Suara Migran Nusantara Logo
OPINI

Korupsinikus: “Negara Amat Bangga pada Devisa, Namun Jangan Tanya Nasib Pengirimnya”

  Admin2 · 
Korupsinikus: “Negara Amat Bangga pada Devisa, Namun Jangan Tanya Nasib Pengirimnya”
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Esai Kontemplatif: Harri Safiari

Kembali terjadi di Negeri Konoha Raya (NKR).

Akhir-akhir ini negara, dalam berbagai kesempatan, kerap mengelu-elukan betapa membanggakannya devisa yang dari tahun ke tahun diperoleh dari para Pekerja Migran Indonesia (PMI) di berbagai negara.

Pidato demi pidato terdengar optimistis.
Grafik pertumbuhan ditampilkan penuh semangat.
Angka remitansi disebut dengan nada patriotis, seolah seluruh persoalan bangsa dapat selesai hanya dengan tepuk tangan seminar dan layar presentasi berwarna biru muda.

Namun seperti biasa, sosok Korupsinikus—yang muncul ke NKR karena panggilan nurani yang bahkan dirinya sendiri kadang tak terlalu memahami tugas resminya—kembali bereaksi saat menyaksikan sejumlah pejabat di berbagai siaran televisi nasional mengumbar derasnya devisa dari para PMI.

“Mengapresiasi masuknya devisa dari para PMI boleh-boleh saja. Tapi ingat juga nasib anak-anak, suami, maupun istri yang ditinggalkan. Rata-rata kondisi sosial, kejiwaan, bahkan ekonominya tidak seindah yang dibayangkan,” kata Korupsinikus kepada para pewarta.

Lalu ia melanjutkan dengan nada khas antara prihatin dan sedikit pasrah:

“Negeri ini kadang terlalu sibuk menghitung dolar yang masuk, sampai lupa menghitung air mata yang ikut terkirim bersama transferannya.”

Para pewarta pun mendadak terdiam.
Paparan itu terasa terlalu jleb di hati.

Lagipula, kutipan tersebut terdengar terlalu jujur untuk ukuran konferensi pers di Negeri Konoha Raya, yang lazim dibungkus basa-basi hangat lengkap dengan tahu goreng dan oncom politik seperlunya.

Faktanya memang demikian.
Dan seperti biasa, sisi gelapnya sering dianggap kurang pantas dibuka terlalu terang.

Sejumlah PMI yang baru pulang dari Hong Kong, Arab Saudi, Australia, hingga beberapa negara di Eropa membawa cerita yang tak seluruhnya cocok dijadikan bahan kampanye motivasi di media sosial.

“Sisi kelamnya tak perlulah kami ungkap semua,” ujar U.M., perempuan paruh baya asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang ditemui pewarta pada awal Mei 2026 di area kedatangan Bandara Internasional Soekarno–Hatta, Tangerang, Banten.

Perempuan itu diketahui selama tiga tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga di Arab Saudi.

Dengan suara pelan dan mata yang tampak lelah oleh terlalu banyak hal yang dipendam sendiri, ia berkata:

“Cukuplah sekali saja saya jalani kerja di luar negeri seperti ini.”

Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun bagi Korupsinikus, justru di sanalah letak tragedi paling sunyi dari dunia pekerja migran.

Sebab yang sering dipamerkan negara hanyalah angka remitansinya.
Sementara ongkos batin—yang kadang terasa jauh lebih mahal daripada nilai transferannya—jarang masuk ke dalam tabel statistik.

U.M. lalu mengaku bahwa baru pada tahun kedua bekerja di luar negeri ia benar-benar memahami arti penting keutuhan keluarga.

Ironisnya, kesadaran itu datang bersamaan dengan kabar pahit dari kampung halaman.

“Suami saya malah menikah lagi dengan warga desa tetangga,” ujarnya lirih.

Korupsinikus pun menarik napas panjang.

Di Negeri Konoha Raya, ternyata devisa bukan satu-satunya hal yang berpindah tangan.
Kadang pasangan hidup pun ikut berpindah arah secara demokratis.

Barangkali begitulah nasib sebagian rumah tangga yang terlalu lama diuji jarak, kesepian, dan keadaan ekonomi yang tak kunjung ramah.
Ada yang bertahan dengan sabar.
Ada pula yang diam-diam melempar handuk putih sebelum ronde terakhir kehidupan selesai dimainkan.

Begitulah hidup para PMI.

Di luar negeri mereka bekerja merawat rumah orang lain, sementara rumah tangga sendiri perlahan retak karena jarak dan kesepian.

Mereka mengirim uang demi masa depan anak-anaknya, tetapi sering kehilangan momen tumbuh kembang yang tak mungkin dapat ditransfer ulang.

Ada yang pulang membawa tabungan.
Ada pula yang pulang membawa trauma.

Ada yang berhasil membangun rumah bertingkat.
Namun penghuni di dalam rumah itu tak lagi utuh seperti dulu.

Dan anehnya, semua penderitaan itu sering kalah ramai dibanding seminar bertajuk:

“PMI sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Nasional.”

Korupsinikus kadang bingung.

Mengapa negeri ini sangat pandai membuat slogan megah, tetapi sering gagap saat diminta menghadirkan perlindungan yang benar-benar menyentuh kehidupan nyata?

Padahal semua orang tahu, sebagian besar PMI berangkat bukan karena sejak kecil bercita-cita ingin menjadi pekerja migran.

Faktanya, bila anak-anak ditanya ingin menjadi apa saat dewasa, jawaban mereka biasanya sederhana dan penuh harapan:

“Mau jadi dokter.”
“Mau jadi guru.”
“Mau jadi polisi.”
“Mau jadi tentara.”

Hampir tak pernah terdengar ada anak kecil yang dengan penuh semangat berkata:

“Aku ingin jadi ART di luar negeri.”

Namun hidup kadang memaksa manusia memilih jalan yang tidak pernah masuk daftar cita-citanya sendiri.

Mereka berangkat karena keadaan.
Karena sawah tak lagi cukup menghidupi keluarga.
Karena lapangan kerja terlalu sempit.
Karena harga kebutuhan hidup naik lebih cepat daripada harapan.

Maka bandara di Negeri Konoha Raya perlahan berubah menjadi semacam terminal keberangkatan kesedihan berjamaah.

Tangis anak kecil.
Pelukan orang tua.
Titip pengasuhan anak kepada nenek dan kerabat.
Janji akan segera pulang.

Lalu setelah pesawat lepas landas, yang tersisa hanyalah video call, transfer bank, dan rasa rindu yang dipaksa tahan banting oleh keadaan ekonomi.

Tetapi begitulah negeri ini bekerja.

Selama devisa terus masuk, semuanya tampak baik-baik saja.

Negara tersenyum.
Grafik ekonomi naik.
Pidato tetap optimistis.

Sementara Korupsinikus berdiri di pojok ruangan sambil berbisik pelan:

“Kita ini kadang terlalu bangga pada uang kiriman dari luar negeri, sampai lupa bertanya berapa banyak keluarga yang diam-diam runtuh demi mengirimkannya.”

(Selesai)

BP2MI Buruh migran CPMI HAM KP2MI migran pekerja migran Pekerja Migran Indonesia PMI
Berita Terkait
Jerat Mokondo Pada Buruh Migran: Menulis Cinta dari Layar Dan Menuai Luka dari Transfer
OPINI
Jerat Mokondo Pada Buruh Migran: Menulis Cinta dari Layar Dan Menuai Luka dari Transfer
4 Jun 2026
Korupsinikus: Devisa dari Air Mata Ibu
OPINI
Korupsinikus: Devisa dari Air Mata Ibu
4 May 2026
Sumber: https://algivon.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260428-WA0009-1024x683.jpg
OPINI
UU PPRT Terwujud, Korupsinikus: Saatnya Kita Awasi Implementasinya
29 Apr 2026