Suara Migran Nusantara Logo
OPINI

Jerat Mokondo Pada Buruh Migran: Menulis Cinta dari Layar Dan Menuai Luka dari Transfer

  Admin2 · 
Jerat Mokondo Pada Buruh Migran: Menulis Cinta dari Layar Dan Menuai Luka dari Transfer
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Oleh: Tedi Yusnanda N

Di sebuah kamar sempit di Hong Kong, Taiwan, Singapura, atau Timur Tengah, seorang perempuan Indonesia menatap layar telepon genggamnya. Hari itu ia baru saja menyelesaikan pekerjaan selama empat belas jam. Tubuhnya lelah. Punggungnya nyeri. Tetapi notifikasi pesan yang muncul di layar membuatnya tersenyum.

“Sayang, aku kangen.”

Kalimat sederhana itu sering kali lebih ampuh daripada obat penghilang rasa sakit. Ia datang dari seorang lelaki. Lelaki yang mengaku mencintainya. Lelaki yang mengaku setia menunggu kepulangannya. Lelaki yang selalu memanggilnya dengan kata-kata mesra. Lelaki yang pada akhirnya lebih sering meminta uang daripada menanyakan kabarnya.

Di era digital, eksploitasi terhadap buruh migran perempuan Indonesia tidak lagi hanya dilakukan oleh majikan yang kasar, agen yang menipu, atau negara yang abai. Eksploitasi kini menemukan bentuk yang lebih halus, lebih romantis, dan lebih sulit dikenali: hubungan asmara yang berubah menjadi mekanisme penghisapan ekonomi.

Di ruang-ruang media sosial Indonesia, istilah “mokondo” semakin populer. Akronim dari “modal k****l doang” ini merujuk pada laki-laki yang hidup dari perempuan tanpa kontribusi ekonomi yang seimbang. Mereka menawarkan rayuan, perhatian, dan ilusi cinta, tetapi menggantungkan kebutuhan hidupnya pada penghasilan pasangan perempuan.

Fenomena ini menjadi semakin problematis ketika korbannya adalah buruh migran perempuan Indonesia.

Ironisnya, perempuan-perempuan ini berangkat ke luar negeri untuk melawan kemiskinan, tetapi sebagian justru menemukan bentuk kemiskinan baru dalam hubungan personal. Mereka bekerja di negeri orang, sementara hasil kerja kerasnya mengalir kepada lelaki yang tidak bekerja, tidak berkontribusi, dan sering kali tidak memiliki tanggung jawab moral yang setara.

Dalam perspektif sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, hubungan semacam ini dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik. Korban tidak merasa sedang dieksploitasi karena proses dominasi dibungkus oleh bahasa cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Kekuasaan bekerja bukan melalui paksaan, melainkan melalui persetujuan yang dibangun secara perlahan.

Sang perempuan mengirim uang bukan karena diperintah, tetapi karena merasa sedang membuktikan cintanya.

Sementara sang lelaki menerima uang bukan sebagai bentuk bantuan darurat, melainkan sebagai hak yang dianggap wajar.

Hubungan yang seharusnya setara berubah menjadi relasi patron-klien modern. Bedanya, patron dalam kasus ini justru perempuan yang bekerja keras di luar negeri, sedangkan klien adalah laki-laki yang mengonsumsi hasil kerjanya.

Media sosial memperparah situasi tersebut. Platform digital memungkinkan seorang lelaki menjalin hubungan dengan banyak perempuan sekaligus tanpa harus hadir secara fisik. Ia cukup memiliki foto yang menarik, kemampuan merangkai kata-kata romantis, dan kesabaran memainkan emosi.

Sosiolog Inggris Anthony Giddens pernah menjelaskan bagaimana modernitas mengubah hubungan manusia menjadi apa yang disebut “pure relationship”, hubungan yang bertahan sejauh memberikan kepuasan emosional. Namun pada fenomena mokondo, hubungan itu sering kali berubah menjadi transaksi tersembunyi. Emosi menjadi alat produksi. Perhatian menjadi komoditas. Kerinduan menjadi instrumen ekonomi.

Lelaki mokondo memahami bahwa cinta dapat menghasilkan keuntungan finansial yang lebih besar dibanding bekerja.

Karena itu, banyak dari mereka tidak menjual tubuh seperti gigolo. Mereka menjual harapan.

Mereka menjual status hubungan.

Mereka menjual ilusi masa depan.

Mereka menjual rasa dibutuhkan.

Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian dari praktik tersebut dibungkus dengan simbol-simbol religius. Tidak sedikit akun media sosial yang setiap hari mengunggah ayat suci, kutipan dakwah, foto sedang beribadah, atau narasi kesalehan. Namun di balik layar yang sama, mereka rutin meminta transfer uang kepada perempuan yang sedang bekerja di luar negeri.

Di sini muncul paradoks moral yang serius.

Agama yang seharusnya menjadi sarana pembebasan dari kerakusan justru dipakai sebagai alat legitimasi untuk memperoleh kepercayaan korban. Kesalehan berubah menjadi kapital simbolik. Status religius menjadi merek dagang. Ayat dan doa menjadi kemasan yang memperhalus praktik manipulasi.

Filsuf Jerman Jurgen Habermas menyebut fenomena semacam ini sebagai kolonisasi dunia kehidupan. Ruang yang seharusnya dibangun atas dasar kepercayaan, cinta, dan nilai moral diambil alih oleh logika instrumental demi keuntungan pribadi. Cinta tidak lagi menjadi relasi antarmanusia. Ia berubah menjadi alat produksi ekonomi.

Bahkan lebih tragis lagi, sebagian buruh migran perempuan tetap mempertahankan hubungan tersebut meskipun sadar sedang dimanfaatkan. Mereka takut kehilangan pasangan. Mereka takut dianggap gagal dalam hubungan. Mereka takut menghadapi kesepian.

Ketakutan ini menjadi ladang subur bagi para mokondo.

Mereka memahami bahwa kesendirian adalah pasar.

Kerinduan adalah komoditas.

Dan cinta adalah investasi dengan keuntungan tinggi.

Data dan berbagai laporan organisasi pendamping pekerja migran menunjukkan bahwa persoalan relasi toksik, eksploitasi emosional, hingga penipuan asmara merupakan masalah yang berulang dalam kehidupan buruh migran perempuan. Nilai kerugiannya tidak selalu tercatat dalam laporan keuangan. Sebagian besar muncul dalam bentuk depresi, trauma, kehilangan tabungan, kegagalan membangun masa depan, dan keretakan hubungan keluarga.

Yang dicuri bukan hanya uang.

Yang dicuri adalah waktu hidup.Yang dicuri adalah harapan.

Yang dicuri adalah masa depan.

Dalam masyarakat yang masih menempatkan perempuan sebagai simbol pengorbanan, eksploitasi seperti ini sering dianggap biasa.

Perempuan dipuji ketika memberi.

Perempuan dihormati ketika berkorban.

Tetapi jarang sekali dipertanyakan siapa yang menikmati pengorbanan itu.

Karena itu, fenomena mokondo terhadap buruh migran perempuan tidak boleh dilihat sekadar sebagai persoalan asmara gagal. Ia adalah persoalan struktur sosial, budaya patriarki, ketimpangan ekonomi, dan manipulasi psikologis yang saling bertemu dalam satu ruang yang sama.

Di balik setiap transfer yang dikirim dari Hong Kong, Taiwan, atau Singapura dan negara lainnya, kepada lelaki yang menganggur, tersimpan sebuah pertanyaan yang lebih besar.

Mengapa perempuan yang bekerja keras justru terus-menerus diminta membuktikan cintanya dengan uang, sementara laki-laki yang mengaku mencintai merasa tidak perlu membuktikan cintanya dengan kerja dan tanggung jawab?

Mungkin karena sebagian orang telah menemukan cara paling mudah untuk hidup: bukan dengan bekerja, melainkan dengan menjadikan cinta sebagai profesi dan manipulasi sebagai mata pencaharian.

Dan selama masyarakat masih menganggap itu sekadar urusan pribadi, para mokondo akan terus lahir. Bukan karena mereka terlalu pintar, melainkan karena terlalu banyak orang yang mengira eksploitasi selalu datang dengan wajah garang, padahal sering kali ia datang dengan kata-kata manis, emoji hati, dan kalimat sederhana:

“Aku sayang kamu.”

berita BP2MI Buminu Buruh migran Buruh Migran Perempuan HAM KP2MI migran pekerja migran
Berita Terkait
Korupsinikus: “Negara Amat Bangga pada Devisa, Namun Jangan Tanya Nasib Pengirimnya”
OPINI
Korupsinikus: “Negara Amat Bangga pada Devisa, Namun Jangan Tanya Nasib Pengirimnya”
2 Jun 2026
Korupsinikus: Devisa dari Air Mata Ibu
OPINI
Korupsinikus: Devisa dari Air Mata Ibu
4 May 2026
Sumber: https://algivon.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260428-WA0009-1024x683.jpg
OPINI
UU PPRT Terwujud, Korupsinikus: Saatnya Kita Awasi Implementasinya
29 Apr 2026