninggalkan rumah, persoalan geopolitik tersebut berada di belakang kebutuhan yang paling mendasar: menemukan tempat yang aman.

Mereka yang masih berada di dalam Yaman sebagian memilih berpindah tidak terlalu jauh dari rumah dengan harapan dapat kembali. Sementara mereka yang menyeberangi laut mengambil risiko perjalanan menggunakan kapal kecil karena melihat keselamatan sebagai kebutuhan yang lebih mendesak.

Angka yang Menggambarkan Krisis Manusia

Dalam waktu sekitar dua pekan, lebih dari 112.000 orang kehilangan tempat tinggal atau berpindah dari lokasi asalnya akibat eskalasi konflik di wilayah pesisir barat Yaman. Hampir 3.000 orang lainnya telah menyeberang menuju Djibouti dalam waktu kurang dari satu pekan.

Angka tersebut menggambarkan kecepatan perubahan situasi kemanusiaan di Yaman.

Di balik setiap angka terdapat keluarga yang meninggalkan rumah, anak-anak yang kehilangan akses pendidikan, pekerja yang kehilangan sumber penghasilan, serta masyarakat yang harus bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Bagi lembaga kemanusiaan, tantangannya kini bukan hanya mencatat berapa banyak orang yang berpindah, tetapi memastikan bahwa mereka memperoleh tempat tinggal, makanan, air, kesehatan dan perlindungan.

Sementara itu, perkembangan di Djibouti menunjukkan bahwa dampak konflik Yaman telah melampaui batas wilayah negara. Ketika ribuan keluarga menyeberangi laut untuk mencari keselamatan, negara tetangga ikut menghadapi konsekuensi kemanusiaan dari konflik yang belum menunjukkan penyelesaian.

Yaman kembali memperlihatkan bagaimana konflik bersenjata dapat mengubah peta kehidupan masyarakat hanya dalam hitungan hari: rumah ditinggalkan, keluarga berpindah, laut diseberangi, dan negara tetangga harus bersiap menerima gelombang pengungsi baru.


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

ART Berita BP2MI Buminu Buruh migran CPMI HAM KP2MI migran Migrasi nelayan PBB pekerja migran PMI Yaman
Berita Terkait
Tedi Yusnanda N: Permen PMI Perseorangan Harus Dikawal, Jangan Sampai Membuka Celah Baru TPPO
BERITA
Tedi Yusnanda N: Permen PMI Perseorangan Harus Dikawal, Jangan Sampai Membuka Celah Baru TPPO
5 Oct 2026
Sumber: https://polije.ac.id/wp-content/uploads/2026/10/KP2MI-Gandeng-Polije-Buka-Pelatihan-SMK-Go-Global-Plantation-Worker-Sawit-1024x682.jpeg
BERITA
KP2MI dan Polije Buka Pelatihan SMK Go Global, 49 Peserta Disiapkan Jadi Plantation Worker Sawit
5 Oct 2026
Sumber: https://tribratanews.polri.go.id/web/image/blog.post/88401/image
BERITA
Polres Nunukan Perkuat Edukasi Dokumen Resmi bagi Pekerja Migran
5 Oct 2026