Suara Migran Nusantara Logo
OPINI

“Working Man”: Ketika Lagu Rush Menjadi Cermin Nasib Buruh Migran Indonesia

  Admin2 · 
“Working Man”: Ketika Lagu Rush Menjadi Cermin Nasib Buruh Migran Indonesia
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Oleh: Tedi Yusnanda N

Pada tahun 1974, grup rock Kanada Rush merilis sebuah lagu berjudul Working Man. Lagu yang kemudian menjadi anthem kaum pekerja ini bukan sekadar menampilkan riff gitar yang berat dan energi hard rock yang meledak-ledak. Di balik dentuman musiknya tersimpan sebuah kritik sunyi terhadap kehidupan manusia yang terjebak dalam rutinitas kerja tanpa akhir. Lagu ini menjadi salah satu karya yang mengangkat realitas kelas pekerja (working class), sebuah tema yang membuatnya sangat dekat dengan kehidupan para buruh pabrik, pekerja tambang, hingga pekerja migran di berbagai belahan dunia.

Lagu ini dibuka dengan penggalan lirik, “I get up at seven…” kemudian dilanjutkan dengan “…go to work at nine.” Dua kalimat sederhana tersebut menggambarkan bahwa kehidupan sang tokoh bahkan telah dipetakan oleh jam. Waktu bangun, waktu bekerja, waktu pulang, semuanya ditentukan oleh sistem. Yang tersisa hanyalah tubuh yang terus bergerak mengikuti tuntutan ekonomi.

Bagi jutaan Buruh Migran Indonesia, penggalan itu bukan sekadar puisi. Ia adalah kenyataan. Mereka bangun sebelum matahari terbit untuk menyiapkan rumah majikan, mengasuh anak, bekerja di perkebunan, konstruksi, pabrik, restoran, atau menjadi pelaut. Hari-hari mereka diukur bukan oleh mimpi, melainkan oleh kontrak kerja. Hidup berubah menjadi rangkaian jam kerja yang panjang.

Rush kemudian menyanyikan, “No time for livin’…”. Kalimat pendek ini merupakan kritik filosofis terhadap kapitalisme industrial yang mengubah manusia menjadi alat produksi. Di sini kita menemukan gagasan yang sejalan dengan filsafat Karl Marx mengenai alienasi, yaitu ketika manusia terpisah dari kehidupan yang sesungguhnya karena seluruh energinya habis untuk bekerja. Ia bekerja bukan lagi sebagai ekspresi kemanusiaan, melainkan demi mempertahankan hidup.

Fenomena tersebut sangat dekat dengan pengalaman banyak pekerja migran Indonesia. Mereka meninggalkan anak, pasangan, bahkan orang tua selama bertahun-tahun. Mereka kehilangan momen pertumbuhan anak-anaknya, kehilangan kesempatan menemani orang tua di masa tua, bahkan tidak sedikit yang hanya dapat pulang ketika keluarganya telah meninggal dunia. Upah memang mengalir ke kampung halaman, tetapi waktu yang hilang tidak pernah bisa dikirim kembali.

Bagian paling menyayat justru muncul ketika Rush menyatakan, “I could live my life a lot better…”. Kalimat ini bukan keluhan tentang kemalasan bekerja. Justru sebaliknya, ia adalah jeritan seseorang yang sadar bahwa hidup semestinya memiliki makna lebih besar daripada sekadar bekerja.

Di sinilah paradoks buruh migran Indonesia muncul dengan sangat jelas. Mereka bekerja demi keluarga, demi pendidikan anak, demi rumah yang layak, demi masa depan. Namun ironisnya, demi masa depan itu mereka justru kehilangan masa kini. Mereka membangun kehidupan orang lain sambil menunda kehidupan mereka sendiri.

Secara eksistensial, lagu ini mengingatkan kita pada pemikiran filsuf Martin Heidegger bahwa manusia dapat terjebak dalam kehidupan yang sepenuhnya ditentukan oleh tuntutan sehari-hari sehingga lupa mempertanyakan makna keberadaannya. Manusia akhirnya hidup sekadar menjalankan rutinitas tanpa sempat benar-benar “mengada” sebagai dirinya sendiri.

Hal yang sama sering dialami para pekerja migran. Status mereka sering kali direduksi menjadi angka remitansi. Negara membanggakan miliaran dolar devisa yang mereka hasilkan, tetapi terlalu sering melupakan bahwa di balik setiap rupiah terdapat seseorang yang sedang menanggung kerinduan, kesepian, kecemasan, bahkan risiko kekerasan.

Ketika Rush mengulang kalimat, “They call me the working man…”, identitas tokoh dalam lagu itu seolah lenyap. Ia tidak lagi dipanggil dengan nama. Ia hanya dikenal sebagai “orang yang bekerja.”

Bukankah fenomena serupa juga dialami buruh migran Indonesia?

Mereka tidak lagi dikenal sebagai ibu, ayah, anak, seniman, penyair, petani, atau sarjana. Mereka berubah menjadi “TKW”, “TKI”, “PMI”, “caregiver”, “domestic worker”, “construction worker”. Identitas manusia perlahan digantikan oleh identitas ekonomi.

Padahal setiap buruh migran membawa cerita yang jauh lebih kaya daripada profesinya. Ada yang sebenarnya ingin menjadi guru, musisi, pengusaha, atau petani. Ada yang menunda kuliah demi menyekolahkan adiknya. Ada pula yang meninggalkan cita-citanya agar keluarganya dapat bertahan hidup.

Secara moral, lagu ini mengajukan pertanyaan yang sangat penting.

Apakah tujuan hidup manusia memang hanya bekerja?

Bagi banyak pekerja migran Indonesia, jawabannya tentu tidak. Mereka bekerja justru agar suatu hari dapat berhenti menjadi pekerja migran. Mereka merantau agar anak-anaknya tidak perlu merantau. Mereka menanggung kesulitan agar generasi berikutnya memiliki pilihan hidup yang lebih luas.

Dalam perspektif itu, bekerja bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan menuju martabat. Yang menjadi persoalan adalah ketika jembatan itu berubah menjadi penjara yang tidak pernah memiliki ujung.

Karena itu, Working Man bukan sekadar lagu rock klasik. Ia adalah refleksi universal mengenai harga yang harus dibayar manusia ketika pekerjaan mengambil alih seluruh kehidupannya. Setelah lebih dari lima puluh tahun sejak dirilis pada 1974, pesan lagu ini tetap relevan.

Bagi Indonesia, lagu ini layak dibaca sebagai pengingat bahwa pekerja migran bukan hanya penyumbang devisa, melainkan manusia yang memiliki hak untuk hidup bermartabat. Perlindungan hukum, akses terhadap keadilan, pekerjaan yang layak, kesehatan mental, serta kesempatan membangun masa depan setelah kembali ke tanah air bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan penghormatan terhadap kemanusiaan.

Pada akhirnya, “Working Man” mengajarkan bahwa manusia tidak boleh diukur hanya dari seberapa keras ia bekerja. Nilai seseorang tidak terletak pada berapa jam ia menghabiskan waktunya untuk menghasilkan uang, melainkan pada kemampuannya menjalani hidup yang utuh, mencintai keluarganya, menjaga martabatnya, mengembangkan potensinya, dan menemukan makna di balik setiap perjuangan.

Sebab jika suatu hari seseorang hanya dikenang sebagai “working man”, sementara seluruh impian dan kemanusiaannya tertinggal di balik jam kerja, maka yang hilang bukan sekadar waktu. Yang hilang adalah sebagian dari dirinya sendiri.


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

berita BP2MI Buminu Buruh migran iran KP2MI migran pekerja migran Pekerja Migran Indonesia
Berita Terkait
PANCA DHARMA PUNAKAWAN PEKERJA MIGRAN
OPINI
PANCA DHARMA PUNAKAWAN PEKERJA MIGRAN
10 Sep 2026
Bonus Demografi yang Menjadi Kutukan: Ketika Negeri Tak Lagi Menyediakan Jalan Pulang
OPINI
Bonus Demografi yang Menjadi Kutukan: Ketika Negeri Tak Lagi Menyediakan Jalan Pulang
25 Aug 2026
Foto Ilustrasi AI
BERITA
Mengapa Bibi layak ditangkap oleh ICC maupun Red Notice Interpol
23 Aug 2026