Wamen P2MI Lepas PMI Asal Sumbar ke Malaysia Lewat SMK Go Global, Sektor Patisserie dan Food Service Dibidik
PADANG — Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla melepas pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sumatera Barat untuk bekerja di Malaysia melalui program SMK Go Global, Jumat (18/9/2026). Pelepasan tersebut dilaporkan dalam pemberitaan pada Sabtu (19/9) dan menjadi bagian awal dari program pemerintah untuk memperluas penempatan pekerja migran terampil di pasar kerja internasional.
Para pekerja tersebut dipersiapkan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor patisserie dan food service di Malaysia. Penempatan ini menjadi salah satu bentuk penerapan program SMK Go Global yang diarahkan untuk menyiapkan calon PMI dengan kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja negara tujuan.
Dalam pemberitaan ANTARA, jumlah pekerja yang dilepas sebanyak 40 PMI asal Sumatera Barat. Mereka diberangkatkan melalui program SMK Go Global dan akan bekerja pada sektor patisserie serta food service di Malaysia.
Namun, terdapat perbedaan angka dalam informasi resmi pemerintah. Rilis KP2MI tertanggal 19 September 2026 menyebut jumlah peserta gelombang pertama yang dilepas sebanyak 39 peserta. Pelepasan berlangsung di Balai Diklat Industri (BDI) Padang. Karena itu, angka 40 yang diberitakan sejumlah media perlu dibaca dengan catatan adanya perbedaan pencatatan antara sumber pemberitaan dan rilis resmi KP2MI.
Dzulfikar menyebut penempatan tersebut sebagai momentum penting karena merupakan bagian awal dari rangkaian penempatan pekerja migran dalam skala lebih besar. Pemerintah ingin menjadikan program SMK Go Global sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan kompetensi calon PMI sekaligus membuka akses generasi muda Indonesia terhadap pasar kerja global.
“Penempatan PMI ini menjadi momentum bersejarah karena merupakan angkatan pertama dari serangkaian program penempatan skala besar yang dirancang pemerintah,” kata Dzulfikar dalam kegiatan pelepasan di Padang.
Program SMK Go Global merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk menyiapkan pekerja migran yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri internasional. Pemerintah menargetkan 500.000 calon PMI terampil hingga 2029, dengan peserta berasal dari lulusan SMK maupun masyarakat umum, termasuk lulusan pendidikan menengah dan perguruan tinggi.
Target tersebut dilakukan secara bertahap. Pemerintah menyiapkan sekitar 40.000 peserta pada 2026, 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 140.000 pada 2029. Dengan demikian, pelepasan peserta dari Sumatera Barat ke Malaysia menjadi salah satu tahap awal implementasi target penyiapan pekerja migran terampil tersebut.
Kementerian P2MI menegaskan bahwa program tersebut menggunakan pendekatan berbasis kebutuhan pasar atau demand-driven. Artinya, pelatihan tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan sebanyak mungkin calon PMI, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan konkret negara tujuan dan standar industri yang berlaku.
Sebelum diberangkatkan, calon PMI dibekali keterampilan sesuai bidang pekerjaan. Di Sumatera Barat sendiri, BP3MI telah menjalankan berbagai pelatihan dalam kerangka SMK Go Global, termasuk pelatihan teknis dan kemampuan bahasa asing. Program pelatihan tersebut ditujukan agar peserta memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja internasional.
Dzulfikar juga menekankan pentingnya prinsip “5 siap” bagi setiap calon PMI, yakni siap fisik, siap mental, siap visi, siap dokumen dan siap kompetensi. Kelima aspek tersebut menjadi prasyarat sebelum calon pekerja diproses, dilatih, ditingkatkan keterampilannya dan ditempatkan ke negara tujuan.
Menurut pemerintah, kebutuhan pekerja migran terampil semakin terbuka seiring perubahan demografi dan kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara. Karena itu, Indonesia perlu mempersiapkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kemauan bekerja di luar negeri, tetapi juga mempunyai keterampilan, sertifikasi, kemampuan bahasa dan kesiapan menghadapi lingkungan kerja internasional.
Penempatan ke sektor patisserie dan food service di Malaysia menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan pasar kerja luar negeri dapat dihubungkan dengan program peningkatan kompetensi calon PMI. Sektor tersebut membutuhkan keterampilan praktis sekaligus standar pelayanan yang sesuai dengan industri makanan dan jasa.
Bagi Sumatera Barat, program tersebut juga membuka peluang bagi lulusan pendidikan vokasi untuk memperoleh akses langsung terhadap pasar kerja internasional. Sebelumnya, BP3MI Sumbar telah membuka penjaringan peserta SMK Go Global dengan berbagai jenis pelatihan, termasuk housekeeping, waiter, barista dan bahasa Inggris.
Namun, perluasan penempatan PMI tetap harus berjalan beriringan dengan pelindungan. Peningkatan jumlah pekerja yang diberangkatkan ke luar negeri harus disertai kepastian bahwa seluruh proses berlangsung melalui prosedur resmi, kontrak kerja jelas, informasi pekerjaan transparan dan pekerja memperoleh akses perlindungan ketika menghadapi persoalan di negara tujuan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah PMI yang berhasil diberangkatkan. Ukuran lainnya adalah kesesuaian pekerjaan dengan kompetensi, kepastian hak pekerja, kondisi kerja, upah, keselamatan, serta kemampuan negara memberikan perlindungan ketika terjadi perselisihan atau persoalan ketenagakerjaan.
Pelepasan PMI Sumatera Barat ke Malaysia dengan demikian menjadi bagian dari perubahan arah kebijakan penempatan pekerja migran Indonesia. Pemerintah mulai mendorong paradigma dari sekadar mengirim tenaga kerja menuju menyiapkan tenaga kerja terampil berdasarkan kebutuhan pasar global.
Program SMK Go Global akan menghadapi tantangan untuk memastikan target besar tersebut tidak berhenti pada angka penempatan. Kualitas pelatihan, keterhubungan dengan kebutuhan industri, sertifikasi kompetensi, transparansi proses rekrutmen dan pelindungan setelah pekerja berada di negara tujuan akan menjadi bagian penting dalam menentukan keberlanjutan program.
Dari Padang, pelepasan peserta ke Malaysia menjadi langkah awal dari agenda yang jauh lebih besar. Pemerintah menargetkan ratusan ribu calon PMI terampil hingga 2029, sementara negara-negara tujuan terus membuka peluang bagi tenaga kerja dengan kompetensi tertentu. Tantangannya adalah memastikan setiap peluang kerja internasional benar-benar menjadi jalan peningkatan kesejahteraan pekerja, bukan sekadar peningkatan statistik penempatan PMI.
Leave a Reply