Suara Migran Nusantara Logo
SASTRA MIGRAN

AKU NON DI NEGERI ARAB LEWAT PT ILEGAL: 8 BULAN DI PENJARA DAN 1 TAHUN DI SARIKAH KARENA SATU VIDEO TIKTOK DI DEPAN MAJIKAN LUMPUH (Kisah Nyata)

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application  ·    Admin2 · 
AKU NON DI NEGERI ARAB LEWAT PT ILEGAL: 8 BULAN DI PENJARA DAN 1 TAHUN DI SARIKAH KARENA SATU VIDEO TIKTOK DI DEPAN MAJIKAN LUMPUH (Kisah Nyata)
Gabung di WhatsApp Channel SMN untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang

Oleh: Neni Rosini

Kisah nyata Cindy, TKW asal Sukatani yang berangkat karena ekonomi, tetapi salah langkah masuk PT ilegal yang kemudian ditutup pemerintah.

Namaku Cindy. Aku non. Baru beberapa bulan menginjakkan kakiku di negara Arab untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Aku bukan anak orang kaya. Aku berangkat karena kebutuhan ekonomi. Bapak sakit-sakitan, ibu hanya buruh cuci, adik masih sekolah. Di kampung, lowongan kerja cuma jadi buruh tani dengan upah Rp50 ribu sehari kalau ada yang memanggil. Tidak cukup.

Lalu datang seorang tetangga. Dia bilang ada PT yang bisa memberangkatkan aku dengan cepat ke Arab. Katanya gajinya besar, sekitar Rp8 juta, dan pekerjaannya hanya menjaga nenek. Tidak perlu sekolah lama, tidak perlu tes bahasa yang susah. Cukup bayar Rp5 juta di awal, sisanya dipotong dari gaji.

Aku yang polos langsung percaya.

Aku tidak mengecek apakah PT itu resmi atau ilegal. Aku tidak tahu bedanya PT resmi dan PT ilegal. Yang aku tahu, aku ingin cepat berangkat dan cepat mengirim uang untuk keluarga.

Aku berangkat.

Prosesnya cepat sekali. Dua minggu langsung terbang. Tidak ada pembekalan yang benar. Tidak ada pelajaran bahasa Arab. Tidak ada pelajaran tentang hukum di Arab. Aku hanya disuruh tanda tangan banyak kertas yang tidak aku mengerti.

Sampai di Arab, aku ditempatkan di sebuah rumah besar. Aku bekerja bersama satu orang Filipina. Kami berdua bekerja bersama.

Aku yang mengurus majikan yang lumpuh. Memandikan, menyuapi, mengganti popok, menjaga hampir 24 jam. Temanku yang orang Filipina mengurus rumah, memasak, dan bersih-bersih.

Majikan yang lumpuh itu sebenarnya baik. Dia tidak pernah marah. Tapi dia tidak bisa bicara dengan jelas. Dia hanya bisa menatap.

Bulan-bulan pertama sangat berat.

Aku homesick. Tidak bisa bahasa. Tidak bebas memegang HP. Gaji tiga bulan pertama dipotong PT dengan alasan untuk mengganti biaya keberangkatan.

Aku hanya bisa menangis di kamar mandi.

Sampai suatu hari, terjadi sesuatu yang membuat aku menyesal seumur hidup.

Hari itu majikan yang lumpuh sedang tidur di kursi roda di ruang tamu. Aku dan teman Filipina sedang istirahat sebentar.

Temanku membuka TikTok. Dia mengajakku membuat video joget bersama.

Katanya supaya tidak stres.

Aku awalnya menolak.

“Tapi tidak apa-apa. Majikan tidur, tidak ada orang rumah. Hanya kita berdua,” katanya.

Aku yang bodoh, yang baru pertama kali memegang HP bagus setelah lama tidak memegang HP, akhirnya ikut joget.

Kami membuat video di depan majikan yang lumpuh dan sedang tidur di kursi roda.

Aku kira tidak akan ada masalah.

Aku kira TikTok hanya untuk senang-senang.

Aku kira di negara orang sama seperti di Indonesia, bisa bebas membuat video.

Kami upload video itu.

Tidak sampai 24 jam, like-nya banyak.

Kami senang.

Tapi ternyata, itulah petaka bagiku.

Anak majikan yang tinggal di lantai atas melihat video TikTok itu. Entah dari mana dia tahu. Mungkin lewat FYP.

Dia turun dengan wajah merah karena marah.

Dia menunjuk video itu. Kemudian menunjuk ayahnya yang lumpuh di kursi roda.

Dia berteriak menggunakan bahasa Arab yang tidak aku mengerti.

Tapi dari wajah dan matanya, aku tahu dia sangat marah. Dia merasa ayahnya dihina.

Aku mencoba menjelaskan.

Aku meminta maaf. Aku bahkan bersimpuh.

Tapi tidak ada gunanya.

Tidak lama kemudian, polisi datang dan membawa aku.

Di sinilah titik lemahnya aku.

Aku tidak bisa bahasa Arab. Aku tidak punya siapa-siapa.

PT yang memberangkatkan aku ternyata sudah ditutup pemerintah Indonesia karena kasus ilegal. Aku mencoba menghubungi nomor PT, tetapi tidak aktif. Aku menghubungi agen di Arab, tetapi nomor teleponku justru diblokir.

Aku ditahan.

Sekitar delapan bulan aku berada di penjara.

Delapan bulan itu adalah neraka dunia bagiku.

Aku satu sel dengan banyak orang dari berbagai negara. Dingin, bau, tidak ada kasur yang layak.

Setiap hari aku hanya bisa berdoa. Berserah kepada Allah.

Aku bingung harus mengadu kepada siapa.

KBRI terasa jauh. Aku tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Aku juga tidak tahu prosedur karena aku tidak pernah mendapatkan pembekalan yang cukup.

Aku menyesal.

Menyesal kenapa aku berangkat melalui PT ilegal.

Menyesal kenapa aku membuat TikTok di depan majikan yang lumpuh.

Menyesal kenapa aku tidak belajar terlebih dahulu tentang hukum dan aturan di negara tempat aku bekerja.

Aku baru sadar bahwa apa yang menurutku hanya candaan bisa dianggap serius di negara orang.

Satu video pendek bisa berubah menjadi masalah besar.

Setelah delapan bulan ditahan, aku kira setelah bebas dan dipulangkan ke Sarikah, aku akan langsung pulang ke tanah air.

Aku kira mimpi buruk sudah selesai.

Ternyata itu hanya angan-angan.

Aku memang dipulangkan ke Sarikah.

Sarikah adalah tempat penampungan bagi pekerja bermasalah yang menunggu proses pemulangan.

Aku kira di sana aku akan cepat dipulangkan.

Ternyata tidak.

Di Sarikah, aku malah disuruh bekerja tanpa digaji.

Disuruh membereskan kantor, menyapu, mengepel, mencuci piring, memasak untuk petugas.

Dari pagi sampai malam.

Tanpa digaji sepeser pun.

Hingga lebih dari satu tahun aku berada di Sarikah tanpa ada kepastian kapan bisa pulang.

Tidak ada uang. Tidak ada kepastian. Tidak ada keluarga yang tahu aku berada di mana karena HP-ku disita polisi sejak aku ditahan.

Aku tahu apa yang aku lakukan itu salah.

Dan aku sangat menyesal karena sejak awal aku sudah melangkah dengan kesalahan, yaitu masuk melalui PT ilegal.

Mereka tidak akan pernah bisa benar-benar membantu ketika aku menghadapi masalah.

PT ilegal itu, setelah mendapatkan uang dari kita, bisa saja lepas tangan. Ketika mereka sudah ditutup pemerintah, nasib pekerja yang diberangkatkan pun semakin tidak jelas.

PT resmi berbeda.

Kalau ada masalah, setidaknya ada mekanisme pertanggungjawaban dan jalur perlindungan yang dapat ditempuh.

Satu tahun lebih di Sarikah, aku hanya bisa berserah kepada Allah.

Salat lima waktu. Puasa Senin Kamis. Berdoa supaya bisa pulang dan melihat ibu serta bapak.

Akhirnya, setelah satu tahun dua bulan di Sarikah, ada pendataan dari pemerintah Indonesia.

Aku bisa pulang.

Dengan baju yang itu-itu saja. Tanpa uang sepeser pun. Tanpa oleh-oleh.

Aku hanya membawa trauma delapan bulan di penjara dan pengalaman panjang di Sarikah.

Sekarang aku sudah kembali ke kampung, di Sukatani.

Aku trauma.

Aku tidak mau lagi berangkat melalui PT ilegal.

Aku ingin cerita ini menjadi pelajaran.

Untuk teman-teman perempuan di luar sana, adik-adikku yang ingin menjadi TKW:

Pertama, tolong cek PT kalian resmi atau ilegal.

Cek melalui kanal resmi pemerintah dan Disnaker. Jangan tergiur berangkat cepat dan murah.

PT resmi mungkin prosesnya lebih panjang dan banyak persyaratan, tetapi ada mekanisme perlindungan yang bisa ditempuh jika terjadi masalah.

Kedua, jangan sembarangan membuat TikTok, video, atau foto majikan tanpa izin, apalagi majikan yang sedang sakit.

Kita berada di negara orang. Setiap negara mempunyai aturan dan budaya yang berbeda.

HP bukan untuk main-main.

Kita di sana untuk bekerja, bukan untuk membuat konten yang bisa merugikan diri sendiri.

Satu video 15 detik bisa menghancurkan kehidupan seseorang.

Aku mengalaminya sendiri.

Ketiga, kalau sudah berada di luar negeri, simpan nomor KBRI, KJRI, dan lembaga perlindungan pekerja migran.

Jangan hanya menyimpan nomor PT atau agen.

Keempat, jangan langsung percaya kalau ada yang mengatakan potong gaji berbulan-bulan adalah hal yang wajar.

Pastikan seluruh biaya, kontrak kerja, potongan gaji, hak, kewajiban, dan identitas perusahaan benar-benar jelas sebelum berangkat.

Aku tahu aku salah.

Aku sudah membayar mahal untuk kesalahan itu.

Delapan bulan di penjara.

Satu tahun dua bulan di Sarikah tanpa gaji.

Trauma yang mungkin akan aku bawa seumur hidup.

Dan rasa malu karena pulang tanpa membawa hasil seperti yang aku bayangkan ketika pertama kali berangkat.

Tapi aku bersyukur.

Allah masih memberikan aku kesempatan untuk pulang dengan selamat.

Masih banyak teman-teman di Sarikah yang belum pulang sampai sekarang.

Namaku Cindy.

Aku non yang pernah salah langkah.

Aku berangkat karena ingin membantu keluarga. Aku ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Tapi aku salah memilih jalan.

Semoga ceritaku bisa menjadi pelajaran dan menyelamatkan satu perempuan lain agar tidak masuk ke lubang yang sama denganku.

Jangan seperti aku.

Jangan tergiur berangkat cepat.

Jangan percaya begitu saja kepada agen atau PT yang tidak jelas.

Dan jangan pernah menganggap aturan di negara orang sebagai sesuatu yang bisa disepelekan.

Karena ketika masalah datang, kita yang harus menanggung akibatnya.

Aku pernah mengalaminya.

Delapan bulan penjara.

Satu tahun dua bulan di Sarikah.

Semua bermula dari satu keputusan yang salah dan satu video yang hanya berdurasi beberapa detik.

Ini kisah nyata yang saya ambil dari pengalaman saya.

Terima kasih.

Sumber:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ketix.application


Discover more from suaramigrannusantara.org

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Berita BP2MI Buminu Buruh migran Cerpen CPMI HAM Kisah Nyata KP2MI migran pekerja migran Perlindungan Pekerja Migran PMI TKW
Berita Terkait
DARI TKI YANG TAK BISA KOMPUTER, HINGGA JADI KOORDINATOR TIM INVESTIGASI DI SARIKAH ARAB (Kisah Nyata)
SASTRA MIGRAN
DARI TKI YANG TAK BISA KOMPUTER, HINGGA JADI KOORDINATOR TIM INVESTIGASI DI SARIKAH ARAB (Kisah Nyata)
5 Oct 2026
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
SASTRA MIGRAN
DARI AIR MATA MENUJU JEPANG (Kisah Perjuangan Arifin San dan Gaji Pertamanya)
2 Oct 2026
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
SASTRA MIGRAN
AKU LARI BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA INGIN TETAP JADI MANUSIA (Kisah Nyata)
1 Oct 2026