Di Antara Merah Putih dan Rindu yang Tak Pernah Usai
Oleh: Tedi Yusnanda N
Setiap tanggal 17 Agustus, Indonesia selalu berubah menjadi ruang kenangan yang penuh warna. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah-rumah warga. Anak-anak berlarian di lapangan desa. Tawa pecah dalam lomba balap karung, panjat pinang, tarik tambang, dan makan kerupuk. Di pagi hari, suara sirene dan lagu Indonesia Raya mengiringi upacara yang dilaksanakan dengan khidmat. Di sudut-sudut kampung, orang-orang berkumpul, saling menyapa, dan merayakan kemerdekaan dengan sukacita yang sederhana namun begitu bermakna.
Pada usia Republik Indonesia yang ke-81 tahun, bangsa ini kembali mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema tersebut mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan cita-cita yang terus diperjuangkan agar setiap warga negara dapat hidup bermartabat dan sejahtera.
Namun di saat yang sama, ketika gegap gempita perayaan berlangsung di seluruh pelosok tanah air, ada jutaan anak bangsa yang merayakan kemerdekaan dalam suasana yang berbeda. Mereka adalah para pekerja migran Indonesia yang sedang berada di negara penempatan. Mereka menyaksikan perayaan kemerdekaan dari kejauhan, melalui layar telepon genggam, video pendek yang dikirim keluarga, atau siaran langsung media sosial yang memperlihatkan suasana kampung halaman.
Bagi mereka, Agustus bukan sekadar bulan kemerdekaan. Agustus adalah bulan kerinduan.
Kerinduan yang sering kali datang diam-diam ketika melihat anak-anak berbaris mengikuti pawai kemerdekaan. Kerinduan ketika mendengar lagu-lagu perjuangan diputar di media sosial. Kerinduan saat melihat lapangan desa yang dipenuhi warga dengan pakaian merah putih. Dan yang paling menyayat hati adalah ketika menyadari bahwa di kampung sana, keluarga sedang berkumpul menikmati suasana perayaan, sementara mereka masih harus menyelesaikan pekerjaan di negeri orang.
Mungkin ada seorang pekerja migran di Hong Kong yang sedang membersihkan rumah majikannya sambil diam-diam menonton video lomba tujuhbelasan di kampungnya di Indramayu. Ada seorang pekerja di Taiwan yang baru pulang dari pabrik pada malam hari lalu membuka pesan dari ibunya yang mengirim foto cucunya sedang mengikuti lomba memasukkan paku ke dalam botol. Ada pula pekerja di Korea Selatan atau Jepang yang berdiri di balkon apartemen pekerja, memandangi langit malam sambil membayangkan suasana lapangan desa yang dulu selalu menjadi tempatnya mengikuti upacara kemerdekaan.
Jarak ribuan kilometer ternyata tidak pernah mampu menghapus ingatan.
Rumah bukan sekadar bangunan yang ditinggalkan. Kampung halaman bukan sekadar titik koordinat di peta. Keduanya hidup dalam ingatan, tumbuh dalam kerinduan, dan sering kali hadir paling kuat justru ketika seseorang berada sangat jauh darinya.
Filsuf dan sastrawan Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, pernah mengatakan, “One only learns to know oneself at a distance from home.” Seseorang sering kali baru benar-benar memahami arti rumah ketika ia jauh darinya. Kalimat itu terasa begitu dekat dengan kehidupan para pekerja migran Indonesia. Mereka yang meninggalkan tanah air demi memperjuangkan masa depan keluarga justru menjadi kelompok yang paling memahami makna Indonesia secara emosional.
Ketika hidup di negeri sendiri, mungkin upacara kemerdekaan terasa sebagai rutinitas tahunan. Namun ketika berada di luar negeri, lagu Indonesia Raya dapat menjadi sumber air mata. Ketika hidup di kampung, kibaran Merah Putih mungkin dianggap biasa. Namun ketika berada ribuan kilometer dari tanah air, selembar bendera merah putih dapat menghadirkan rasa haru yang sulit dijelaskan.
Filsuf Prancis, Simone Weil, pernah menulis bahwa kebutuhan paling mendasar manusia adalah memiliki akar, sebuah keterikatan dengan tempat asalnya. Kerinduan sesungguhnya lahir dari akar itu. Manusia merindukan tempat di mana ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Bagi pekerja migran Indonesia, akar itu bernama kampung halaman.
Kampung yang mungkin sederhana. Jalan yang mungkin belum sepenuhnya mulus. Rumah yang mungkin tidak mewah. Tetapi di sanalah ada ibu yang selalu menunggu kabar. Ada ayah yang diam-diam bangga. Ada anak-anak yang menghitung hari kepulangan. Ada sahabat masa kecil yang masih mengingat cerita lama. Ada masjid yang azannya begitu akrab. Ada lapangan tempat mereka dulu berlari mengejar hadiah lomba tujuhbelasan.
Ironisnya, banyak dari mereka justru harus meninggalkan semua itu demi memperjuangkan kesejahteraan keluarga. Mereka memilih berangkat karena cinta. Mereka bertahan karena tanggung jawab. Mereka menahan rindu karena harapan.
Dalam konteks itulah, kemerdekaan memperoleh makna yang lebih mendalam. Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan politik. Kemerdekaan adalah kemampuan manusia untuk hidup layak tanpa harus kehilangan hak-hak dasarnya. Kemerdekaan adalah hadirnya negara yang mampu melindungi setiap warga negaranya, termasuk mereka yang bekerja di luar negeri. Kemerdekaan adalah ketika seseorang dapat mencari nafkah tanpa kehilangan martabatnya sebagai manusia.
Setiap remitansi yang dikirim pekerja migran sesungguhnya adalah cerita pengorbanan. Di balik setiap rupiah yang sampai ke kampung halaman terdapat jam-jam kerja yang panjang, kesepian yang dipendam, dan kerinduan yang tidak pernah sepenuhnya terobati. Mereka tidak hanya mengirim uang. Mereka mengirim cinta, harapan, dan masa depan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Karena itu, ketika bangsa Indonesia merayakan usia kemerdekaan ke-81 tahun ini, mungkin kita perlu sejenak mengingat mereka yang sedang memandang Merah Putih dari kejauhan. Mereka yang tidak bisa hadir dalam upacara desa. Mereka yang tidak bisa mengikuti lomba bersama anak-anaknya. Mereka yang tidak bisa mencium tangan ibunya setelah acara syukuran kemerdekaan.
Di negeri yang jauh, mungkin mereka sedang menatap layar telepon sambil tersenyum melihat suasana kampung. Namun di balik senyum itu, ada kerinduan yang tidak pernah selesai.
Dan barangkali, pada malam kemerdekaan itu, ketika suara lagu-lagu perjuangan mulai menghilang dan pesta rakyat berangsur usai, ada satu doa yang diam-diam mereka panjatkan.
Semoga suatu hari nanti mereka dapat pulang.
Pulang bukan hanya sebagai pekerja yang telah menyelesaikan kontraknya, tetapi sebagai anak bangsa yang merasakan bahwa kemerdekaan benar-benar hadir dalam hidupnya. Pulang ke kampung yang selama ini hidup dalam ingatan. Pulang ke pelukan keluarga yang selama ini hanya bisa disentuh melalui layar. Pulang ke tanah air yang selama ini mereka cintai dari kejauhan.
Sebab pada akhirnya, kemerdekaan yang paling indah bukanlah sekadar berkibarnya Merah Putih di langit Indonesia. Kemerdekaan yang paling indah adalah ketika seorang anak bangsa tidak lagi harus memilih antara masa depan keluarganya dan kerinduannya terhadap rumah.
Dan bagi jutaan pekerja migran Indonesia di berbagai penjuru dunia, rumah itu selalu bernama Indonesia.
Discover more from suaramigrannusantara.org
Subscribe to get the latest posts sent to your email.