Gus Yahya Sebut Sarbumusi Bisa Jadi Inkubator Solidaritas Bangsa”
Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menilai organisasi buruh memiliki potensi strategis dalam membangun persaudaraan sosial di tengah masyarakat. Menurutnya, wadah seperti Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai latar belakang pekerja sekaligus menumbuhkan solidaritas kebangsaan.
Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya saat menghadiri kegiatan buka puasa bersama sekaligus penyaluran donasi Ramadan yang digelar Sarbumusi di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Dalam sambutannya, Gus Yahya menegaskan bahwa kehidupan sosial pada dasarnya merupakan wahana untuk membangun persaudaraan antarmanusia. Ia menilai nilai tersebut juga menjadi inti ajaran Islam.
“Sesungguhnya kehidupan ini adalah wahana persaudaraan. Orang-orang dipertemukan untuk membangun persaudaraan. Bahkan Islam sebagai agama juga merupakan wahana persaudaraan,” ujar Gus Yahya di hadapan para pengurus dan anggota Sarbumusi.
Menurutnya, persaudaraan tidak cukup dipahami sebagai konsep normatif semata. Ia harus difasilitasi melalui ruang-ruang sosial yang memungkinkan orang saling mengenal, bekerja sama, dan saling menguatkan dalam kehidupan bersama.
Dalam konteks itu, Gus Yahya menilai Sarbumusi memiliki posisi penting sebagai organisasi buruh yang menghimpun pekerja dari beragam profesi dan sektor.
“Para pekerja dari berbagai profesi—baik karyawan, guru, maupun pekerja sektor lain—memiliki kesamaan pengalaman dalam dunia kerja,” katanya.
Kesamaan pengalaman tersebut, lanjut Gus Yahya, dapat melahirkan rasa senasib sepenanggungan. Nilai inilah yang menurutnya menjadi salah satu fondasi historis terbentuknya bangsa Indonesia.
“Bangsa Indonesia bisa menjadi satu bangsa karena adanya rasa senasib sepenanggungan. Karena itu Sarbumusi dan warganya bisa menjadi inkubasi persaudaraan di antara kita,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa ekspresi persaudaraan yang paling nyata bukan hanya sekadar saling menyapa atau bertemu, tetapi saling berdiri dan menopang satu sama lain dalam kehidupan sosial.
“Ekspresi persahabatan yang paling indah dan paling praktis adalah saling berdiri bersama. Kita saling menopang untuk membangun kebersamaan di antara kita semua,” tuturnya.
Kegiatan buka puasa bersama tersebut juga dirangkai dengan penyaluran donasi Ramadan bagi pekerja rentan dan anak yatim sebagai bagian dari program sosial Sarbumusi selama bulan suci. Program ini menjadi bentuk nyata solidaritas sosial yang diharapkan dapat memperkuat nilai persaudaraan di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan semacam ini, Sarbumusi diharapkan tidak hanya menjadi organisasi perjuangan hak-hak buruh, tetapi juga ruang pembentukan solidaritas sosial yang lebih luas di lingkungan warga Nahdlatul Ulama dan masyarakat Indonesia secara umum.